2 Tahun Jejak Aceh Hebat

Aceh Kreatif Mendulang Prestasi Nasional

Oleh ,
Aceh Kreatif Mendulang Prestasi Nasional
Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah menerima rombongan Famtrip KJRI Johor Bahru Malaysia di Banda Aceh, Kamis, 4 Juli 2019 | Humas Pemerintah Aceh

Hingga kini, secara umum jumlah wisatawan asing yang datang ke Aceh terus meningkat. Di sisi lain, Aceh terus meningkatkan objek wisata unggulan.

KBA.ONE, Banda Aceh - Aceh Kreatif yang sejak awal mendorong tumbuhnya industri sesuai potensi sumber daya daerah dan memproteksi produk yang dihasilkannya meraih banyak prestasi hingga tahun kedua Irwandi-Nova memimpin Aceh. Mulai dari pariwisata halal hingga peningkatan jumlah wisatawan asing.

Sejak Aceh Kreatif digulirkan, Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata gencar mengampanyekan pariwisata halal yang dikhususkan untuk memfasilitasi kebutuhan berwisata umat Islam. Kampanye tersebut tak sia-sia.

Pada April lalu, Aceh meraih peringkat kedua sebagai Destinasi Wisata Halal Indonesia 2019 dari lima provinsi di Indonesia, melalui standar Indonesia Muslim Travel Index (IMTI) 2019 yang mengacu pada standar Global Muslim Travel Index (GMTI).

Standar IMTI mengadopsi 4 kriteria GMTI yang meliputi Access, Communication, Environment, dan Services (ACES). Setiap kriteria memiliki tiga komponen penting yang menentukan sebuah daerah terpilih sebagai destinasi wisata halal nasional dan internasional.

Penyerahan Anugerah IMTI 2019 diserahkan oleh Menteri Pariwisata Arief Yahya pada acara Wonderful Indonesia Halal Tourism Meeting and Conference di Hotel Bidakara Grand Pancoran, Jakarta, Selasa, 9 April 2019. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Jamaluddin, menyatakan keberhasilan itu sebagai pencapaian bersama dalam memajukan industri pariwisata Aceh berbasis halal.

"Keberhasilan Aceh meraih peringkat kedua tentu saja akan memperkuat positioning Aceh sebagai destinasi wisata halal yang layak dikunjungi oleh wisatawan. Sekaligus menjadi penyemangat untuk tampil lebih percaya diri dan bersaing dengan daerah-daerah lainnya di Indonesia dan dunia," ungkap Jamal yang mewakili Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah untuk menerima anugerah IMTI.

Target ke depan, kata Jamaluddin, para pelaku industri pariwisata di Aceh terus bekerja keras lagi agar bisa meraih peringkat pertama pada 2020. Destinasi Wisata Halal Aceh diharapkan tidak hanya sekedar jargon. Untuk memaksimalkan industri pariwisata halal Aceh, pemerintah menyiapkan Qanun Wisata Halal, FGD Wisata Halal, sarana prasarana, sertifikasi usaha berbasis halal, dan standarisasi produk wisata halal sesuai standar IMTI dan GMT.

Salah satu yang dilakukan Pemerintah Aceh untuk mengukuhkan diri sebagai Destinasi Wisata Halal adalah Festival Ramadhan 2019. Event bernuansa keislaman ini digelar pada 7 sampai 21 Mei lalu dalam rangka menyambut Ramadan.

Menurut Jamaluddin melalui event yang mengusung tagline 'Wonderful Ramadan in Aceh', akan dilakukan pembenahan dalam menyambut wisatawan. "Festival Ramadhan 2019 sebagai salah satu event wisata islami yang terangkum dalam Calendar of Event (COE) 2019 akan menyemarakkan bulan Ramadan dengan ragam kegiatan yang bersifat syiar dan syair," ujar Jamaluddin. Dia berharap, festival itu kian memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi halal unggulan nasional dan internasional. Wisatawan diharapkan bisa menikmati pesona dan keunikan wisata budaya Islam di Aceh.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani mengungkapkan, Festival Ramadan 2019 menjadi peneguh Aceh sebagai destinasi halal unggulan Indonesia. "Pastikan Aceh sebagai destinasi utama pada saat bulan suci Ramadan. Alam dan budaya Aceh ini sangat eskostis. Nuansa Islami begitu terasa di daerah ini. Apalagi, akan ada banyak sekali event yang digelar di sana yang akan membuat Ramadan semakin berwarna. Silakan berwisata di Aceh Ramadan ini," ucap Rizki

Dukungan juga diberikan Menteri Pariwisata Arief Yahya. Arief yakin pariwisata Aceh akan semakin diperhitungkan. Apalagi pasarnya sangat jelas dengan merek wisata halal yang dimiliki. "Aceh berpotensi besar menjadi pusat kawasan wisata halal. Syarat penunjang seperti sarana dan prasarana serta pelayanan wisata halal yang ada di Aceh mayoritas semuanya telah terpenuhi. Dengan peluncuran Festival Ramadan 2019 semakin membuat wisatawan tertarik untuk datang dan berwisata di Aceh. Dukungan akan terus kami berikan."

***

Promosi wisata Aceh juga terus dilakukan. Seperti yang dilakukan oleh pelaksana tugas Gubernur Aceh Nova Iriansyah pada Kamis, 4 Juli 2019. Hari itu, Nova menerima rombongan Familiarization Trip (Famtrip) dari KJRI Johor Bahru Malaysia di rumah dinasnya di Banda Aceh. Nova mengajak rombongan mempromosikan potensi pariwisata Aceh kepada turis asal Malaysia. Harapan Nova, wisatawan asal Malaysia yang mengunjungi Aceh dapat terus meningkat.

"Kami dalam keadaan kurang sehat dan sakit saja berkunjung ke Malaysia. Sakit saja kami berkunjung ke Malaysia, apalagi sehat. Mudah-mudahan rasa sayang kami kepada Malaysia dapat dibalas dengan berkunjung ke Aceh," ujar Nova. Dia juga mengharapkan kunjungan wisatawan asal Malaysia dapat menjadi kunjungan wistawan asing terbanyak ke Aceh. Menurut Nova, sejarah masa lalu antara Aceh dan Malaysia dapat menjadi alasan kenapa Aceh bisa menjadi destinasi wisatawan dari negeri jiran tersebut.

Hingga kini, secara umum jumlah wisatawan asing yang datang ke Aceh terus meningkat. Pada 2016 wisatawan mancanegara yang datang berjumlah 76.452 orang. Jumlahnya meningkat pada 2017 menjadi 75.758 orang. Setelah itu meningkat lagi menjadi 106.281 orang pada 2018.

Sementara untuk wisatawan nusantara jumlah kedatangan mencapai 2.077.797 orang pada 2016. Adapun pada 2017 mencapai 2.288.625 orang, dan kembali mengalami peningkatan pada 2018 berjumlah 2.391.968 orang.

Sabang memang menjadi primadonanya wisata Aceh. Di Sabang pemerintah bahkan membangun pelabuhan khusus kapal pesiar. Namun, Nova meminta kepada peserta Famtrip melihat potensi wisata Aceh lainnya, seperti agrowisata yang berada di wilayah tengah Aceh. Kondisi wilayah tersebut, sambung dia, juga dapat dijadikan potensi wisata Aceh yang bisa dipromosikan untuk dijajali oleh wisatawan. "Di Gayo kita bisa langsung ke kebun kopi, petik kopi, minum kopi di kebunnya," ujar Nova.

Pemerintah Aceh memang serius membenahi agrowisata. Infrastruktur dan pengembangan agrowisata di Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah yang merupakan wilayah dataran tinggi di Aceh, terus diperkuat.

Selain alam, kata Nova, Aceh juga memiliki wisata religi. Di Aceh terdapat banyak makam ulama besar di Asia Tenggara pada masa lampau, seperti Syekh Abdurrauf as Singkili. Bahkan, juga terdapat makam dari leluhur kerajaan Malaysia. Makam-makam tersebut dapat dijadikan potensi untuk diziarahi oleh pengunjung Malaysia.

Nova menuturkan, untuk terus meningkatkan kunjungan wisatawan, Pemerintah Aceh terus melakukan upaya pembenahan pada layanan pariwisata. Seperti meningkatkan pembangunan fasilitas wisata, menjaga kebersihan, dan menjaga kelezatan rasa kuliner khas Aceh.

Di sisi lain, Aceh terus meningkatkan objek wisata unggulan. Pada 2016 Aceh hanya memiliki 221 objek wisata. Jumlah ini meningkat menjadi 224 pada 2018.

Sektor wisata marina tak ketinggalan dibenahi. Keseriusan Pemerintah Aceh untuk peningkatan pariwisata laut ini bisa dilihat dari dibangunnya infrastruktur wisata Simeulue dan Singkil. [ADV]

Komentar

Loading...