2021 Bumi Berputar Lebih Cepat, Apa Dampaknya untuk Manusia?

2021 Bumi Berputar Lebih Cepat, Apa Dampaknya untuk Manusia?
Ilustrasi |Foto: Kompas.com

KBA.ONE - Pada 2020, para ilmuwan membuat penemuan yang mengejutkan. Mereka menemukan bahwa Bumi mulai berputar lebih cepat yang mengakibatkan hari lebih pendek.

Setidaknya, perputaran Bumi saat ini lebih cepat dibanding kapan pun dalam 50 tahun terakhir.

Menurut catatan selama 50 tahun terakhir, rekor 28 hari tercepat atau terpendek terjadi pada 2020.

Ini karena Bumi menyelesaikan rotasi di sekitar porosnya lebih cepat sekian milidetik daripada rata-rata.

Apa yang menyebabkan Bumi berputar lebih cepat?

Dilansir dari BBC Science Focus Magazine, Selasa 1 Juni 2021 hingga saat ini, para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin apa yang menyebabkan peningkatan laju rotasi bumi yang berdampak pada panjang hari.

Variasi panjang hari disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk efek pasang surut Bulan dan Matahari, sambungan inti-mantel di dalam Bumi, dan distribusi massa keseluruhan di Bumi.

Aktivitas seismik, glasiasi, cuaca, lautan, dan medan magnet bumi juga dapat memengaruhi panjang hari.

Namun, beberapa ahli berpendapat bahwa percepatan rotasi Bumi di tahun 2021 mungkin disebabkan oleh mencairnya gletser selama abad ke-20, atau akumulasi air dalam jumlah besar di reservoir belahan bumi utara.

Kendati Bumi berputar lebih cepat saat ini, para ahli memperkirakan bahwa percepatan ini hanya sementara dan Bumi akan mulai melambat lagi di masa depan.

Apa dampaknya?

Meski Bumi berputar lebih cepat, sebenarnya fenomena ini tidak akan berpengaruh pada kehidupan kita sehari-hari.

Dikatakan ahli, dampaknya mungkin lebih dirasakan dari sisi teknologi seperti satelit GPS, smartphone, komputer, dan jaringan komunikasi yang bergantung pada sistem waktu yang akurat untuk mengukur Waktu Universal Terkoordinasi (UTC) yang digunakan semua orang untuk mengatur jam.

Dilansir dari Live Science, Kamis 7 Januari 2021, ketika waktu astronomi, yang ditentukan oleh waktu yang dibutuhkan Bumi untuk melakukan satu putaran penuh, menyimpang dari UTC lebih dari 0,4 detik, UTC akan menyesuaikan.

Biasanya, masalah ini dapat diatasi dengan penambahan satu detik kabisat pada akhir Juni atau Desember, sehingga waktu astronomi dan waktu atom kembali sejajar.

Detik kabisat digunakan karena tren keseluruhan rotasi Bumi telah melambat sejak pengukuran satelit yang akurat pada akhir 1960-an dan awla 1970-an.

Menurut National Institute of Standards and Technology (NIST), sejak 1972 para ilmuwan telah menambahkan detik kabisat rata-rata setiap setengah tahun.

Penambahan terakhir terjadi pada tahun 2016, ketika pada Malam Tahun Baru pada 23 jam, 59 menit dan 59 detik. Saat inilah tambahan "detik kabisat" ditambahkan.

Nah, karena Bumi mengalami percepatan putaran, para ahli untuk pertama kalinya menyarankan tentang detik kabisat negatif.

Alih-alih menambahkan satu detik, mereka menyarankan untuk mengurangi satu detik untuk menyamakan waktu.

Ini karena rata-rata panjang hari adalah 86.400 detik, tetapi hari astronomi di tahun 2021 akan lebih pendek 0,05 milidetik.

Sepanjang tahun, itu akan menambah jeda waktu atom hingga 19 milidetik.

"Sangat mungkin bahwa detik kabisat negatif akan diperlukan jika laju rotasi bumi meningkat lebih jauh, tetapi terlalu dini untuk mengatakan apakah ini mungkin terjadi," fisikawan Peter Whibberley dari National Physics Laboratory di Inggris, mengatakan kepada The Telegraph.

"Ada juga diskusi internasional yang berlangsung tentang masa depan detik kabisat, dan mungkin juga kebutuhan akan detik kabisat negatif dapat mendorong keputusan untuk mengakhiri detik kabisat untuk selamanya."

Jadi intinya, kita tidak perlu khawatir dengan pergerakan Bumi yang lebih cepat. Kecuali jika pemendekan hari disebabkan oleh aktivitas manusia.

Komentar

Loading...