Yaman dalam Belenggu Krisis Kemanusiaan Terparah Sepanjang Masa

Yaman dalam Belenggu Krisis Kemanusiaan Terparah Sepanjang Masa
Seorang anak korban krisis di Yaman | Foto: ACTNews

KBA.ONE, Yaman - Yaman kembali digempur serangan udara, Rabu 26 Oktober 2018. Sekiranya 16 orang meninggal akibat serangan udara yang menghantam pabrik kemasan makanan di Provinsi Hodeidah, Yaman. 

Kekacauan ekonomi dan pertempuran yang terus berlangsung pun semakin memperparah krisis kemanusiaan di Yaman. Lagi-lagi, Hodeidah menjadi pusat sasaran gempuran. Padahal, letak Hodeidah amat vital, yakni sebagai jalur masuk dan keluarnya kebutuhan logistik dan pangan. Selama dibebat perang, negeri ini secara tradisional masih mengimpor 90% untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Melalui Laut Merah Hodeidah yang menjadi jalur impor utama, barang yang diimpor masuk utamanya adalah bahan pangan dan berbagai bantuan kemanusiaan. 

Hasil survei yang dirilis Koordinator Kemanusiaan PBB, Mark Lowcock menunjukkan, sekitar 14 juta penduduk Yaman bergantung penuh pada bantuan untuk bertahan hidup. Jumlah tersebut termasuk jutaan anak, korban krisis yang paling menderita.  Sementara itu, jumlah populasi Yaman 2017 silam tercatat 28.25 juta jiwa penduduk. Artinya, 50% penduduk Yaman hanya makan dari bantuan kemanusiaan yang masuk. 

PBB juga menyatakan, Yaman tengah menghadapi bencana kemanusiaan paling parah dalam sejarah dunia modern. Lebih dari 6,8 juta penduduk Yaman masih berada dalam kondisi kritis akibat melonjaknya kasus kolera hingga mencapai angka 400.000 kasus. Bahkan, melansir data yang disepakati berbagai lembaga kemanusiaan yang bekerja di Yaman, setiap 35 detik ada satu anak Yaman yang terinfeksi wabah kolera. 

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, mayoritas anak di Yaman tengah menghadapi “kombinasi mematikan” kelaparan akut dan wabah kolera terparah dalam sejarah manusia. Krisis pun memaksa para orang tua untuk membuat pilihan yang mustahil dilakukan: mencari penanganan medis untuk anak-anak mereka yang sakit atau membeli makanan dan bahan pokok lainnya. 

Wabah kolera merebak

Pekan ketiga Oktober kemarin, Yaman pun sempat dilanda bencana Badai Tropis Luban. Pejabat kesehatan setempat, Awad Mubarak, mengatakan 126 orang dilaporkan terluka setelah badai membawa serta hujan lebat selama tiga hari, seperti dimuat Al Jazeera pada Selasa 23 Oktober 2018. 

Badai pada akhirnya juga menambah luas wabah penyakit karena genangan air yang disebabkan oleh banjir besar, salah satunya wabah kolera. Biasanya kolera memang ditularkan melalui air dan kotoran manusia, menyebar dengan cepat di daerah-daerah, di mana sanitasi yang buruk dan kurangnya akses mendapatkan air minum yang bersih.

Bahkan tahun lalu, lebih dari satu juta orang Yaman terinfeksi kolera dan lebih dari 2.200 kematian dilaporkan, meski jumlahnya belum bisa dipastikan kevalidannya. Hal ini mengingat masih banyak jumlah kematian yang tidak terungkap. Alasannya karena hanya ada setengah dari fasilitas kesehatan Yaman yang berfungsi, serta banyak orang Yaman yang terlalu miskin untuk mengaksesnya secara terbuka. 

Dalam waktu dekat ada paket pangan untuk Yaman 

Angka-angka di atas menunjukkan, betapa kacau krisis kemanusiaan di Yaman. Dalam beberapa pekan terakhir, kehancuran perlahan akibat perang berkepanjangan, ditambah dengan wabah kolera telah membuat Yaman di ujung ambruknya. Kini, jutaan warga Yaman masih sangat bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Merespons krisis tersebut, ACT dalam waktu dekat akan kembali menyapa Yaman, membawa serta bantuan kemanusiaan. Andi Noor Faradiba dari Global Humanity Response ACT menjelaskan, timnya akan berangkat pada Senin 5 November 2018. “Insya Allah tim akan menembus Yaman melalui Yordania dengan membawa paket pangan untuk saudara-saudara kita yang menjadi korban konflik di Yaman,” kata Faradiba. 

Komentar

Loading...