Abu-Abu

Abu-Abu
Ilustrasi: www.dreams.metroeve.com

PEMERINTAH Aceh dan Pemerintah Kota Banda Aceh harus segera mengevaluasi izin operasional Hotel Hermes Palace. Hotel ini terbukti lalai--atau memang tak mau tahu--dengan pelaksanaan syariat Islam di Aceh dengan membiarkan acara-acara kontes kecantikan berlangsung di kawasan bisnisnya.

Apalagi, kegiatan itu dilaksanakan oleh waria yang notabenenya melanggar kodrat Allah SWT. Pelaksanaan kegiatan yang menunjukkan eksistensi kaum Sodom dan Gomorah itu harusnya tidak terjadi jika pemerintah bersikap tegas dan tidak pandang bulu dalam menegakkan hukum syariat Islam.

Kita tentu berharap ada solusi yang konkret saat manajemen Hotel Hermes bertemu dengan Pemerintah Kota Banda Aceh hari ini. Jangan sampai pemerintah kota hanya garang di hadapan wartawan namun lembek untuk menindak pelanggaran yang dilakukan hotel dengan omzet besar.

Hotel Hermes juga tercatat berulang kali melakukan pelanggaran syariat. Kita tentu tak ingin polisi syariat Islam berkeliaran. Karena itu, komitmen para pengusaha hotel, kafe, ataupun tempat hiburan lain juga perlu ditagih terus menerus agar kenyamanan di tempat-tempat itu tidak terganggu.

Kita juga berharap Pemerintah Aceh dan Dewan Perwakilan Rakyat Aceh segera membuat qanun yang mengatur tentang keberadaan waria dan para pelaku seks menyimpang di Aceh. Ini adalah sebuah aturan yang tak boleh ditunda-tunda lagi. Dengan demikian, para petugas di lapangan tidak kagok saat berhadapan dengan pelanggaran seperti ini karena mereka telah memiliki payung hukum yang jelas.

Syariat Islam itu harus dijalankan secara kaffah. Bukan kaku. Pelaksanaannya harus tegas dan jelas. Dengan demikian, tak ada aturan abu-abu, apalagi sampai ada “manusia abu-abu”.

Komentar

Loading...