Wangi Putik Pelacur dari Rumah Bordil

Wangi Putik Pelacur dari Rumah Bordil
Ilustrasi | Shutterstock

Di Lhokseumawe, bisnis seks sudah mekar sejak zaman konflik. Karena Lhokseumawe kota minyak dan gas. Ada “kelonggaran” di situ. Orang-orang asing lalu lalang. Dan mereka butuh seks.

PENGGEREBEKAN salon di Kota Lhokseumawe, Aceh, Selasa 25 Juni 2019, dan terjaringnya pekerja seks di bawah umur oleh polisi syariah, pastinya menjadi topik menarik di warung-warung kopi, perkantoran, bahkan bisa jadi di lingkungan dayah. Bukan tidak mungkin, hingga satu purnama ke depan, kaum santri juga membahas soal itu karena ini telah menampar muka para penjaga negeri Syariat Islam.

Di Aceh, juga di lingkungan masyarakat tertutup, apalagi kalangan santri, mendiskusikan soal seks terbuka adalah sesuatu yang dianggap “suci” meski tetap digemari. Karena seks adalah kebutuhan asasi manusia. Tanpa seks, kehidupan ini kosong; tak bergairah, dan tak memiliki daya hentak. Seks merupakan simbol motivasi terbesar pada abad ini dan abad berabad sebelum kita ada.

Di Lhokseumawe, bisnis seks sudah mekar sejak zaman konflik. Di era 1990-an, para induk semang pelacur melihat seks sebagai peluang bisnis paling seksi. Germo-germo itu tak peduli bahwa praktik ini adalah sebuah kejahatan purba dan dosa besar. Karena Lhokseumawe kota minyak dan gas. Ada “kelonggaran” di situ. Orang-orang asing lalu lalang. Dan mereka butuh seks.

Kini, setelah musim politik berganti, bisnis pelacuran hidup lagi. Jika dulu penyedia layanan seks masih “manual”, sekarang bisa langsung bertransaksi hanya dengan satu klik dari layar telepon pintar Anda. Akses birahi itu disuguhkan secara maya di jejaring sosial Instagram, WhatsApp, Facebook, Telegram, Twitter, atau jasa layanan elektronik lainnya.

Beberapa rumah kecantikan, salon, kafe-kafe, ruang karaoke, resto, rumah kost, losmen dan hotel, cuma dijadikan pembungkus bisnis seks saja. Realitanya, di tempat itu, para penikmat tetap ingin memverifikasi keaslian wajah dan penampilan sang “model”—bahkan bau tubuhnya—lewat pertemuan virtual setelah “berakad” di layanan maya. Mereka tak bakal mau seperti membeli kucing dalam karung.

Yang bikin kaget, praktik pelacuran di Aceh tak cuma menawarkan pasangan beda kelamin, tapi juga pasangan satu jenis kelamin. Ini bisa dilihat ketika kaum LGBT (lesbian, gay, biseks, dan transgender) beberapa kali terjaring operasi polisi syariah. Para penikmat seks sejenis ini, rupanya, punya pasar dan sensasi berbeda.  

Semua bermuara pada uang. Dan uanglah yang berkuasa atas diri para mucikari beserta anak-anak asuhnya. Sebaliknya, napsu dan keserakahan birahi tak sanggup lagi dikendalikan oleh kaum penikmat seks tertutup beda jenis dan satu jenis; bisa jadi politikus, pejabat, pengusaha, polisi, jaksa, tentara, wartawan, cerdik cendekia, bahkan ahli agama. Siapapun mereka, dunia pelacuran telah mempertemukan dan mempererat keduanya dalam kesialan hidup.

Kita menaruh asa besar di pundak polisi dan polisi syariah (WH), tokoh-tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh-tokoh intelektual, dan masyarakat untuk menjadikan dunia pelacuran sebagai bentuk perlawanan massif. Sebab, jika kita sepakat dan tidak abai, penegakan syariat Islam bisa kita mulai dari ruang keluarga di rumah kita sendiri. Agar putik pelacur tidak tumbuh mekar mewangi di rumah bordil yang celaka dan menjijikkan itu. ***

Komentar

Loading...