Akibat Covid-19, Pasar Aceh Masih Sepi Pembeli

Akibat Covid-19, Pasar Aceh Masih Sepi Pembeli
Suasana di depan Pasar Aceh, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

KBA.ONE, Banda Aceh - Sejak awal wabah pandemi Covid-19 menyebar secara global, tak terkecuali Aceh, perilaku masyarakat di semua sektor mengalami perubahan, termasuk sektor ekonomi.

Akibat virus ini, banyak pelaku usaha, baik Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), dan pedagang banting setir agar tetap bertahan di tengah krisis ekonomi yang dialami sekarang ini, bahkan ada yang sampai gulung tikar. Namun, tidak sedikit dari mereka tetap bertahan walaupun mengalami kesulitan ekonomi di tengah pandemi Covid-19.

Seperti pengakuan Fitri, salah seorang penjual pakaian di Pasar Aceh, Banda Aceh. Sejak berjualan dua tahun lalu, ia mengaku belum pernah merasakan omzet penjualannya menurun gara-gaRa tidak ada pembeli. Apalagi di bulan-bulan awal pandemi Covid-19 merebak sampai ke Aceh, “memang sepi sekali,” katanya, Selasa 22 Desember 2020.

Tetapi, melihat pendapatannya sangat minim dari biasanya, gadis 21 tahun ini tetap bertahan untuk berjualan secara offline. Fitri belum memiliki alternatif lain untuk berjualan, seperti melalui media sosial untuk promosi. Menurutnya, jika berjualan di pasar lebih banyak orang yang berlangganan.

Di toko yang ia sewa seukuran 4x4 meter itu, Fitri menjual beberapa jenis pakaian wanita, seperti baju, celana, rok, gamis, dan lainnya. Sejak awal pandemi, untuk mendapatkan barang, Fitri mengaku belanja via online. Namun sejak Oktober 2020, ia mulai belanja lagi ke Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Tampak Pasar Aceh minim pengunjung selama pandemi. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Kini Fitri mulai bangkit dan harus membenahi kembali pendapatannya. Masih banyak kebutuhan yang harus dipenuhi, termasuk sewa lapak toko yang berkisar antara Rp45-50 juta per tahunnya. Fitri berharap pandemi Covid-19 ini segera berakhir, agar perekonomian masyarakat kembali normal.

Hal serupa juga dirasakan Halimatun Sakdiah. Sejak awal pandemi, perempuan 26 tahun ini mengaku penjualannya menurun drastis. “Dulunya, ada banyak orang luar daerah dan mancanegara yang berbelanja. Kini, hanya masyarakat setempat dan jika pun ada dari luar daerah minim sekali,” ungkapnya kepada KBA.ONE.

Wanita asal Kota Lhokseumawe ini menuturkan sebelumnya omzet yang didapatkannya dari menjual pakaian pria tersebut mencapai Rp2,5 juta sehari. Namun saat pandemi, per harinya hanya Rp250 ribu hingga Rp1 juta.

Halimatun mengaku berjualan pakaian tidak hanya secara offline, tetapi juga melalui aplikasi shopping. Namun, di tengah kondisi saat ini, ia hanya mendapat keuntungan sekitar Rp50 ribu perhari. Ini terjadi karena sepinya pembeli. “Terlebih, sekarang kuatnya daya saing dengan pebisnis online shop,” lanjutnya.

Ia berharap situasi ini bisa normal seperti sedia kala sebelum terjadi pandemi Covid-19 penjualannya bisa lebih meningkat. "Sayang juga seperti pedagang lainnya, apalagi yang sewa toko dan mata pencariannya hanya di sini. Mudah-mudahan cepat berakhir pandemi ini," harapnya.

Suasana di dalam Pasar Aceh. | Foto: KBA.ONE, Ulfah

Penjual lainnya, Rahmat, 28 tahun, yang sudah berjualan di Pasar Aceh sejak 2009, menyampaikan sebelum pandemi, pengunjung Pasar Aceh ini bisa sampai ribuan. Namun, kini tidak ada lagi, “mungkin karena adanya imbauan dari pemerintah dan masyarakat juga takut akan kerumunan,” sebutnya.

Jika dibandingkan dengan Maret hingga Oktober, dua bulan terakhir 2020 ini sudah mulai muncul pendatang lokal maupun luar daerah. Rahmat berharap pengunjung pasar kembali ramai dan banyak pelanggan. “Moga-moga cepat selesai masalah Corona ini, dan ekonomi kita kembali stabil," tutupnya.*

Komentar

Loading...