Aceh di Mata Tito dan Indra Maulana

Aceh di Mata Tito dan Indra Maulana
Ilustrasi: reference.com

DUKUNGAN untuk Ajun Komisaris Besar Polisi Untung Surianata tak boleh dipandang sebelah mata. Aksi usai Salat Jumat di depan Masjid Raya Baiturrahman, kemarin, nyata. Senyata tuntutannya. Tindakan Untung saat membina para waria usai mereka ditangkap pada operasi penyakit masyarakat di Aceh Utara bersama Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah Aceh Utara dinilai sangat positif oleh masyarakat.

Urusan homoseksual ini sebenarnya tak pelik jika Kepala Kepolisian Jenderal Tito Karnavian memahami Aceh secara utuh. Namun ternyata bintang empat di pundaknya tak menjadikan Tito sebagai orang yang arif. Padahal, dengan memahami Aceh secara utuh, Tito tak akan ragu menjawab kritikan para pembela kaum Nabi Luth as ini yang dialamatkan kepada Polri.

Kegagalan memahami Aceh juga terlihat saat seorang pembawa acara televisi mencoba mem-bully Bupati Aceh Besar Mawardy Ali. Dalam sebuah wawancara langsung via telepon, Indra Maulana, si pembawa acara pria itu, dengan congkak mencoba menjebak Mawardy yang mengeluarkan aturan tentang penggunaan jilbab bagi pramugari.

Alih-alih mewawancarai untuk membuka cakrawala dan mengajak pemirsanya berpikir cerdas, si presenter malah berlagak seperti penyidik. Dia lupa bahwa yang diwawancarai adalah seorang narasumber yang diundang untuk memberikan keterangan. Betapapun dia tak suka dengan aturan itu--sulit memang mengukur objektivitas, tak seharusnya si pembawa acara berupaya memojokkan Mawardy.

Mawardy berhak atas rasa hormat. Wawancara yang seharusnya menarik malah semakin menunjukkan kedangkalan berpikir si pembawa acara. Padahal, jika si pembawa acara belajar terbuka, tidak sok tahu dan memiliki kerendahan hati tentang Aceh dan kearifan lokal di dalamnya, dia tak perlu terjebak dalam pikirannya sendiri.

Orang-orang di Jakarta--entah itu orang Aceh atau bukan--tak perlu lah merasa lebih keren dan tahu segalanya dan menganggap orang-orang di daerah, terutama di Aceh, kampungan. Itu adalah pola pikir sentralistik yang tak boleh dibiarkan berkembang di masa kini. Mengapa kalian tidak mencoba memandang, sesekali, dengan kacamata kami; orang di kampung.

Di sini, orang-orang sekampung masih bisa datang dan berlama-lama di rumah sakit untuk menemani kerabat atau keluarganya yang sakit. Di sini, pacaran dan anak gadis pulang larut malam adalah sebuah pantangan. Di sini, emak-emak berangkat ke tempat pesta pernikahan di atas kendaraan bak terbuka masih sebuah kebanggaan.

Di zaman now ini, cara berpikir seperti yang ditunjukkan Tito atau Indra Maulana, jujur saja, tidak keren. Sikap seperti itu malah membuat Jakarta terlihat bodoh. Ukuran modernitas itu bukan Alexis atau Plaza Indonesia. Bukan deretan Lamborgini atau secangkir Starbuck. Memahami Aceh tak bisa pakai kerangka berpikir Jakarta, yang macet dan serba terburu-buru, sehingga sering kali orang-orang yang hidup di dalamnya melupakan jati diri; lupa diri. Aceh ya Aceh. Aceh bukan Jakarta. Iya kagak?

Komentar

Loading...