Sering Dimarahi, Ridwan Mendendam kepada Keluarga Tjie Sun

Sering Dimarahi, Ridwan Mendendam kepada Keluarga Tjie Sun
Kepala Satreskrim Polres Banda Aceh AKP M Taufik mengawasi pemindahan Ridwan, tersangka pembunuhan satu keluara di Gampong Mulia, Banda Aceh. Foto: KBA/Nur Nisa.

Ridwan tertangkap saat petugas menemukannya kebingungan di dalam Bandara Kuala Namu.

KBA.ONE, Banda Aceh – Azan Asar berkumandang saat empat kendaraan polisi masuk ke halaman kantor Kepolisian Resor Banda Aceh. Dua kendaraan berhenti di depan dua kendaraan lainnya langsung ke halaman belakang.

Sejumlah wartawan yang bersiap menunggu kehadiran Ridwan alias Iwan, tersangka pembunuhan satu keluarga di Gampong Mulia, Kecamatan Kuta Alam, Banda Aceh, kecele karena menyangka Iwan akan turun dari kendaraan itu.

Dari dua kendaraan itu, turun Kepala Polres Banda Aceh Komisaris Besar Polisi T Saladin dan sejumlah petinggi Kepolisian Daerah Aceh. Mereka bergegas ke halaman belakang kantor, tempat kendaraan yang membawa Ridwan berhenti.

“Pakaikan sebo, ya,” kata Saladin kepada anak buahnya sebelum membawa Ridwan masuk ruang konferensi pers, Kamis, 11 Januari 2018. Kedua tangan Ridwan diborgol di belakang.

Ridwan diterbangkan dari Bandara Kuala Namun dengan Citylink. Kedatangannya di Sultan Iskandar Muda terlambat beberapa jam karena penundaan keberangkatan. Kemarin malam, setelah ditangkap di Kuala Namu, Ridwan dan seorang rekannya “menginap” di kantor Polda Sumut.

Kepala Bidang Humas Polda Aceh Kombes Pol Misbahul Munauwar mengatakan Ridwan mendendam kepada Tjie Sun. Ridwan sering dimarahi oleh korban yang mempekerjakannya sebagai sopir. Puncaknya, Jumat sore pekan lalu. Dia nekat menghabisi keluarga itu dengan cara yang sadis. Sehari-hari, Ridwan bekerja mengantarkan barang ke toko kelontong. Dia dipekerjakan di rumah itu sejak tiga bulan lalu.

“Pelaku awalnya menghabisi Asun (suami), kemudian dia menghabisi Minarti (istri), lalu yang terakhir dia menghabisi anaknya,” kata Misbahul. “Belum diketahui pasti apakah pelaku melakukan tindak kriminal itu di bawah pengaruh obat-obatan, karena masih berupa keterangan secara lisan.”

Seusai menuntaskan dendamnya, Ridwan kabur membawa motor Scoopy dan iPhone korban ke rumahnya, di Krueng Sabee, Aceh Jaya. Setelah itu di melanjutkan pelarian ke Aceh Barat Daya dan kemarin, berada di Bandara Kuala Namu. Dia berniat untuk meninggalkan daerah itu. Saat diciduk, Ridwan belum memiliki tujuan dan tidak memiliki tiket.

Namun polisi yang terus memantau keberadaan pelaku akhirnya menemukan Ridwan dan seorang rekannya mondar-mandir di dalam bandara. “Sampai saat ini, tidak ada indikasi (pembunuhan)itu adalah tindakan terencana,” kata Misbah.

Kontributor Nur Nisa

Komentar

Loading...