954 Daerah Aliran Sungai Alami Kerusakan di Aceh

954 Daerah Aliran Sungai Alami Kerusakan di Aceh
954 Daerah Aliran Sungai mengalami kerusakan di Aceh. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Hutan Lindung (BPDASHL) Krueng Aceh, Eko Nurwijayanto, menyebutkan di Aceh terdapat 954 Daerah Aliran Sungai (DAS), 20 diantaranya terjadi mengalami kerusakan.

Ia mengatakan kawasan DAS di Aceh, 60 persen berada dalam kawasan hutan dan 30 persen berada di kawasan penggunaan lain. “Faktanya DAS yang berada di kawasan hutan pun, kini rusak karena alih fungsi lahan jadi ladang perkebunan dan aktivitas tambang ilegal,” kata Eko Selasa 7 September 2021.

Eko menyampaikan kerusakan hutan di hulu membuat DAS semakin cepat tergredasi, namun pihak BPDASHL Krueng Aceh setiap tahun melakukan penanaman pohon di DAS yang kritis, tapi laju kerusakan tidak sebanding dengan upaya pemulihan.

"Kalau tutupan hutan ada areal sungai masih baik, tentu potensi bencana juga bisa diminimalisir, begitupun sebaliknya," tambahnya.

Kata dia, kasus bencana ekologi di Aceh kian masif. Sejak 2018 hingga 2020 terjadi sebanyak 423 kali bencana banjir, longsor, dan bandang. Taksiran kerugian akibat bencana tersebut mencapai Rp874,1 miliar, salah satu penyebab karena kerusakan daerah aliran sungai.  

Sementara itu, Teknik Pengairan Madya Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Banda Aceh, Agustian menyebutkan untuk saat ini daerah paling rawan bencana banjir bandang di Aceh itu meliputi Aceh Singkil dan Aceh Utara.

“Di Aceh Utara, terdapat Sungai Jambo Aye dan di Singkil terdapat Sungai Alas. Kondisi sungai ini dalam keadaan tidak sehat sehingga berpotensi mendatangkan bencana banjir bandang,” sebut Agustian.

Bencana itu diakibatkan perambahan hutan, ilegal logging, dan pengrusakan aliran sungai. Ia mengatakan beberapa sungai telah direhab dengan dibangun tanggul untuk mencegah luapan banjir ke pumikiman warga.

“Akan tetapi, jika kawasan hulu tidak dipulihkan usaha itu tidak akan memberikan dampak besar terhadap mitigasi,” jelasnya.

Sementara, Dosen Teknik Geologi Universitas Syiah Kuala (USK), Ibnu Rusidy, mengatakan beberapa faktor memicu bencana ekologi, yakni curah hujan tinggi, pembangunan di daerah rawan longsor, kawasan rawan gempa, dan kondisi lereng yang curam. Untuk mencegah terjadi longsor dan banjir perlu diperkuat daya tahan tanah dengan menanam pohon.

“Potensi longsor dan banjir bisa dihindari kalau kawasan hulu, hutan lindung ditanami berakar kuat,” tutup Ibnu.

Hal tersebut mengemukakan dalam diskusi “daerah aliran sungai kritis, menanti bencana” yang digelar oleh Forum Jurnalis Lingkungan (FJL) Aceh dan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Aceh. | AYU, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...