Si Mohawk Penebar Benih di Hutan Aceh

Si Mohawk Penebar Benih di Hutan Aceh
Kedih di Ketambe. Foto: Romi Ketambe.

Oleh Azhar*

KEDIH (presbytis thomasi) adalah salah satu jenis primata yang hanya hidup di hutan Aceh. Kedih merupakan nama yang ditabalkan oleh suku Alas yang menetap di pedalaman Aceh. Primata ini berwajah lucu, imut. Ciri utamanya: berambut mohawk, mirip musisi punk atau pemain bola.

Ciri lain yang cukup mencolok dari primata ini adalah pipi dan kening putih, dagu putih serta rambut kelabu tua keperak-perakan pada bagian punggung (dorsal). Sedangkan pada bagian dada dan perut (vorsal) berwarna putih, kaki dan tangan berwarna hitam dan sisi ekor berwarna putih (Wilson dan Wilson, 1976).

Populasi primata ini menyebar merata hampir di semua tipe hutan di Aceh, di hutan primer dan sekunder. Tak jarang hewan ini terlihat di perkebunan buah-buahan di pinggiran hutan. Terutama di Aceh Tenggara, Aceh Barat dan Aceh Timur. Primata ini juga bisa dilihat di kawasan Ujung Pancu, Aceh Besar, yang hanya berjarak sekitar 8 kilometer dari Banda Aceh.

Kedih adalah hewan yang hidup berkelompok dengan jumlah yang bervariasi. Kelompok biasanya terdiri dari satu jantan dengan tujuh betina dan keturunan. Ukurannya berkisar antara dua sampai 16 individu. Mereka hidup berkelompok untuk menghindari predator.

Suara lantang kedih

Kedih di Ketambe. Foto: Romi


Ketika kita memasuki kawasan hutan Aceh, sering terkadang mendengar suara keras dari dalam hutan. Suara ini bersahut-sahutan, biasanya di malam hari. Ini adalah suara dari kedih. Ini adalah panggilan untuk mengumpulkan anggotanya setelah mereka menjelajah area hutan.

Kedih memiliki 13 suara untuk berkomunikasi, tiga suara utama di antaranya, panggilan suara terkeras (loud call). Panggilan ini terdengar dengan suara kak-kak-kak dan kung-kung-ngkung yang melengking; menggema di kawasan hutan. Nyanyian hutan ini bersahutan sebanyak 7 hingga 9 kali suara “kaks” dan terjadi 4 hingga 8 kali, panggilan ini dibunyikan oleh jantan alfa (dominan) dan terdengar selama hubungan antar kelompok (Kunkun, 1986).

Seruan ini juga untuk terdengar memberitahukan keberadaan predator potensial. Panggilan ini bisa jadi menunjukkan eksistensi ke grup lainnya atau untuk mengomunikasikan pertahanan teritorial. Panggilan ini disertai dengan gerakan cepat berlari dan melompat, vokalisasi ini juga disebut sebagai panggilan keras (loud call), durasi rata-rata panggilan ini adalah 3,85 detik (Steenbeek dan Assink, 1998).

Kedua panggilan ini terdengar dengan suara choom-choom-choom. Berbunyi seperti suara batuk keras. Seruan ini dipancarkan oleh jantan alfa (dominan) dan jarang dilakukan oleh jantan beta dan suara ini terdengar selama hubungan antarkelompok dan selama terjadi gangguan antarsatwa liar. Panggilan ini berfungsi untuk mengomunikasikan peringatan dan agresif (Kunkun, 1986).

Ketiga adalah panggilan dengan suara wek-wek-wek atau kek-kek-kek dan digambarkan sebagai suara mencicit yang mirip dengan suara mirip bebek. Seruan ini dipancarkan oleh jantan remaja dan terdengar selama hubungan antarkelompok. Ini adalah panggilan demonstrasi (Kunkun, 1986).

Bertahan hidup dari daun dan buah
Kedih adalah primata semi-arboreal dan aktif di siang hari. Aktivitas yang paling umum untuk spesies ini adalah beristirahat, diikuti dengan memberi makan dan kemudian bergerak. Ada tiga waktu kedih mememakan makanan utamanya, pertama di waktu pagi hari, kemudian siang hari dan sore hari (Kunkun, 1986).

Kedih merupakan spesies kombinasi antara folivora (pemakan daun) dan frugivora (pemakan buah). Namun kedih juga mengasup serangga, bunga, batang dan tanah. Buah-buahan yang dikonsumsi oleh spesies ini cenderung memiliki kadar asam tinggi, tidak berwarna, berukuran besar, dan memiliki kulit atau cangkang keras. Kedih cenderung mengonsumsi buah memiliki kadar asam tinggi, tidak berwarna, berukuran besar, dan memiliki kulit atau sekam keras (Ungar, 1995).

Untuk daun, kedih memakan hampir seluruh daun di hutan dengan memakan daun muda, pucuk batang daun dan tunas muda yang banyak sumber kambiumnya. Untuk buah yang dimakan oleh spesies ini meliputi tumbuhan akar tetubuh (Gnetum cf. Latifollum), stur padi stur gajah dan cempedak hutan (artocarpus cempedakan), hingga buah durian (durio zibethinus).

Sebagian konsumsi buah terdiri dari memakan biji buah-buahan yang kering, buah dan daun dengan kadar tanin tinggi berasa pahit dan kelat, yang berguna untuk menggumpalkan protein atau berbagai senyawa organik lainnya termasuk asam amino dan alkaloid.

Daun dan buah ini biasanya mengandung mikroba yang mampu memecah tanin (efek radikal beberapa antioksidan) dan berjenis polifenol; mencegah atau menetralisasi efek radikal bebas yang merusak dan menyatu sehingga mudah teroksidasi menjadi asam tanat. Asam tanat berfungsi membekukan protein yang berefek negatif pada mukosa lambung (Ungar, 1995).

Kedih juga menghindari buah-buahan dengan kandungan kaya gula yang memiliki tingkat keasaman yang rendah. Kandungan kaya gula ini untuk bisa membunuh mikroba dan meredam tingkat keasaman di perut kedih. Jika diamati, maka sumber bahan makanan primata kedih ini jika diteliti mungkin bisa menjadi sumber bagi obat-obatan herbal bagi manusia. Banyak kandungan bahan-bahan yang di makan kedih, dengan kajian yang tepat, dapat menjadi sumber obat bagi manusia di masa yang akan datang.

Kedih memiliki peran penting di alam liar Aceh, penyebar benih dan yang terpenting adalah seluruh masyarakat turut menjaga, tidak memburunya, hingga tidak memeliharanya di rumah-rumah hanya karena bentuknya yang lucu. Salah satu cara lain yang harus dilakukan adalah dengan tidak merusak hutan Aceh.

*) Penulis adalah pengamat satwaliar/aktivist lingkungan. Menetap di Banda Aceh. Dapat dihubungi di nomor telepon: 0812 69923974 atau email: azhar_ou@yahoo.com

Komentar

Loading...