Undangan Polisi Bikin Resah UKM di Sumut

Undangan Polisi Bikin Resah UKM di Sumut
Ilustrasi | Kompas.Com

"...Kalau sudah masuk kantor polisi itu ada saja alasannya. Dulu sudah pernah sekali dipanggil, sekira 6 tahun lalu. Mereka (Polisi, Red) tanya dan menurut kami cari-cari kesalahan. Kita dimintai keterangan dari pagi sampai malam,” kenang Hendrik.

KBA.ONE, Medan - Undangan klarifikasi tentang perizinan usaha dari polisi menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) legislatif dan presiden April mendatang meresahkan puluhan pelaku usaha kecil menengah (UKM) di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara. 

"Saya tidak habis pikir. Pileg dan Pilpres semakin dekat, mestinya aparat memberikan rasa aman kepada pengusaha dan masyarakat, tapi ini justru bertindak sebaliknya. Mengundang pelaku UKM dengan alasan klarifikasi perizinan telah menimbulkan suasana yang tidak kondusif," kata Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman, kepada wartawan di Medan, Sabtu 2 Maret 2019

Keresahan itu terungkap pada pertemuan pengusaha dengan pengurus Forum Daerah Usaha Kecil dan Menengah (Forda UKM) Sumut, dihadiri Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman, Sekretaris, Chairil Huda, Nurhalim Tanjung dan Penasehat Forda UKM, Lie Ho Pheng di Medan, Jumat malam 1 Maret 2019.

Puluhan pengusaha yang hadir dari kalangan pelaku usaha makanan ringan, peternak ayam dan pengorek tanah galong itu mengaku tidak nyaman, bahkan merasa resah, akibat pemanggilan dengan dalih "undangan" yang disampaikan pihak kepolisian. 

Surat panggilan dari polisi untuk salah satu pengusaha UKM di Sumut. | Foto: Dok Forda UKM Sumut.

Hendrik, salah seorang peternak ayam, mengaku sudah dua kali menerima surat undangan klarifikasi dari Polresta Serdang Bedagai. Dalam surat klarifikasi yang ditandatangi Kepala Kepolisian Resort Serdang Bedagai, disebutkan rujukan klarifikasi tersebut berdasarkan Undang-undang No 32 tahun 2009 tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan. 

Dia menyebutkan, kedatangan surat undangan tersebut membuatnya resah dan trauma. Bagaimana tidak, Hendrik mengaku pernah mengalami kejadian serupa sekira enam tahun silam. Saat itu, dia diminta klarifikasi oleh Polsek terkait izin-izin usahanya.

“Adanya panggilan ini kami jadi resah, sudah tau lah apa tujuannya. Kalau sudah masuk kantor polisi itu ada saja alasannya. Dulu sudah pernah sekali dipanggil, sekira 6 tahun yang lalu. Mereka (Polisi, Red) tanya dan menurut kami cari-cari kesalahan. Itu kita dimintai keterangan dari pagi sampai malam,” kenang Hendrik, mengisahkan pengalaman traumatik enam tahun silam.

Padahal saat itu, akunya, izin-izin yang dipertanyakan tersebut masih dalam tahap pengurusan. Namun tetap saja mereka tidak mau tahu. “Ujung-ujungnya minta sejumlah duit juga, dan mau tak mau harus dikasih,” sebutnya.

Selain Hendrik, masih ada sejumlah pelaku usaha lain mengalami keresehan serupa. Para peternak ayam ini mendapat undangan klarifikasi dalam waktu yang berdekatan. Keresahan ini semakin menjadi-jadi, di tengah kondisi ekonomi sedang lesu.

“Pelaku usaha pada posisi lagi sulit,” keluhnya. Dia berharap adanya dukungan kenyaman dalam berusaha. Dia juga meminta Presiden RI, Joko Widodo, untuk memberi perhatian terhadap para pelaku UKM yang saat ini merasa tertekan.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Forda UKM Sumut, Sri Wahyuni Nukman, mengatakan pihaknya tetap mengakomodir apapun permasalahan yang dialami pelaku usaha. Selama tidak ditemukan kesalahan fatal di pihak pengusaha.

"Kita akan terus berupaya maksimal membantu mencarikan solusi terbaik hingga tuntas. Kasihan pelaku usaha kalau tidak tenang menjalankan bisnisnya dalam situasi sekarang ini," ujarnya.

Sri Wahyuni menyebutkan adanya tindakan oknum terhadap pelaku UKM yang menimbulkan rasa tidak nyaman dalam menjalankan usahanya, sangat bertentangan dengan semangat yang dikembangkan Presiden RI Joko Widodo. Sri meminta, aksi-aksi seperti sweeping oknum aparat ke pelaku usaha dengan modus undangan klarifikasi hendaknya tidak ada lagi.

“Kami meminta kepada aparat untuk selalu menjaga dan melindungi iklim usaha kita di Sumut,” imbau Sri Wahyuni. | LADHIBA, Kontributor Medan. 

Komentar

Loading...