26 Tahun Hilang Diculik, Iskandar Doni Kembali ke Aceh

26 Tahun Hilang Diculik, Iskandar Doni Kembali ke Aceh
Doni (rompi hitam) bersama ibu dan adik-adiknya | Ulfah

KBA.ONE, Banda Aceh - Setelah 26 tahun lebih diculik, Iskandar Doni kembali ke kampung halamannya di Idi, Aceh Timur. Dia diculik sekitar 1993 oleh seorang perempuan berinisial I. Donj kemudian dibawa ke Medan dan setelah itu ditinggalkan.

Menurut Doni, saat diculik ia berumur sekitar empat tahun. Saat itu I datang kepada ibu Doni, Zainab. I meminta kepada Zainab untuk mengambil Doni. Dia bilang disuruh neneknya Doni. Zainab pun mengiyakan tanpa menaruh curiga.

"I berjanji tidak akan lama," ujar Doni saat berkunjung ke Kantor Berita Aceh di kawasan Batoh, Banda Aceh bersama sebuah komunitas ADO atau Awak Droe Only, baru-baru ini.

Yang terjadi selanjutnya, I membawa Doni hidup bersamanya. Mereka berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu kabupaten ke kabupaten lain, dari Aceh hingga Medan, Sumatera Utara. "Juga pernah menetap di kawasan Toba hingga Tanjung Balai," ujar Doni. Nama Doni tersebut pemberian dari I. Adapun I saat itu sering mengenalkan dirinya sebagai Cut Fah.

Selain dia, kata Doni, sempat ada seorang gadis lain yang tinggal bersama mereka. Doni tak tahu siapa gadis tersebut. Ia hanya memanggilnya Kakak.

Suatu kali, mereka menginap di sebuah losmen kawasan Toba. Ketika giliran membayar uang sewa kawar, I tak mampu melunasinya. Ia pun kabur dari losmen dengan membawa Doni, sementara si Kakak ditinggalkan.

Namun, pemilik losmen yang dipanggil Opung, mengejar mereka. Doni diambil oleh Opung sebagai jaminan. Dia berjanji Doni akan diserahkan kembali setelah uang sewa dilunaskan. Sementara si Kakak dibebaskan karena dianggap tidak ada sangkut paut keluarga dengan I.

Sekian lama Doni tidak kunjung ditebus. "Bahkan Opung mengatakan I tidak akan kembali," ujar Doni. Akhirnya, dia tinggal bersama Opung yang berbeda agama dengannya. Hal ini diketahui Doni ketika ia dewasa. Saat itu, ia makan apa saja yang dikonsumsi keluarga Opung.

Sementara Doni terus mengingat Zainab. Ia rindu masakannya ibunya. Di Idi, hilangnya Doni atau Iskandar menjadi perbincangan masyarakat. "Kasus penculikan yang dulu sempat heboh terhadap Doni, sempat disiarkan di media lokal pada 1993, bahkan sudah dilaporkan ke kepolisian," ujar T Yusra, koordinator ADO.

Setelah tinggal beberapa waktu dengannya, Opung menyerahkan Doni kepada seorang kerabatnya yang juga tinggal di kawasan Toba. Doni memanggilnya Opung Silaban. Di tempat baru ini, Doni merasa tidak nyaman. "Sebab hampir setiap saat saya mendapat perlakuan kasar dari Opung Silaban," ujar Doni.

Agak lama Doni tinggal dengan Silaban. Usianya sudah menjelang remaja tapi Doni belum bisa menghitung berapa umurnya saat itu. Tidak tahan dengan kondisi tersebut Doni memilih kabur dan kembali ke losmen tadi.

Si pemilik losmen masih ingat dengannya. Doni ditanyakan terus soal I yang tidak pernah lagi muncul ke losmen.

Opung pemilik losmen itu kemudian mengizinkan Doni tinggal dan bekerja di penginapan tersebut. Malang bagi Doni, setelah beberapa lama bekerja ia dituding tidak jujur. Doni pun diusir dari penginapan.

Bermodal nekad ia kembali ke rumah Opung yang pernah menampungnya. Kini ia bertugas menjaga cucu Opung. Oleh Opung, Doni kini dipanggil Ucok. Saat itu, Doni juga sering diajak ke gereja setiap Minggu. Doni yang tidak paham manut saja.

Seiring waktu, Doni memutuskan pergi dari rumah tersebut. Ia menuju kawasan Tarutung dan bekerja di kebun sawit. Saat itu usianya sekitar 14 tahun. Hampir setahun bekerja di kebun sawit, Doni diajak pergi ke kota oleh seseorang yang dikenalnya. Tidak lama di kota ia ikut bekerja berjualan kelapa ke Bukit Tinggi, Sumatera Barat.

Di Bukit tinggi, selain berjualan dia belajar membaca dengan seorang guru SD yang sayang kepadanya. "Bahkan dalam waktu dua pekan saya sudah mampu baca tulis," ujar Doni. Gurunya itu sempat menanyakan asal usul Doni. Doni menyebut dirinya berasal dari Aceh. Guru tersebut langsung mengingatkan bahwa Doni beragama Islam.

Doni kemudian diajak bekerja di rumah makan. Saat itu pemilik usaha melihat Doni sudah remaja namun belum dikhitan. Dia meminta Doni disunat dan belajar mengaji.

Tidak lama di rumah makan itu, Doni kembali berkelana. Saat itu ia ke Jambi bersama temannya, menjadi pengamen. Perjalanan hidup menjadi anak jalanan membuat hidupnya makin tak terarah. Bahkan ia ikut-ikut menghisap lem. Doni juga mencoba mengemis. Selama 10 tahun di Jambi, ia terus berganti aktivitas untuk bertahun hidup. Bahkan Doni pernah menjadi jurnalis sebuah media online.

Walaupun terus teringat akan wajah ibu dan ayah kandungnya, tidak banyak yang dikenang Doni tentang kampung halamannya. Dia hanya teringat kata Aceh, Landing, dan Banda Aceh.

Doni pernah mencoba mencari kampung halamannya. Dia pulang ke Aceh dengan menumpang bus tapi gagal karena tidak tahu alamat pasti. Saat itu usia Doni menjelang 28 tahun. Ia sudah menikah dan tinggal di Bukit Tinggi.

Setelah mencari tahu ke sana-sini, dibantu oleh ADO, Doni mendapatkan informasi bahwa keluarganya masih ada. Mereka tinggal di Kahju, Aceh Besar. Seperti mendapat rezeki yang sangat besar ketika Doni dipertemukan dengan keluarganya itu. "Haru biru suasana saat itu. Sangat disayangkan bahwa sekian lama dia hidup tanpa orang tua tanpa makan yang layak dan tanpa sekolah akibat ulah pelaku human trafficking 26 tahun yang silam," ujar Yusra.

Komentar

Loading...