2 Tahun Jejak Aceh Hebat

Aceh Seujahtra Tak Lagi Coretan di Atas Kertas

Oleh ,
Aceh Seujahtra Tak Lagi Coretan di Atas Kertas
Gubernur Irwandi Yusuf dan Wakil Gubernur Nova Iriansyah saat dilantik di gedung DPR Aceh | DOK KBA.ONE

Siapa sangka, JKA kemudian justru menginspirasi Pemerintah Pusat untuk membuat program serupa yang berskala nasional.

KBA.ONE, Banda Aceh - Saat penanggalan almanak jatuh pada 5 Juli 2019, hal ini menjadi penanda dua tahun sudah usia pemerintahan Irwandi Yusuf–Nova Iriansyah. Keduanya dilantik sebagai gubernur dan Wakil Gubernur Aceh pada 5 Juli 2017 oleh Mendagri Tjahjo Kumolo. Irwandi-Nova yang diusung PNA dan Demokrat ini sukses memenangkan hati masyarakat Aceh lewat visi misi Aceh Hebat.

Secara umum, di dalam Aceh Hebat terdapat 15 program unggulan menuju terwujudnya Aceh yang damai dan sejahtera melalui pemerintahan yang bersih, adil, serta melayani. Kini, setelah dua tahun, pencapaian dari program-program tersebut mulai terlihat; tak lagi sekadar coretan di atas kertas. Yang paling kentara tentu saja JKA atau Jaminan Kesehatan Aceh yang merupakan program utama dari Aceh Seujahtra (Aceh Sejahtera).

Di dua periode pemerintahan sebelumnya ketika Irwandi menjadi Gubernur Aceh pertama kali, dia mencetuskan program tersebut. Siapa sangka, JKA kemudian justru menginspirasi Pemerintah Pusat untuk membuat program serupa yang berskala nasional. Proses adopsi ini melahirkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan. Setelah itu berubah nama menjadi JKN atau Jaminan Kesehatan Nasional hingga JKN-KIS seperti sekarang.

JKA di periode pertama sukses berjalan tapi tentu saja ada kekurangan di sana-sini. Ketika terpilih kembali, Irwandi bersama Nova membenahi kekurangan-kekurangan tersebut. JKA dijadikan sebagai program yang mempermudah seluruh masyarakat Aceh mendapatkan akses kesehatan. Lahirlah JKA Plus dengan beberapa kelebihannya. Misalnya, walaupun premi tetap sama seperti JKA yakni Rp23 ribu per bulan untuk setiap orang, pasien JKA Plus tidak lagi direpotkan dengan berbagai urusan administrasi saat berobat.

Infografis Jejak 2 Tahun Aceh Hebat | Humas Pemerintah Aceh

Kelebihan lain, saat berobat ke rumah sakit umum, pasien cukup menunjukkan kartu JKA Plus, KTP, atau KK. Sedangkan surat-surat yang lain diurus oleh petugas loket JKN-KIS dan JKA Plus yang stand by di setiap rumah sakit umum.

Kini, setelah dua tahun berjalan, kelebihan JKA Plus sangat terasa ketika program ini mampu menyederhanakan administrasi pengobatan. Pelayanan di rumah sakit dan Puskesmas kian dimudahkan karena sistem pendaftaran peserta BPJS Kesehatan diintegrasikan dengan Nomor Induk Kependudukan atau NIK.

Selain itu, kecuali enam rumah sakit, hampir seluruh rumah sakit di Aceh telah menggunakan sistem informasi. Sistem ini pertama kali diresmikan di Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin pada 31 Oktober 2017 oleh Nova Iriansyah yang saat itu masih berstatus wakil gubernur. Sistem online tersebut diakui Nova merupakan sebuah lompatan kecil tapi berdampak besar bagi dunia kesehatan di Aceh.

“Keuntungannya sangat besar dan tentunya sangat membantu seluruh masyarakat Aceh,” ujar Nova saat itu. Sekarang, ucapan Nova terbukti.

Salah satu manfaat sistem ini memudahkan proses rujukan pasien. Melalui sistem ini dapat diketahui apa saja fasilitas yang tersedia di rumah sakit tujuan. Tak hanya itu, pasien dapat ditangani lebih cepat karena proses pemilahannya hanya lewat finger print.

Di luar sistem informasi, Pemerintah Aceh juga menyediakan rumah singgah di tiga rumah sakit. Keberadaan rumah singgah sangat membantu terutama bagi keluarga pasien yang datang dari pelosok Aceh. Dengan adanya rumah singgah, keluarga pasien punya tempat tinggal sementara hingga pengobatan selesai. Mereka tak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menyewa tempat tinggal.

Peningkatan mutu pelayanan kesehatan tersebut sejalan dengan upaya Pemerintah Aceh melakukan akreditasi rumah sakit. Hingga dua tahun Aceh Hebat berjalan, rumah sakit yang telah terakreditasi sekitar 95 persen. Sedangkan Puskesmas mencapai 73 persen.

Sejauh ini, upaya-upaya Pemerintah Aceh melalui program Aceh Seujahtra di bidang kesehatan tersebut telah melahirkan apresiasi di tingkat nasional. Beberapa penghargaan telah diterima, antara lain Aceh dinobatkan sebagai provinsi dengan komitmen terbaik dalam mengimplementasikan SIKDA Generik.

SIKDA Generik adalah aplikasi sistem informasi kesehatan yang mengintegrasikan sistem informasi di puskesmas, rumah sakit, dan sarana kesehatan lainnya, baik milik pemerintah maupun swasta. Aplikasi ini dikembangkan dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu untuk meningkatkan ketersediaan dan kualitas data serta informasi manajemen kesehatan melalui pemanfaatan teknologi informasi komunikasi.

Pada 2018, Pemerintah Aceh juga mendapat penghargaan Universal Health Coverage JKN-KIS Award 2018. Penghargaan yang diserahkan langsung oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Istana Negara. Award ini diraih karena Aceh mendukung Program JKN-KIS sebagai program strategis nasional dalam mewujudkan Universal Health Coverage.

Prestasi lainnya, situs milik Dinas Kesehatan Aceh dinobatkan sebagai website terbaik pada Anugrah Situs Inspirasi Sehat Indonesia (e-Aspirasi) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan RI dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke 54 Tahun 2018. Selain itu, program eliminasi kusta di Aceh juga memperoleh penghargaan dari Kementerian Kesehatan. Penghargaan juga diraih oleh Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin atau RSUZA. Rumah sakit provinsi ini mendapatkan Indonesia Hospitality Winner 2018 Choice Award dari Kementerian Kesehatan RI. Ini merupakan predikat tertinggi bagi sebuah rumah sakit di Indonesia.[ADV]

Komentar

Loading...