Dari Diskusi Tematik FJL

2019, Konflik Gajah versus Manusia di Aceh Meningkat 107 Kasus

2019, Konflik Gajah versus Manusia di Aceh Meningkat 107 Kasus
Ilustrasi Gajah. | Ist


KBA.ONE, Banda Aceh -- Gajah Sumatera (elephant maximus sumatranus), lagi viral menyusul munculnya rombongan  gajah liar yang melenggang di jalan raya di kawasan Enang-Enang, Bener Meriah, Aceh. Belum lagi, awal tahun lalu, ditemukan 5 ekor bangkai dan tulang belulang gajah di Aceh Jaya.

Berangkat dari masalah di atas, ditambah alotnya konflik antara gajah dan manusia di Aceh, komunitas awak media dari forum jurnalis lingkungan (FJL) menggelar diskusi tematik bertema Gajah Sumatera Nasibmu Kini.

Diskusi yang berlangsung di warung kopi di kawasan tepi kali Krueng Aceh, kecamatan Baiturrahman, Kota Banda Aceh, Kamis 16 Januari 2020, menghadirkan Kepala BKSDA  Aceh, DLHK Aceh, WWF, Pegiat Peduli Gajah dan Lingkungan dari Unsyiah, asosiasi geuchik se Aceh Jaya, praktisi Hukum Unsyiah, Polres Aceh Jaya, dan Kasatreskrim Polres Aceh Jaya, serta Walhi Aceh, dan Rimbawan Alumni - Sekolah Tinggi Ilmu Kehutanan (Ra-STIK) Aceh.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Agus Arianto,, salah seorang nara sumber pada diskusi itu, mengungkapkan data di BKSDA Aceh bahwa konflik gajah di Aceh lima tahun terakhir mengalami peningkatan. Pada 2015 lalu, katanya, terjadi 39 kali konflik, naik pada 2016 menjadi 44 kali. Kemudian terjadi peningkatan pada 2017 menjadi 103 kasus, meskipun terjadi penurunan pada 2018 yang hanya 73 kasus. Tetapi, kembali meningkat pada 2019 sebanyak 107 kasus. 

Agus Arianto, Ka BKSDA Aceh. | Foto: KBA.ONE, D Emsaci.

“Konflik satwa semakin meningkat selama 5 tahun terakhir. Meningkat ini juga ditambah tidak ada strategi khusus penanganan konflik,” ungkap Agus. Ia pun menambahkan tentang kematian gajah di Aceh, dari 2016 hingga 2020 ada 38 gajah mati. Penyebab atau pola kematian gajah, katanya,ada beberapa pola di antaranya 74 persen karena konflik, 14 persen perburuan dan 12 persen mati alami.

Karena itu, Agus berharap ke depan dengan sosialisasi yang baik, sekaligus memberikan pemahaman dan pengertian kepada masyarakat tentang gajah dan lingkungannya, konflik gajah dapat diminimalisir.

Sementara itu, Kabid Perlindungan dan Konservasi Sumber Daya Alam Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Aceh, Muhammad Daud menegaskan tidak benar ada pembiaran terhadap perlindungan satwa liar di Aceh. Pemerintah, kata Muhammad Daud, bahkan sudah membuat sejumlah regulasi, termasuk qanun Pengelolaan Satwa Liar yang masih menunggu penomoran dari Kemendagri.

Bahkan, ujarnya, pemerintah berkomitmen untuk terus menjaga hutan seluas 3,5 juta hektare. Dengan menjaga hutan, bisa mencegah terjadinya konflik satwa dilindungi di Aceh.

Koordinator FJL Aceh, Afifuddin, berharap seluruh pemangku kepentingan dapat terlibat mencegah konflik satwa. Tidak hanya dibebankan kepada BKSDA, tetapi butuh keterlibatan para pihak agar satwa liar bertubuh besar yang dilindungi itu tidak sampai punah.

FJL, sebutnya, terus mengawal melalui peran dan fungsinya dalam melakukan kampanye dan memberikan edukasi melalui media massa. Diharapkan dengan adanya pemberitaan tentang kelestarian saywa liar dan konservasi, bisa menambah wawasan masyarakat akan pentingnya melindungi satwa yang dilindungi di Aceh. | D Emsaci, Kontributor Banda Aceh.

Komentar

Loading...