Senja di Rumoh Seujahtera Geunaseh Sayang

Senja di Rumoh Seujahtera Geunaseh Sayang
Para lansia penghuni Panti RSGS menunggu waktu berbuka di depan wisma masing-masing, Sabtu 9 Juni 2018. Foto: Kba/Biyan Nyak Jeumpa.

KBA.ONE, Banda Aceh - Siang lumayan panas. Suhu udara memuncak 31 hingga 33 derajat celcius. Alhasil, tak seorangpun tampak berada di luar ruangan, apalagi umat islam sedang menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan, tak terkecuali mereka para lansia.

Menggunakan kertas karton bekas, Kek Juned, 70 tahun, mengipaskan badannya yang tertutup kaos tanpa lengan, menghilangkan gerah yang dirasa. Siaran berita di layar televisi 21 inchi, membuat pria tersebut fokus pada layar kaca berjarak 5 meter di depannya, tanpa menghiraukan suasana di sekitarnya.

“Panas sekali hari ini, jadi ya saya duduk-duduk saja di dalam. Kawan lain, ada yang tidur ada juga yang sedang ke pasar, cari silop (sandal) hari raya,” ucap Kek Juned sambil tersenyum.

Kek Juned, 70 tahun, penghuni RSGS.

Kek Juned sendiri mengaku belum tahu apakah akan merayakan hari raya di tempatnya kini berada, atau pulang ke kampung halaman walau hanya sebentar. Inilah gambaran di Rumoh Seujahtera Geunaseh Sayang (RSGS), sebuah rumah atau sering disebut panti, tempat menampung mereka yang telah lanjut usia akibat para lansia dengan kondisi terlantar. Kek Juned tidak sendiri menetap di RSGS. Ia menetap bersama 55 lansia lainnya.

Ditemani Dara, relawan RSGS, KBA.ONE berkesempatan berkeliling di panti yang memiliki 10 wisma ini. Setiap wisma yang diberi nama-nama bunga, dihuni 6 sampai 8 orang penghuni. Delapan Wisma di RSGS diperuntukkan lansia perempuan, sedangkan 2 wisma lain diperuntukkan lansia laki-laki.

Lingkungan wisma yang bersih membuat pemandangan wisma bertambah enak dipandang mata. Apalagi RSGS ini dilengkapi klinik kesehatan dengan petugas siaga 24 jam untuk menangani penghuni wisma yang mengalami gangguan kesehatan.

“Di klinik ada dokter dan 3 paramedis. Satu petugas bersiaga 24 jam di sini, karena mungkin saja satu di antara para lansia tiba-tiba mengalami ganguan kesehatan,” jelas Dara.

Ada sedikit perbedaan kegiatan para lansia di RSGS sepanjang Ramadan. Setiap harinya para lansia mendapat siraman rohani alias ceramah agama usai salat berjamah, terutama usai salat zuhur dan usai salat isya.

“Ada banyak penceramah disediakan untuk memberikan pelajaran agama selama Ramadan ini. Selain ceramah, para lansia ini juga bisa bertanya apapun dengan para ustad, sehingga benar-benar bisa menunaikan niatnya untuk beribadah,” jelas Dara.

Panti Lansia UPTD Rumah Seujahtera Geunaseh Sayang didirikan tahun 1978 oleh pemerintah. Kepala UPTD Rumah Seujahtera Geunaseh Sayang, Intan Melya, mengatakan keberadaan panti merupakan wujud tanggung jawab pemerintah memelihara para lansia yang terlantar dan tak punya keluarga. Ini sesuai amanat undang-undang dasar 1945.

Panti RSGS berkapasitas 70 orang dan kini hanya memiliki penghuni sebanyak 56 orang. Petugas di sini ada 44 orang terdiri dari 19 orang berstatus pegawai negeri sipil dan 25 orang berstatus kontrak. “Sebagian petugas tinggal di rumah dinas yang ada di sini, termasuk petugas medis,” ujar Intan.

Jumlah penghuni panti, sebut Intan, memang berkurang karena ada yang sudah meninggal dunia. “Semua orang di sini sangat senang jika ada yang berkunjung. Mereka membutuhkan anggota keluarga atau orang-orang yang memperhatikannya. Tak perlu membawa hadiah,” ujar Intan.

Berbagai latar belakang menjadi penyebab para penghuni panti untuk memutuskan tinggal di panti. “Ada yang memang terlantar, kita temukan di jalan, ada juga yang tinggal sebatang kara tak punya sanak saudara. Tapi,  ada juga yang dititipkan oleh anak mereka karena anak-anak merasa tidak mampu merawat orangtuanya. Mungkin karena keterbatasan. Mereka berasal dari berbagai daerah di Aceh,” jelas Intan.

Suasana di Komplek Panti RSGS. Foto: Kba/Biyan Nyak Jeumpa.

Suasana ramai di panti terlihat saat waktu salat berjamaah tiba. Para nenek dan kakek ini memang sudah mentasbihkan hidup mereka dihabiskan untuk ibadah, makanya saat salat tiba mereka beramai-ramai ke musala. Apalagi bulan Ramadan ini ada ceramah. Inilah yang membuat mereka merasa senang dan bahagia,” ujar Intan Melya.

Fajar syawal segera tiba. Semua penghuni di RSGS tampak tekun berdoa seiring Ramadan yang segera berakhir. Saat usia kian senja, para penghuni pun turut berharap mewujudkan asa yang belum terwujud, termasuk asa bertemu Ramadan tahun depan.

Kontributor: Biyan Nyak Jeumpa

Komentar

Loading...