Alfina; antara Hijab, Niqab dan Rambutan

Alfina; antara Hijab, Niqab dan Rambutan
Alfina, hijab dan niqabnya. | Foto: Try Vanny.

Alfina enggan mengganti pakaian syar'i yang menutup tubuhnya seperti kebanyakan petani dan pekebun lain.

KBA.ONE, Lhokseumawe - Apa yang terbesit di pikiran saat mendengar kata petani? Barangkali yang tergambar adalah sosok pria berpakaian jelek, kotor, lusuh, tanpa alas kaki, dan memanggul cangkul. Berbeda halnya dengan petani rambutan satu ini; Alfina, 53 tahun, warga Gampong Alue Lim, Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

Memanfaatkan lahan pekarangan rumahnya seluas sekitar satu hektare, atau 10.000 meter persegi, perempuan paruh baya ini serasa menemukan kebahagiaan tersendiri ketika ia memutuskan untuk menanam dan merawat 100 batang aneka jenis pohon rambutan.

Uniknya, ibu empat orang anak, ini bertani dengan menggunakan style hijab sekaligus niqabnya. Alfina enggan mengganti pakaian syar'i yang menutup tubuhnya seperti kebanyakan petani dan pekebun lain. Bahkan, Alfina bergeming mengenakan gaya busana muslimahnya meski hawa panas matahari menyengat serasa membakar tubuhnya. 

Rutinitas Alfina ketika musim panen rambutan tiba. | Foto: Try Vanny.

"Lebih nyaman kalau petik buahnya sendiri. Saya banyak waktu senggang juga karena tidak bekerja," kata Alfina kepada KBA ONE, Rabu 29 Agustus 2018, sembari memetik buah rambutan yang siap untuk dijual.

Walau berprofesi sebagai ibu rumah tangga dari seorang karyawan swasta, istri dari Syahrial, 55 tahun,  ini memilih berkebun untuk mengisi waktu senggang kesehariannya. Selain itu, di lain kesempatan, Alfina juga mengajarkan tata cara bercocok tanam kepada delapan orang cucunya.

Setelah memetik buah rambutan miliknya, Alfina dengan cekatan merangkai dan mengikat tangkai pertangkai buah rambutan itu untuk kemudian dijual kepada pedagang buah di pasar. Tapi, ketika musim panen tiba, tidak jarang juga para agen buah berdatangan membeli langsung rambutan di kebun Alfina. Harga yang Alfina tawarkan bervariasi, tergantung kualitas buah rambutannya. 

Tapi, untuk panen kali ini Alfina mengaku merugi. "Buahnya kecil-kecil dan kadar airnya pun kurang. Ini pengaruh cuaca kemarau yang panjang sehingga harga jual rambutan jadi murah," jelas Alfina.

Kata Alfina, satu ikat buah rambutan hasil kebunnya dijual dengan harga Rp4.000,-  hingga - Rp5.000,-  Buah ini biasanya tidak bisa bertahan lama. Dari waktu dipetik, buah rambutan hanya bisa bertahan sekitar 3 hari untuk dikonsumsi. Lewat dari itu,  kulit rambutan akan berubah menjadi kehitam-hitaman, tidak segar lagi. 

Lalu, seberapa lama pula Alfina bisa bertahan melindungi kulit aurat dari pandangan lelaki bukan mahram dan hawa panas di balik hijab dan niqabnya? "Kalau soal pakaian, saya sudah nyaman seperti ini, meski sedikit ribet," kata Alfina, menutup cerita panen rambutan di balik gaya berpakaian ala petani di jazirah Arab, sebuah semenanjung besar di Asia Barat Daya. ***

Komentar

Loading...