Agustus 1945, Ketika Proklamasi Terlambat Berkumandang di Aceh

Agustus 1945, Ketika Proklamasi Terlambat Berkumandang di Aceh

Lalu, bagaimana berita proklamasi itu tiba di Aceh? Menurut Syamaun, orang pertama yang mencatat peristiwa itu adalah Teuku Muhammad Ali Panglima Polim.

KBA.ONE - Ketika proklamasi 17 Agustus 1945 dibacakan Soekarno-Hatta di Pengangsaan Timur, Jakarta, kabar kemerdekaan itu tidak serta-merta diketahui daerah-daerah yang jauh seperti Aceh. Kondisi negeri yang dilanda perang dan masih bercokolnya Jepang membuat informasi terkontrol ketat.

Di Aceh, secara resmi berita proklamasi itu baru diketahui pada 29 Agustus 1945, setelah kembalinya Mr TM Hasan dan Dr M Amir dari Jakarta. Kedua orang ini mewakili pusat Republik Indonesia untuk seluruh Sumatera. "Akan tetapi desas-desus mengenai berita tersebut jauh sebelumnya telah didengar oleh beberapa orang tokoh Aceh. Mereka belum berani mengumumkannya kepada masyarakat, karena masih merasa takut pada kekejaman tentara Jepang," tulis Sejarawan Aceh TA Sakti di dalam blog-nya.

Saat itu, Jepang di ambang kekalahan. Sementara sekutu bersiap masuk ke Indonesia, termasuk Aceh. Pada 6 Agustus, di ujung perang dunia kedua, Amerika Serikat menjatuhkan bom atom uranium "Little Boy" di Hiroshima, Jepang. Tiga hari kemudian, giliran bom plutonium jenis implosi "Fat Man" yang dijatuhkan di Nagasaki.

Syamaun Gaharu dalam bukunya Cuplikan Perjuangan di Daerah Modal menukilkan suasana menjelang proklamasi kemerdekan di Banda Aceh yang saat itu masih disebut Kutaraja.

Agustus itu, kata Syamaun, bulan puasa. Tanggal 15 Agustus bertepatan dengan 6 Ramadan 1364 Hijriah. Syamaun, yang di kemudian hari menjadi panglima pertama Kodam Iskandar Muda, baru pulang ke rumahnya setelah Kompi Giyu-gun dibubarkan. Syamaun sebelumnya ditempatkan di Kompi I Giyu-gun Sumatera yang berada di Idi, Aceh Timur.

Saat itu, Jepang membagi Aceh ke dalam 13 wilayah. Setiap wilayahnya ditempatkan Kompi Giyu-gun atau Giyu-gun chutai. Syamaun sendiri merupakan perwira berpangkat syoi atau setara letnan dua. Selain dia, ada 15 perwira syoi lainnya yang berasal dari Aceh. Mereka sama-sama dilantik di Medan setelah menjalani pendidikan.

Pada 15 Agustus 1945 kompi-kompi dibubarkan. "Pembubaran Giyu-gun itu tentu bisa menjadi indikasi kuat tentang perubahan keadaan yang sedang terjadi. Namun Jepang belum juga memberikan penjelasan resmi. Inilah yang menyebabkan keadaan tidak menentu dan beredarlah informasi simpang siur di tengah masyarakat," tulis Syamaun.

Pada 17 Agustus 1945, tulis Syamaun, Kota Kutaraja dalam keadaan tenang tapi terasa tidak menentu. "Pasukan Jepang tak seberingas biasanya. Mereka kini menjadi loyo, kehilangan semangat dan tidak berdaya."

Siangnya, usai salat Jumat di Masjid Raya Kutaraja, Syamaun bertemu beberapa kawannya eks perwira Giyu-gun. Mereka berkumpul di Central Hotel. Syamaun tak menjelaskan detil di mana lokasi Central Hotel. "Hari itu, sesungguhnya belum seorang pun di antara kami yang tahu bahwa Indonesia telah merdeka. Saya dan kawan-kawan berbuka puasa di Central Hotel. Kami membeli nasi bungkus dengan mengumpulkan uang dari saku masing-masing."

Pada 20 Agustus 1945 sekitar pukul sembilan pagi, sebuah pesawat yang tak diketahui identitasnya terbang di atas kota. Pesawat itu menjatuhkan selebaran berisi informasi kekalahan Jepang dan kembalinya Belanda ke Indonesia. "Berita mengenai kekalahan Jepang ini diterima dengan kegembiraan. Bahkan ada yang menari-nari di pinggir jalan."

Anehnya, Jepang belum mau mengakui kekalahannya di perang Pasifik itu. Pada 23 Agustus misalnya, Mayor Jendral Shazaburolino, Residen Jepang yang berkuasa di Aceh malah mengundang lima tokoh Aceh ke kediaman resminya di pendopo. Kelima tokoh itu Teuku Nyak Arif, Teuku Muhammad Ali, Panglima Polim, Teuku Ahmad Jeunib, Teungku Muhammad Daud Beureueh dan Said Abu Bakar. Di pertemuan itu, Shazaburolino mengatakan Jepang telah berdamai dengan sekutu. "Residen itu mengatakan bahwa Jepang tidak kalah, tapi berdamai."

Ketika para tokoh pulang dari pendopo, mereka menyampaikan perkataan residen itu kepada masyarakat. Namun, Teuku Nyak Arif, Residen Aceh pertama, mempertegas apa yang disembunyikan Jepang. "Jepang sudah kalah perang, tapi mereka malu mengakuinya. Memang sampai saat itu, rakyat Aceh tetap belum mengetahui tentang kemerdekaan Indonesia yang telah diproklamasikan di Jakarta. Saya kira Residen Shazaburolino tahu tentang hal itu, namun ia merahasiakannya."

Dua hari sebelumnya, setelah melihat isi pamflet dari pesawat, Syamaun berdiskusi dengan kawan-kawannya. Mereka menyusun strategi merampas senjata Jepang untuk melawan Belanda. "Rencana yang kami hasilkan malam itu kemudian dapat dilaksanakan setelah berdirinya API tanggal 27 Agustus 1945." API atau Angkatan Pemuda Indonesia ini diubah menjadi Tentara Keselamatan Rakyat pada Desember 1945.

24 Agustus, Shazaburolino mengumumkan kepada masyarakat sebuah maklumat. Isinya, "bahwa peperangan Asia Timur Raya sudah berakhir dan kemaharajaan Dai Nippon telah bersedia melangsungkan perdamaian dengan Amerika, Inggris, Rusia, China." Shazaburolino juga mengucapkan terima kasih kepada rakyat Aceh atas bantuan dan kerjasama yang baik selama masa pendudukan. Sampai hari itu, tulis Syamaun, Jepang masih menutup kabar mengenai proklamasi kemerdekaan. "Kami, di Aceh, belum mengetahuinya."

Maklumat itu juga diberitakan Atjeh Shinbun, surat kabar resmi Jepang di Aceh. Pemberitaan itu juga menjadi hari terakhir terbitnya Atjeh Shinbun. Menurut TA Sakti, ketika kemudian berita proklamasi menjadi jelas, para pemuda Aceh mengambil alih kantor percetakan Atjeh Shinbun termasuk pemancar radio Jepang Hodoka, kantor berita Domei dan instansi-instansi lainnya, yang diperlukan untuk memperlancar pembentukan pemerintahan Republik Indonesia.

Lalu, bagaimana berita proklamasi itu tiba di Aceh? Menurut Syamaun, orang pertama yang mencatat peristiwa itu adalah Teuku Muhammad Ali Panglima Polim. Secara detail peristiwa itu dicatat Teuku Teungoh Hanafiah.

Berita proklamasi kemerdekaan sampai ke Aceh dalam beberapa cara. Berita didapatkan dari hasil monitoring pegawai-pegawai kantor pos, penerangan dan jawatan radio serta penerimaan radio gelap. "Kurir dan surat-surat yang datang dari Jawa dan Malaya kemudian memperkuat kebenaran berita itu sehingga menjadi pembicaraan umum. Mula-mula kabar itu beredar dari mulut ke mulut, bisik-bisik secara berantai," tulis Syamaun.

Dari cerita Syamaun di buku tersebut, berita proklamasi hinggap ke telinga tokoh-tokoh Aceh berkat seseorang yang disapa Pak Ahmad Pos. Ia kepala kantor pos Kutaraja. Pagi 22 Agustus, Ahmad datang ke rumah Teuku Ahmad Jeunib. Di situ ada Teuku Nyak Arif.

Muka Ahmad terlihat tegang. Ia mengaku telah mendengar proklamasi lewat radio pada malam 20 Agustus. Awalnya, ia membawa sebuah radio hasil sitaan Jepang dari rakyat yang disimpan di kantor pos. Ahmad membawa radio itu setelah lebih dulu mempretelinya lalu dirangkai kembali di rumah.

Dari berita yang didengarnya, Ahmad mengatakan Soekarno-Hatta telah memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Kedua pemimpin itu meminta segera dibentuk panitia penyokong kemerdekaan di daerah-daerah. Awalnya, Ahmad kurang percaya terhadap berita yang ia dengar. "Tapi tadi malam, saya menangkap lebih jelas lagi. Berkali-kali diminta agar dibentuk panitia tersebut. Akhirnya saya yakin terhadap berita yang saya dengar," ujar Ahmad seperti dikutip Syamaun dalam bukunya. Saat Ahmad bercerita, Syamaun tak hadir di tempat itu. Ia mungkin mendengar keterangan Nyak Arif.

Mendengar keterangan Ahmad Pos, Nyak Arif memutuskan mengundang semua pemuka masyarakat untuk memberitahukan kabar penting itu. Besoknya, pada 23 Agustus, di depan puluhan tokoh masyarakat Aceh, Nyak Arif mengulangi cerita Ahmad Pos. Ia juga meminta hadirin menentukan sikap apakah mendukung kemerdekaan RI atau tidak. Siapa yang berani dan setuju diminta angkat tangan.

Suasana agak hening hingga seseorang yang bernama Dr Mahyuddin menimpali dan minta izin berbicara. "Siapa yang setuju menyokong Kemerdekaan Indonesia, agar bersumpah setia dengan syarat Alquran diletakkan di atas kepalanya sendiri dan oleh tangannya sendiri," ujar Mahyuddin.

Tak ada yang berani menjawab. Nyak Arif meminta rapat diteruskan besok di tempat yang sama, di kantornya. Nyak Arif setuju dengan pendapat Mahyuddin. Besoknya, 24 Agustus, setelah sumpah setia terhadap kemerdekaan Indonesia dilakukan, digelarlah pengibaran bendera merap putih di halaman kantor Nyak Arif yang ketika itu masih menjabat Wedana Kutaraja. Kantor ini di kemudian hari berubah menjadi Kantor Departemen Agama Daerah Istimewa Aceh.

Tak hanya di situ, bendera juga dikibarkan di halaman kantor Shu-chokan Keimubu, dekat pusara Sultan Iskandar Muda. Nyak Arif juga menyuruh bendera dikibarkan di kantor dan rumah masing-masing. Ia sendiri kembali ke rumahnya di kawasan Lamnyong. Tak lama, tulis Syamaun, Nyak Arif kembali ke kota dengan membawa merah putih ukuran raksasa yang ditempatkan di muka kendaraannya. Nyak Arif berkeliling kota dan melewati pos-pos penjagaan Jepang.

Namun, keterangan Syamaun ini agak rancu karena di paragraf selanjutnya ia menyebut "Waktu kendaraan beliau melewati pos-pos penjagaan Jepang, tentara Jepang bersiap dan memberi hormat kepada kendaraan tersebut. Karena memakai bendera merah, barangkali mereka pikir bahwa yang lewat adalah pembesar Jepang." Tidak jelas betul apakah Nyak Arif membawa merah putih atau bendera warna merah saja.

Rusdi Sufi, Iriani Dewi Wanti, Seno dan Djuniat dalam buku Sejarah Kotamadya Banda Aceh seperti dikutip Historia menyebutkan, tujuan Nyak Arif berpawai agar masyarakat luas tahu bahwa Indonesia sudah merdeka dan rakyat tidak perlu lagi tunduk pada penjajahan Jepang.

Sayangnya usaha-usaha itu pun belum begitu dimengerti masyarakat awam. Justru baru pada 29 Agustus rakyat Aceh paham proklamasi kemerdekaan Indonesia telah dilakukan. Kabar proklamasi tersebar ke pelosok Aceh setelah kedatangan Teuku Mohammad Hasan dan M Amir dari Jakarta yang singgah ke Kota Medan.

Kabar itu lantas ditindaklanjuti oleh para pemuda setempat dengan menaikan bendera merah putih di depan Kantor Kesejahteraan Rakyat dan di Kantor Tyokan (Kantor Baperis). Setiap rumah di Aceh kemudian juga diwajibkan mengibarkan bendera pada 13 Oktober lewat Maklumat Nomor 2 Komite Nasional Indonesia Daerah Aceh.

Sesudah hari itu, berita proklamasi pun tak bisa disembunyikan lagi. Pemuda-pemuda mulai bergerak. Mereka membuat pamflet dan plakat, kemudian menempelkannya di tembok, kereta api, kendaraan dan lain-lain. "Pendeknya setiap orang mempergunakan semua kesempatan penyebarluasan berita proklamasi tersebut."

Salah satu tempat memberitakan proklamasi tersebut adalah surat kabar Suara Merdeka yang diampu Ali Hasjmy. Menurut TA Sakti, koran ini diterbitkan oleh Ikatan Pemuda Indonesia yang dipimpin Hasjmy. Suara Merdeka terbit sejak 18 Oktober 1945 hingga 14 September 1950. Untuk mencetaknya digunakan mesin cetak milik Atjeh Shinbun.

Pada 23 Oktober 1945, Suara Merdeka memuat berita berjudul “Negara Republik Indonesia telah diakui”. Isinya memberitakan pengumuman resmi penguasa tertinggi pasukan sekutu untuk Asia Tenggara yang berkedudukan di Singapura. Pengumuman berisi antara lain, Panglima Sekutu bagi Indonesia, Jenderal Philips Christison, tidak diberi kuasa mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia. Urusan politik Indonesia juga diserahkan dan diakui keberadaannya di bawah pemerintahan Republik Indonesia.

Namun, Belanda yang bersembunyi di balik sekutu punya rencana lain. Setelah kemerdekaan diproklamirkan, Belanda melancarkan dua serangan. Rakyat Aceh yang telah mendengar proklamasi kemerdekaan pun tak tinggal diam dan melawannya.

Komentar

Loading...