Usaha Pengolahan Sampah di Aceh Barat Kesulitan Bahan Baku

Usaha Pengolahan Sampah di Aceh Barat Kesulitan Bahan Baku
Pekerja saat melakukan pencacahan bahan baku sampah plastik | Revina Rahayu

KBA.ONE, Aceh Barat – Industri pengolahan sampah menjadi bahan setengah jadi yang dirintis Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Kabel Sejahtera di Desa Kampung Belakang, Johan Pahlawan, kesulitan bahan baku. Ketua KSM Kabel Sejahtera Zulfahmi mengatakan, per bulan mereka membutuhkan empat ton sampah plastik untuk diolah menjadi cacahan plastik bernilai ekonomis.

Industri pengolahan sampah tersebut telah berjalan hampir dua tahun. Akibat minimnya pasokan bahan baku, KSM Kabel Sejahtera hanya mengolah seadanya. "Idealnya untuk kebutuhan bahan baku olahan empat hingga lima ton per bulannya. Karena keterbatasan pasokan bahan baku, hasil cacahan tidak sesuai target," ujar Zulfahmi. Kamis, 7 Februari 2019.

Selain bahan baku, industri yang dirintis masyarakat Kampung Belakang itu juga kesulitan dana. Efeknya, mereka tidak mampu membeli bahan baku dari luar Aceh Barat.

Selama beroperasi, usaha tersebut mendapatkan bantuan pemerintah. Prasarana bantuan pemerintah melalui dana APBN 2016 itu, memiliki kapasitas mesin produksi 100 Kg/jam, bahan baku yang bisa diolah seperti botol air mineral, kemasan air mineral serta plastik sejenisnya yang dijual masyarakat.

KSM Kabel Sejahtera menampung sampah plastik yang dijual oleh masyarakat seharga Rp2.500 per kilogram untuk jenis A3, kemudian setelah diolah menjadi bahan cacahan plastik dijual ke pasar pengumpul seharga Rp5.400 perkilonya.

Untuk jenis A1, lanjutnya, dibeli dengan harga Rp6.500 per kilogram dan mereka jual seharga Rp9.700-Rp10.500 per kilogram. “Sampah plastik A3 berupa kemasan air mineral yang belum dibersihkan, sementara plastik jenis A1 adalah sampah yang hanya tinggal dicacah,” jelasnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, usaha tersebut berawal dari suntikan dana desa yang memacu kreativitas masyarakat untuk mengembangkan usaha, kemudian terbentuk satu KSM yang beranggotakan sejumlah warga lokal desa untuk mengelola usaha itu.

Pihaknya juga mendorong desa lain, termasuk lembaga sekolah untuk mengelola sampah anorganik dengan menyediakan bank sampah, kemudian dijual kepada KSM Kabel Sejahtera dengan harga yang sesuai. “Kalau ada bank sampah khusus anorganik, lebih membantu kami dalam mendapatkan pasokan,” ujarnya.

Selain itu, usaha tersebut bisa menampung tenaga kerja lokal lebih banyak, jika sarana dan prasarana yang dibutuhkan lebih memadai. Sebab selama ini usaha desa tersebut hanya mempekerjakan satu orang sehingga produksi bahan baku juga masih terbatas.

“Kalau dulu ada tiga orang pekerja, karena minimnya pasokan dan dana. Sehingga mereka tak bisa kami gaji dengan layak, akhirnya mereka mengundurkan diri dan kini cuma tinggal satu orang,” sebutnya.

Zulfahmi menyampaikan, tidak semua sampah atau limbah bisa mereka olah karena mesin yang mereka miliki hanya untuk beberapa jenis limbah, karena itu tidak mudah mendapatkan pasokan bahan baku sampah plastik anorganik yang maksimal.

Mesinnya masih kurang memadai dan dananya juga sangat untuk biaya operasional. Mereka sudah mengajukan proposal kembali untuk penambahan mesin pencacah dan sedikit suntikan dana ke pemerintah daerah, namun sampai saat ini belum ada kabar kejelasannya.

“Kita harap pemerintah mau membantu usaha kami ini, sehingga kalau ini berjalan dengan baik juga bisa menjadi peluang kerja bagi anak-anak muda di desa ini,” harapnya.

Komentar

Loading...