Anak Aceh Miliki Kualitas dan Potensi Luar Biasa

Anak Aceh Miliki Kualitas dan Potensi Luar Biasa
Tiga siswi SMA Negeri 3 Banda Aceh meraih penghargaan Embodying Respect Award PDWC. | Foto: KBA.ONE, Fitri

Tenaga didik saat ini dituntut harus melek teknologi agar bisa beradaptasi. Supaya tidak ketinggalan zaman dan dapat mengimbangi anak didik yang cenderung lebih adaptif terhadap teknologi.

KBA.ONE, Banda Aceh – Aceh merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang diberi status keistimewaan, khususnya di sektor pendidikan. Ini dibuktikan dengan diperingatinya Hari Pendidikan Daerah (Hardikda) Aceh, dengan diresmikannya Kopelma Darussalam oleh Presiden Soekarno, pada 2 September 1959.

Memperingati Hardikda, menjadikan suatu refleksi untuk mengenang kembali sejarah dan perkembangan dunia pendidikan di Aceh, hingga dapat mengukir generasi yang cemerlang bahkan mampu mengharumkan nama daerah Aceh ke kancah nasional maupun internasional.

Bertepatan dengan peringatan Hardikda ke 62, Kamis 2 September 2021, Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, mengungkapkan pendidikan bukan hanya tentang edukasi, tetapi pendidikan adalah arti untuk memberikan sebuah nilai.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri, ketika memantau kegiatan belajar semester genap pada hari pertama belajar tatap muka di SMKN 3 Lueng Raya, Banda Aceh. | Foto: Ist

Menurutnya, pendidikan bukan pula sekadar ajar, tetapi arti untuk membentuk etika moral dan nilai. “Pendidikan juga bukan sekadar kecerdasan, tetapi adalah cara untuk memberikan keteladanan,” kata Alhudri.

Alhudri berharap momentum Hardikda ini dapat dijadikan sebagai pendorong semangat, dalam menguatkan sistem pendidikan Aceh yang istimewa. Demi terciptanya Sumber Daya Manusia (SDM) yang lebih hebat, kreatif, inovatif, cerdas, serta berakhlak mulia.

Walaupun, kata Alhudri, di tahun 2021 pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) belum berakhir, namun bukan berarti menjadi penghalang untuk meneruskan pendidikan, demi meningkatnya mutu generasi emas di masa yang akan datang.

Ia menilai, saat ini anak-anak di Aceh memiliki kualitas dan potensi yang luar biasa, dan tidak kalah bagus jika dibandingkan dengan daerah lain yang ada di Indonesia. Ini dikatakannya saat menyaksikan langsung keahlian para siswa pada kegiatan Lomba Kompetensi Siswa (LKS) SMK se-Aceh untuk berbagai jurusan vokasi beberapa waktu lalu di Banda Aceh.

Menurutnya, anak-anak Aceh ini bisa lebih unggul, jika dibina dengan baik dan tepat. “Mereka ibarat berlian yang perlu mendapat penanganan yang tepat, sehingga dapat memiliki nilai jual yang tinggi,” ungkap Alhudri.

Kepala Dinas Pendidikan Aceh, Alhudri. | Foto: Ist

Tak hanya itu, sebelumnya Alhudri juga telah menerima kado yang istimewa dari SMA Negeri 3 Banda Aceh, yaitu meraih penghargaan Embodying Respect Award PDWC Japan 2021. Pencapaian ini merupakan salah satu dari sekian banyak generasi emas yang telah mengharumkan nama daerah Aceh, khususnya di bidang pendidikan.

Dalam memperingati Hardikda Aceh ke 62 ini, Gubernur Nova Iriansyah mengatakan momentum ini harus dimanfaatkan untuk membentuk generasi berkualitas, sehingga akan mampu membawa perubahan menuju Aceh yang hebat. Selain itu, juga untuk mengevaluasi diri, sejauh mana pendidikan yang telah diraih sekarang ini.

Karena itu, Nova mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bergerak bersama dan memiliki tekad yang sama, dalam melahirkan generasi muda yang cakap, religius, pekerja keras, dan memiliki karakter ke Acehan.

“Sehingga akan melahirkan generasi unggul untuk membuat Aceh menjadi hebat, karena pendidikan merupakan salah satu program pembangunan Pemerintah Aceh,” kata Gubernur Aceh, Nova Iriansyah.

Gubernur Aceh,Nova Iriansyah,didampingi Kepala Dinas Pendidikan Aceh,Alhudri, ketika meninjau salah satu SMA untuk melihat proses belajar mengajar di masa pandemi Covid-19. | Foto: Ist

Selain itu, Pengamat Pendidikan Aceh, Hamdani mengatakan bertepatan peringatan Hardikda ke 62, menjadi momentum untuk meningkat mutu pendidikan di Aceh. Terutama di era digital, tidak hanya peserta didik, tenaga didik dituntut untuk terus memperkuat literasi digitalisasi.

Kata dia, pandemi telah membuat orang menjadi sangat bergantungan dengan digital terutama dunia pendidikan. Digitalisasi di dunia pendidikan yang paling sering digunakan saat ini adalah pembelajaran dalam jaringan (daring).

"Untuk itu, tenaga didik saat ini dituntut harus melek teknologi agar bisa beradaptasi. Supaya tidak ketinggalan zaman dan dapat mengimbangi anak didik yang cenderung lebih adaptif terhadap teknologi," kata Hamdani, kepada KBA.ONE, Jumat, 10 September 2021.

Dilihat dari data Kementerian Pendidikan Berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas), lanjutnya, kualitas guru yang layak mengajar saat ini sudah sampai 90 persen. Dari data itu dapat disimpulkan kualitas tenaga didik sudah lebih bagus.

"Tetapi kita tidak tau kualitas seperti apa yang dihitung menurut data yang dirilis. Apakah hasil Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diuji sudah termasuk kemampuan menguasai digital atau tidak," sebutnya.

Hamdani, Pengamat Pendidikan Aceh. | Foto: Ist

Hamdani menyampaikan untuk mendorong kemampuan digitalisasi guru. Pemerintah Aceh harus membuat pelatihan yang berkaitan dengan digital. Kemudian, pemerintah juga harus mendukung infrastruktur yang dibutuhkan dalam pelatihan tersebut.

Sementara itu, Hamdani menjelaskan pendidikan secara umum di Aceh sekarang sangat bervariasi progresnya. Terutama di daerah yang terdampak Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 4.

"Itu memang sangat memprihatinkan. Kegiatan tatap muka tidak bisa dilakukan sekarang, semua harus dilakukan secara daring," ujar Hamdani. (Adv)

Anara

Komentar

Loading...