Terpikat Nugget Bandeng Meunasah Drang  

KBA.ONE, Aceh Utara – Lelaki 46 tahun itu bernama Heriyanto. Mengenakan kemeja kotak-kotak lengan pendek, dibalut celemek dan memegang scraf, dia tampak terlatih dan sabar mementori ibu-ibu cara mengolah ikan bandeng menjadi kerupuk gurih dan nugget bercitarasa tinggi.

Heri, begitu dia biasa disapa, adalah warga Meunasah Drang, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Jika suatu ketika Anda mampir ke desa itu, dari kejauhan, aroma khas kerupuk dan nugget ikan bandeng sudah menyebar hingga pelosok kampung.

Inilah industri rumahan berdinding kayu, beralas semen halus, dan berdapur ukuran 3x5 meter yang terus dikembangkan Heri bersama sejumlah ibu-ibu di desa. Meski tanpa bantuan pemerintah, semangat Heri tetap membaja.  

Dia telah lama menggeluti industri rumahan itu. Orang-orang di Aceh Utara hampir rata mengenal dan pernah mencicipi produk buatan lelaki plontos dan berkaca mata ini. Apalagi kerupuk dan nugget ikan bandeng buatan Heri sudah menembus pasar antero Aceh Utara.

“Banyak yang tidak bisa mengolah ikan Bandeng secara maksimal. Karena di sini banyak ikan Bandeng, maka saya coba untuk membuatnya menjadi kerupuk dan nugget,” kata pria yang sudah 10 tahun menggeluti usaha tersebut.

Ahad kemarin, 10 Maret 2019, KBA.ONE menyambangi industri rumahan milik Heri. Meski saat itu cuaca terik dan menyengat, sejumlah ibu-ibu desa tampak bersemangat belajar mengolah ikan bandeng menjadi kerupuk dan nugget di dapur mungil milik Heri. 

Dengan penuh kesabaran, ibu-ibu itu mulai membersihkan tulang-tulang ikan bandeng, menghancurkan dagingnya, mencampurkan adonan, hingga mengukusnya. Kira-kira 15 menit, proses pengolahan ikan bandeng menjadi kerupuk dan nuget pun tuntas.

Sebelumnya, para ibu-ibu ini menganggur dan tidak memiliki pekerjaan sampingan. Tapi, setelah tiga bulan dilatih oleh Heriyanto, kini para ibu-ibu ini siap mengembangkan ekonomi keluarga dan membantu suami mencari nafkah.

“Ya, daripada mereka menganggur, lebih baik saya berikan ilmu yang bisa digunakan untuk mencari nafkah,” pungkas ayah dari tiga orang anak ini.

Sembari menyajikan nugget sebagai tester, Heri mulai sedikit terbuka menceritakan pengalaman hidupnya kepada KBA.ONE  bagaimana awalnya ia terpikat membangun usahanya itu. “Awalnya modal nekat saja karena belajar tanpa guru,” kata Heri.

Tapi, sarjana gizi jebolan Universitas Indonesia ini tak menyerah. Heri terus bersemangat mempelajari resep secara teliti dan otodidak dari youtube juga buku-buku resep masakan. Apalagi dia mendapat dukungan penuh dari Mursyidah, istrinya, dan ketiga anaknya.

“Beberapa kali sempat gagal, anak dan istri saya selalu memberikan semangat agar saya terus mencoba sampai resep ini berhasil. Kadang anak saya yang bungsu sering bilang kalau nugget buatan ayahnya paling enak sedunia, walaupun rasanya saat itu sangat kacau,” ucap Heri sembari tertawa.

Nugget buatan Heri dibanderol dengan harga Rp100 ribu per kilogram, sementara kerupuk dijual Rp10 ribu perbungkus dengan berat 250 gram. Dari hasil ini penjualan kerupuk ini Heri bisa memperoleh keuntungan sekitar Rp5 juta perbulan. “Kalau nugget usaha bersama dengan ibu-ibu, tapi kalau kerupuk itu usaha mandiri saya,” pungkasnya.

Setiap bahan yang digunakan merupakan pilihan yang terbaik. Selain itu, pengusaha kecil ini juga menghindari penggunaan MSG dan pewarna makanan.  Agar olahan miliknya bisa dikonsumsi segala usia dan aman bagi tubuh.

Kerupuk hasil kerajinan Heri memiliki daya tahan hingga 6 bulan,  sedangkan nugget hanya bisa bertahan selama satu bulan di dalam freezer karena tidak menggunakan pengawet.

“Lewat satu bulan rasanya akan berubah. Walau usaha kami masih kecil, saya sudah membuat tanggal expired di kemasan, karena menurut saya itu sangat penting,” jawab Heri ketika melihat banyaknya makanan yang beredar dipasaran tanpa memiliki waktu kadaluwarsa.

Heri mengaku kelompok usaha yang dibangunnya itu belum memiliki modal yang cukup untuk mengolah nugget setiap hari. Modal yang dimiliki hanya mampu untuk membuat nugget 30 kg setiap bulannya. Padahal, permintaan pasar cukup tinggi.

“Modalnya harus dibagi-bagi. Seandainya ada modal tambahan, kami pasti bisa memproduksi lebih banyak nugget dan kreasi ikan bandeng lebih banyak lagi,” harapnya.

Heri bercerita lima bulan lalu masih aktif menjadi guru di Madrasah ALiyah Negeri (MAN) di Muara Batu. Tapi, karena ingin fokus mengembangkan usaha kuliner miliknya, Heripun mengundurkan diri dari pekerjaan yang sudah ditekuni selama 6 tahun itu.

“Jiwa saya memang pedagang, saya sangat suka memasak. Walau keuntungannya tidak seberapa, saat memasak itu saya merasa senang. Semoga saya bisa terus membagikan ilmu kepada masyarakat agar roda ekonomi kita meningkat,” tutup Heriyanto. ***

Komentar

Loading...