Usai Gamifest, Aceh Tenggara Rencanakan Beberapa Zonasi

Usai Gamifest, Aceh Tenggara Rencanakan Beberapa Zonasi
Masjid Agung At-Taqwa Kutacane | Wikipedia

KBA.ONE, Aceh Tenggara - Setelah hajatan Gayo Alas Mountain International Festival atau Gamifest 2018 berakhir, Aceh Tenggara merencanakan menetapkan beberapa zonasi. "Walaupun Gamifest akan berakhir dua pekan mendatang, kegiatan serupa diupayakan berlanjut dan terus berinovasi sesuai karakteristik daerah. Program ini antara lain adalah ajang promosi wisata daerah," ujar Sekretaris Daerah Aceh Tenggara M Ridwan saat memimpin rapat koordinasi rencana pengembangan zonasi prioritas wisata di Aula Sekdakab Aceh Tenggara, Jumat pekan lalu, 9 November 2018.

Gamifest 2018 berlangsung sejak 14 September hingga 24 Nopermber 2018. Ada empat kabupaten terlibat di dalamnya yakni Aceh Tengah, Bener Meriah, Gayo Lues, dan Aceh Tenggara.

Gamifest erat kaitannya dengan pembangunan kepariwisataan, seni budaya, kehutanan, lingkungan hidup, dan pembangunan lainnya. Saat Gamifest digelar, Aceh Tenggara menyelenggarakan Festival Leuser yang diisi dengan pertunjukan tarian daerah seperti Saman, Meusekat, dan tarian lain dari 11 etnis yang ada di kabupaten tersebut.

Selain itu, bermacam perlombaan seperti marching band dan rebana sejak 26 hingga 31 Oktober 2018. Ada juga pelatihan sadar wisata bagi generasi muda. "Kini tinggal satu kegiatan lagi yang akan dilakukan pada 17 November yaitu adventure dengan sepeda motor," ujar Ridwan.

Aceh Tenggara, kata Ridwan, selain kaya seni budaya, peninggalan sejarah, kuliner, dan souvenir juga memiliki berbagai objek wisata, yang bisa menjadi modal sebagai daerah tujuan wisata. "Keberadaan hutan Taman Nasional Gunung Leuser yang mengapit Aceh Tenggara dikenal sangat kaya flora dan faunanya. Di tempat itu wisatawan mancanegara dan domestik kerap melakukan arung jeram dan menelusuri hutan dengan berjalan kaki. Semua ini sangat mendukung Aceh Tenggara menjadi daerah tujuan wisata di Aceh," ujarnya.

Selain itu, kata dia, mencermati lokasi dan kondisi Aceh Tenggara yang berada dekat Bukit Barisan, konsep pembangunan yang tepat diusung adalah agronomi. "Lebih spesifiknya ekowisata selain pertanian dan peternakan dengan tetap menjaga kelestarian alam dan lingkungan sebagai pembangunan berkelanjutan," ujar Ridwan.

Kini, Pemerintah Aceh Tenggara sedang mempersiapkan Rencana Tata Ruang Wilayah atau RTRW dan menyusun rencana kegiatan strategis untuk percepatan pembangunan serta ekonomi masyarakat. Rencananya, kata Ridwan, prioritas pengembangan zonasi meliputi zona wisata Ketambe di Kecamatan Ketambe, zona pemanfaatan hutan kemasyarakatan Bengkung di Kecamatan Babul Rahmah, zona pemanfaatan hutan kemasyarakatan Jambur Latong di Kecamatan Deleng Perkhison dan terakhir zona pembangunan budidaya ikan air tawar di Kecamatan Lawe Bulan. | Kontributor Aceh Tenggara, Mursal Gayo

Komentar

Loading...