Agar Kadin Tak Menyerupa Vampir

Agar Kadin Tak Menyerupa Vampir
Ilustrasi | zulistudios.

Ketua Kadin Aceh kali ini harus datang dari pebisnis tangguh yang mampu menciptakan basis-basis ekonomi baru, kreatif, dan kekinian.  Agar darah-darah bisnis anak nanggroe bisa ikut mengalir di dalamnya.

PASAR bursa Calon Ketua Kamar Dagang dan Industri atau Kadin Aceh sedang menggelegak. Ada tiga calon yang sudah mendaftar di asosiasi pengusaha—yang katanya bergengsi—tersebut. Ada Said Isa, Nahrawi, dan Makmur Budiman. Ketiganya bakal berebut kursi Ketua Kadin Aceh Periode 2019-2024.

Bagi publik, Kadin masih dilihat sebagai organisasi eksklusif; khusus; alias berbeda dari yang lain. Di situ kebanyakan berkumpul pengusaha bersepatu pantofel yang licin nan mengkilat. Jika ada tukang bakso atau penjual ayam geprek bergabung, tentu sebuah mukjizat.

Ini bukan satire tapi sebuah realita. Karena selama ini Kadin terkesan jauh dari memikirkan nasib pengusaha kecil. Keberpihakan Kadin lebih kepada pengusaha besar. Sepantasnya, ini tidak boleh terjadi. Kadin harus lebih tergugah hati melihat nasib pengusaha kecil agar lapangan pekerjaan terbuka lebar.

Bagaimana Kadin Aceh? Nah, jika bicara Kadin Aceh, mau tak mau kita sedikit sebal. Apalagi bertahun-tahun lembaga pengusaha paling mentereng ini senyap dari hiruk pikuk kegiatan dunia usaha. Kadin Aceh ibarat orang sakit stroke; persendian organisasinya lumpuh, bahkan syahwat kreativitas bisnisnya. Ini gara-gara Kadin Aceh dikelola dengan gaya "monarki" dan "oligarki" oleh kepengurusan lama. 

Kekuatan klan Firmandez, ketua Kadin Aceh terdahulu, yang menguasai gerak nadi organisasi itu, dituding tidak berpihak kepada anggota dan kemajuan organisasi. Kadin Aceh senyap tiarap; "terasa ada, terkatakan tidak".

Rumah besar para pengusaha yang punya mimpi menghidupkan kembali spirit kaum saudagar Aceh di masa lalu, pun berubah menjadi sempit, mengecil, tertutup, bahkan gelap seperti rumah hantu. Kran keterbukaan tersumbat karena aliran informasinya dikunci rapat-rapat.

Itulah “senggugut” Kadin Aceh di masa dulu. Ambisi trah sedarah telah merusak tatanan motorik organisasi itu, bahkan nyaris "berdarah-darah" pula. Syukur, kaum pembaru sigap memulihkan Kadin Aceh dari stroke serius, meski  dilakukan lewat "upaya paksa". 

Kini, lewat Musyawarah Provinsi (Musprov) VI,  kaum pembaru berupaya menyehatkan lembaga ini agar lebih sportif, penuh inovasi, dan jauh dari bau politik sedarah. Pelbagai cara dirancang panitia seperti mewajibkan kandidat ketua menyerahkan deposit sebesar Rp1 miliar. Menang atau kalah uang itu tidak akan dikembalikan dan menjadi dana abadi Kadin Aceh.

Ini salah satu kiat agar kandidat yang maju sebagai Ketua Kadin Aceh dalam musyawarah nanti bukan ecek-ecek. Paling tidak, Ketua Kadin ke depan adalah sosok yang mumpuni secara akal waras dan finansial. Biar Kadin tak dijadikan ladang cari duit masuk kantong sendiri, teman sejawat, apalagi kerabat sedarah.

Tak ada lagi waktu buat berkelahi dan menegangkan urat syaraf. Mari benahi Kadin Aceh yang mandiri menghadapi  era industri 4.0; sebuah zaman yang memaksa manusia tidak face to face lagi dengan sesama, tapi face to tecnology industri modern.

Lupakan urusan berebut proyek di dinas-dinas yang ada di jajaran Pemerintah Aceh. Biarlah itu menjadi urusan rumah Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi). Ketua Kadin Aceh kali ini harus datang dari pebisnis tangguh yang mampu menciptakan basis-basis ekonomi baru, kreatif, dan kekinian. Agar darah-darah bisnis anak nanggroe bisa ikut mengalir di dalamnya.

Apalagi, Pemerintah Aceh tengah giat mendorong pertumbuhan industri kecil menengah supaya kelak mampu mendongkrak ekonomi Aceh. Harus ada peran Kadin di situ: bersekutu dengan Pemerintah Aceh untuk kemaslahatan nanggroe.

Kita menaruh harapan besar  pada 18 Juni nanti. Lahir ketua dan pengurus baru yang mampu membawa lembaga itu lebih baik, sejahtera, dan berintegritas. Karena Kadin adalah Kamar Dagang dan Industri, bukan “kamar gelap” tempat berbiak pebisnis kaum "sedarah", laiknya vampire; hidup dari darah kematian para anggotanya. Selamat bermusyawarah, Bro! ***

Komentar

Loading...