Selain Laut, Pencarian Korban Lion Air Dilakukan di Darat

Selain Laut, Pencarian Korban Lion Air Dilakukan di Darat
Petugas Basarnas mengevakuasi puing-puing pesawat Lion Air bernomor registrasi PK-LQP dengan nomor penerbangan JT 610 ke Kapal KN Sar Sadewa, di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat, Sabtu, 3 November 2018 | Antara/BBC

KBA.ONE, Jakarta - Tim SAR Gabungan tidak hanya melakukan pencarian di perairan pada hari ketujuh operasi pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air JT610, tapi juga penyisiran di pantai untuk memperluas pencarian. Hal ini dilakukan berdasarkan laporan nelayan dan relawan yang menemukan serpihan pesawat di pesisir pantai.

Kepala Basarnas Marsekal Madya Muhammad Syaugi mengungkapkan sehari sebelumnya tim gabungan menemukan banyak potongan tubuh dan bagian pesawat di pantai Tanjung Pakis, tak jauh dari lokasi jatuhnya pesawat tersebut. "Tadi malam kita dapatkan banyak kantong jenazah dari Tanjung Pakis, jadi yang akan kita lakukan adalah ktia menyisir pantai di Tanjung Pakis, baik ke barat maupun ke timur, untuk menyapu pantai," ujar Syaugi dalam konferensi pers, Minggu siang, 4 November 2018. "Mudah-mudahan kalau memang ada korban-korban tersebut, bisa kita ambil dan serahkan ke RS Polri," imbuhnya.

Berdasarkan penyisiran di pantai sehari sebelumnya, tim SAR gabungan menemukan banyak kantong jenazah berisi potongan tubuh korban dan serpihan pesawat. Termasuk properti berupa dompet dan buku tabungan. Temuan membuat tim lebih fokus di darat. Sehingga hari ini pencarian di darat diperluas.

Sehari sebelumnya, tim SAR gabungan menemukan 32 kantong berisi bagian tubuh korban, sebagian besar ditemukan di pesisir pantai. Sehingga secara keseluruhan, 105 kantong sudah berhasil ditemukan. Saat ini sedang dilaksanakan pemeriksaan terhadap kantong jenazah yang semalam dikirimkan.

Wakil Kepala Rumah Sakit Polri Kombes Hariyanto menjelaskan tim Identifikasi Korban Bencana Kepolisian Republik Indonesia (DVI Polri) telah menerima 255 data antemortem untuk identifikasi korban. "Dari 255 ini mengerucut ada 183 yang diambil DNA-nya. Kenapa ada selisih karena ada beberapa penumpang yang satu keluarga, jadi antemortem-nya hanya satu," paparnya.

Seperti diberitakan, terdapat 189 penumpang dan awak di pesawat naas itu, termasuk satu anak dan dua balita. Adapun pada hari ketujuh operasi pencarian pesawat JT 610 yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, badan pesawat belum ditemukan. Sementara itu, remote operated vehicle (ROV) diterjunkan untuk mencari data rekaman percakapan kokpit (CVR) yang sinyalnya semakin melemah.

Muhammad Syaugi mengungkapkan hingga kini tim SAR Gabungan baru menemukan roda, mesin dan kulit badan pesawat. "Sementara, badan pesawat hingga kini belum ditemukan. Sampai saat ini belum ditemukan, yang ditemukan hanyalah kulit dari bodi pesawat," ujar Syaugi.

Untuk melakukan pencarian, tim SAR gabungan menerjunkan ROV dengan radius 250 km dari titik bagian-bagian badan pesawat itu ditemukan. "Di radius itu kita belum menemukan, yang kita temukan hanya skin. Kalau serpihan cukup banyak," cetusnya.

Selain itu, tim SAR gabungan juga masih terus melakukan pencarian data rekaman percakapan kokpit, atau cockpit voice recorder (CVR) di titik sinyal lemah alat itu terdeteksi. "Ping sudah ditelusuri dengan penyelam-penyelam gabungan, sudah dituju tempat itu ada di barat laut dari pusat besarnya bagian-bagian pesawat jarak 50 meter, belum ditemukan secara fisik," kata dia.

Kendala pencarian CVR, kata Syaugi, lantaran alat itu tertimbun lumpur sedalam lebih dari 1,5 meter. "Lumpur yang ada di situ, kalau ditusuk pakai besi, sampai dalam," ujarnya. Untuk itu, tim SAR gabungan mengintensifkan penggunaan ROV untuk memastikan keberadaan alat itu di radius sinyal terdeteksi. "Setelah temukan tanda-tanda baru lakukan penyelaman oleh tim SAR Gabungan."

Komentar

Loading...