10 Ribu Lebih Tenaga Pendidik di Aceh Sudah Divaksin Covid-19, Siswa Masih Sangat Sedikit

10 Ribu Lebih Tenaga Pendidik di Aceh Sudah Divaksin Covid-19, Siswa Masih Sangat Sedikit
Ilustrasi vaksin. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh – Saat ini sekitar 10 ribu lebih tenaga pendidik di Aceh sudah disuntik vaksin Covid-19. Namun siswa yang melakukan vaksinasi masih sangat sedikit sekali, sehingga harus dilakukan sosialisasi secara continue.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, mengatakan dalam waktu dekat piihaknya akan melakukan koordinasi dengan dinas kesehatan, terkait vaksin Covid-19 bagi anak–anak agar aman saat memulai belajar tatap muka, karena anak-anak sudah lelah dengan daring.

“Nanti akan kita koordinasi dengan Dinkes kalau anak-anak bisa divaksin apa tidak, tim vaksin akan didatangkan ke sekolah-sekolah. Tentu dengan persetujuaan wali murid,” kata Alhudri  dalam diskusi via zoom dengan para guru dan wali murid, yang digelar AJI Banda Aceh bersama UNICEF, Senin 30 Agustus 2021.

Melalui kegiatan yang bertajuk peran guru dalam edukasi protokol kesehatan dan vaksinasi ini, Alhudri menyampaikan inilah saatnya berbuat untuk dunia pendidikan, karena anak-anak sudah lelah dengan daring, dan mereka rindu luring. “Kami upayakan sebisa kami, dan saya yakin ini bisa,” tambahnya.

Tak hanya itu, Alhudri juga menyebutkan jumlah peserta didik seluruh Aceh sebanyak 180 ribu lebih. Sementara usia vaksinasi Covid-19 yang dibolehkan untuk anak-anak yaitu umur 12-17 tahun.

Kata dia, berdasarkan data UNICEF, satu dari 19 pasien Covid-19 adalah anak-anak. Sementara satu dari 23 pasien Covid-19 yang meninggal adalah anak-anak. Dengan kata lain, menurutnya kalangan usia anak tidak lepas dari ancaman virus tersebut.

Menurut Alhudri, peran guru sangat besar, karena itu pembaga pendidikan bisa membentuk prilaku baru, budaya protokol kesehatan.” Kasus Covid-19 melonjak karena faktor prilaku, untuk mengubah nilai dalam masyarakat, ada tujuh tahapan. Aceh sedang menuju proses ke sana,” imbuhnya.

Sementara, Rina Fitri, salah seorang guru SMA di Banda Aceh, mengaku merasakan keresahan serupa terkait pandemi Covid-19. Seperti sistem belajar daring yang menemui banyak kendala, dari ketersediaan perangkat, jaringan, hingga komitmen dari orangtua siswa.  

Di sisi lain, kata Rina, orang tua tidak disiapkan untuk menjadi pengajar selama belajar daring. Sementara untuk vaksinasi, para guru harus berperang melawan hoaks terkait Covid-19 yang beredar luas di masyarakat.

“Ada sekolah murid datang ke sekolah pakai pakaian bebas. Kalau prokes kenapa tidak? Kenapa hanya sekolah yang dibatasi,” kata Rina.

Juru bicara Satgas Covid-19 Aceh, Saifullah Abdulgani, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut berdasarkan risiko. Pandemi Covid-19 memasuki tahun kedua, sementara pedoman penanggulangan Covid-19 sudah tujuh kali berubah. "Itu bukan bentuk inkonsistensi pemerintah, tapi didasarkan perkembangan dan hasil penelitian," kata SAG, panggilan akrabnya. | FITRI, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...