Sistem Kesehatan Ambruk, Yaman Kian Kritis

Sistem Kesehatan Ambruk, Yaman Kian Kritis
Seorang anak penduduk Yaman saat cek kesehatan | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Yaman - Perang yang sudah berlangsung lebih dari tiga tahun di Yaman menyebabkan krisis besar-besaran. Melansir Aljazeera, PBB pernah menyebut Yaman sebagai negara dengan bencana kemanusiaan terburuk dalam catatan sejarah dunia.Krisis terjadi secara domino, dari keruntuhan ekonomi sampai membuat sistem kesehatan di Yaman ikut terpuruk. Rumah sakit di Yaman dikabarkan tidak memiliki persediaan obat-obatan dan peralatan medis yang tidak memadai. Padahal, tingkat kebutuhan atas penanganan medis di Yaman terbilang tinggi.

Kasus bayi kembar siam Abdelkhaleq dan Abdelkarim misalnya, meninggal dunia karena rumah sakit tidak mampu melakukan penanganan medis. Abdelkhaleq dan Abdelkarim wafat Minggu 10 Februari 2019, mereka lahir pada Rabu 6 Februari 2019. Empat hari mereka bertahan memperjuangkan hidupnya.

Bayi kembar siam, Abdelkhaleq dan Abdelkarim | Foto: ACTNews

Sebelum Khaleq dan Rahim meninggal, para dokter Yaman telah mengimbau PBB untuk membantu tangani kasus bayi kembar siam itu. Menurut saksi para dokter, kondisi Khaleq dan Rahim dalam kondisi fatal, sebab mereka hanya memiliki satu hati, dua ginjal, dua kaki, dan dua lengan.

“Saya harap mereka dapat dirujuk ke luar negeri secepat mungkin,” kata dr. Faisal al-Babili, Kepala Departemen Pediatri di Rumah Sakit al-Thawara

Babili juga menjelaskan, paramedis di Yaman tidak bisa melakukan penanganan, bahkan tes diagnostik dasar seperti pemindaian MRI pun tak bisa. “Ujungnya kami juga tidak memiliki kemampuan untuk memisahkan mereka,” tambahnya.

Sayangnya, beberapa infrastruktur di Yaman juga hancur karena perang, salah satunya bandar udara di Sana’a. Penerbangan telah dilarang dari Bandara Sana’a oleh salah satu pihak koalisi yang berperang. Khaleq dan Rahim pun tak mendapat penanganan lebih lanjut, dan meninggal dunia.

Muncul wabah penyakit baru

Sistem kesehatan kian terpuruk, namun muncul penyakit-penyakit baru yang menambah kesulitan jutaan warga Yaman. Di saat mereka masih bergelut dengan kasus epidemi kolera dan malnutrisi, Januari kemarin penduduk Yaman juga dikabarkan terinfeksi virus H1N1 atau Flu Babi.

Melansir rilis dari Mint Press News yang terbit pada akhir Januari lalu, Juru Bicara Kementerian Kesehatan Yaman Yousef al-Hathari mengatakan, ada 418 kasus Flu Babi yang tersebar di Provinsi Sana’a dan Yaman Utara. Sebanyak 86 di antaranya dikabarkan meninggal dunia karena tidak mendapat penanganan medis.

“Pusat kesehatan di Provinsi Amran dan Ibb juga menerima 46 kasus Flu Babi, 11 di antaranya meninggal dunia. Artinya kemungkinan virus sudah menyebar ke seluruh wilayah,” jelas Yousef.

Lebih buruk lagi, rumah sakit di Yaman tak memiliki obat yang dapat menyembuhkan dan pencegahan penyebaran virus. Kasus Flu Babi yang seharusnya bisa diobati, justru membuat pasien dalam kondisi kritis dan menghadapi kematian. Kemenkes Yaman memperkirakan, 80 dari mereka yang terinfeksi H1N1 meninggal karena tidak mendapat penanganan.

Di samping mewabahnya berbagai penyakit di Yaman, krisis pangan pun belum mereda. Reliefweb memaparkan data, jumlah penduduk Yaman yang kelaparan mencapai 17,8 juta jiwa pada Desember 2017. Tanpa dukungan layanan medis yang memadai, warga Yaman kian tersudut di ambang krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Komentar

Loading...