5 Alasan Anak Putus Sekolah saat Pandemi: Menikah, Kerja, hingga Kecanduan Games

5 Alasan Anak Putus Sekolah saat Pandemi: Menikah, Kerja, hingga Kecanduan Games
Ilustrasi sekolah yang sepi karena masih menerapkan pembelajaran online di tengan pandemi corona. | Foto: Kumparan.com

Angka putus sekolah terus bertambah di masa pandemi. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menemukan lima penyebab terjadinya putus sekolah. Temuan itu dihasilkan dari pantuan dalam kurun waktu Januari-Februari 2021.

Anggota KPAI Retno Listyarti mengatakan, pantauan tersebut dilakukan di Kota Bandung, Kota Cimahi, Kota Bengkulu, Kabupaten Seluma dan Provinsi DKI Jakarta. Untuk Kota Bandung dan Cimahi, pantuan dilakukan secara langsung.

Selain pantauan, KPAI juga melakukan wawancara secara online dengan guru dan kepala sekolah dari Federasi Serikat guru Indonesia (FSGI).

“Namun faktanya, KPAI justru menemukan data-data lapangan yang menunjukan angka putus sekolah cukup tinggi, terutama menimpa anak-anak yang berasal dari keluarga miskin,” ujar Retno dalam keterangan tertulisnya, Minggu 7 Maret 2021.

Berikut adalah hasil temuan KPAI yang menyebabkan angka putus sekolah tinggi selama pandemi.

Pertama, siswa putus sekolah karena menikah

Jumlah siswa yang berhenti sekolah karena menikah jumlahnya mencapai 33 peserta didik dari kabupaten Seluma, Kota Bengkulu dan Kabupaten Bima. Rata-rata siswa yang menikah berada di kelas XII, yang beberapa bulan lagi ujian kelulusan sekolah.

Karena masih PJJ, maka mayoritas yang sudah menikah tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Wali kelas atau guru Bimbingan Konseling (BK) baru mengetahui setelah dilakukan “home visit” karena tidak pernah lagi ikut PJJ.

Pada tahun 2020 dari hasil pengawasan penyiapan sekolah tatap muka diperoleh data angka putus sekolah mencapai 119 kasus, yang wilayahnya meliputi Kabupaten Bima, Sumbawa Barat, Dompu, Lombok Barat, Lombok Timur, Lombok Utara, kota Mataram, Kota Bengkulu, Seluma, Wonogiri, Jepara, dan kabupaten Bandung.

Kedua, siswa putus sekolah karena bekerja

Sejumlah siswa SMK dan SMP terpaksa bekerja karena orang tua terdampak secara ekonomi selama pandemi corona. Ada satu siswa SMPN di Cimahi bekerja sebagai tukang bangunan demi membantu ekonomi keluarganya.

Kemudian, ada satu siswa di Jakarta yang bekerja di percetakan membantu usaha orangtuanya karena sudah tidak memiliki karyawan sejak pandemi.

Halaman12

Komentar

Loading...