Setelah Klan Firmandez Tak Menghuni Rumah Saudagar

Setelah Klan Firmandez Tak Menghuni Rumah Saudagar
Ilustrasi |kompas.com

Inilah titik nadir dari sebuah perlakuan zaman yang ingin berubah. Bentuk perkongsian jahat tak cocok lagi dengan kemajuan teknologi yang semakin membelalakkan mata kaum saudagar.

PERSEKONGKOLAN tak sehat yang dipertontonkan klan sedarah selama belasan tahun di tubuh Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aceh, pupus sudah ceritanya. Nada serta mood sumbang dan sombong dari para peseteru ditutup begitu manis di paruh waktu 2019.

Bahkan, upaya “klandestein” ingin mempertahankan pondasi “monarki” di lembaga saudagar paling bergengsi itu amblas setelah kaum pembaru “berjihad” meyakinkan semua stakeholder dan Kadin Pusat untuk mengukuhkan Makmur Budiman sebagai Ketua Kadin Aceh Periode 2019-2024.

Inilah titik nadir dari sebuah perlakuan zaman yang ingin berubah. Bentuk perkongsian jahat tak cocok lagi dengan kemajuan teknologi yang semakin membelalakkan mata kaum saudagar. Kerja keras, lalu bercita-cita meniupkan kembali roh kejayaan kaum saudagar Aceh di masa lalu, adalah langkah kunci bagi kaum pembaru.

Apalagi tekad kaum pengusaha Aceh ini seirama dengan hasrat Nova Iriansyah, Plt Gubernur Aceh. Ketika membuka Musyawarah Provinsi (Musprov) VI di Anjong Monmata, Selasa malam, 18 Juni 2019, Nova menukil kembali kisah kejayaan Aceh di abad silam.

“Aceh pernah menjadi salah satu poros ekonomi dunia yang dengan kekuatan ekonominya (dan kebudayaan) menjadikan Aceh sebagai salah satu kerajaan terhebat di dunia pada masanya. Momentum ini harus bisa menjadi tonggak bangkitnya Saudagar Aceh dalam mengembalikan kejayaan ekonomi Aceh.”

Nova bilang sejarah meningkatkan kepercayaan diri  bahwa Aceh pernah jaya dan pernah hebat. Karena itu, tidak terlalu sulit jika kita ingin meraih kembali posisi tersebut. “Syaratnya, hanya dengan melaksanakan sebab-sebab terwujudnya kejayaan maka sejarah akan berulang," pinta Nova.

Ya, tiga tahun belakangan, perkembangan ekonomi Aceh memang menunjukkan pergerakan signifikan. Pertumbuhan ekonomi mengalami percepatan. Tingkat kemiskinan dan pengangguran juga terus melorot. Tapi, masih ada sebuah tantangan yang harus dihempang, yaitu defisit perdagangan dan rendahnya kontribusi sektor industri pengolahan. 

Di sinilah sindikasi kaum saudagar Aceh diuji untuk memulihkan ketimpangan itu. Kadin Aceh telah lama terjerembab dalam lembah permainan klan sedarah yang kotor dan berlumpur. Gerakan klandestin ini tak cuma melumpuhkan organ organisasi Kadin, tapi mematikan peluang bisnis para saudagar di luar trah; sekelompok individu yang saling memiliki hubungan kekerabatan (silsilah) satu-sama lain.

Kini, trah sudah berlalu dan klan pun sudah runtuh. Tapi, ini bukan berarti mematikan gen trah dan klan gaya baru jika pembiaran terhadap cita-cita bersama kaum saudagar Aceh terjadi secara massif jua. Karena, kerja kaum pembaru baru saja dimulai. Tantangan menganga di depan mata.

Syahdan, tumpuan harapan dan keinginan kaum saudagar Aceh untuk me-Makmur-kan rumahnya adalah menjadi tugas berat Makmur Budiman CS. Agar cerita kelam Kadin Aceh bersama klan Firmandez tak berulang lagi di lain hari. Karena, Makmur dan kawan-kawan kaum pembaru, juga punya klan dan trah yang tak kalah hebat. Semoga Kadin Aceh kelak tak cuma bertukar klan. Selamat bekerja dan berkarya, Bro! ***

   

Komentar

Loading...