Anggota DPRA ke Jerman dan Belanda, Ada Keperluan Apa?

Anggota DPRA ke Jerman dan Belanda, Ada Keperluan Apa?
Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah di Belanda | Twitter@niriansyah

Namun, Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah memang mengunjungi Belanda pekan ini.

KBA.ONE, Banda Aceh – Sejumlah Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh atau DPRA dikabarkan melakukan kunjungan kerja ke Jerman dan Belanda. Para wakil rakyat Aceh itu juga dikabarkan berangkat bersama Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah.

"Dari informasi yang kami terima, mereka berangkat malam Kamis kemarin dari Jakarta. Rabu sebelumnya mereka berangkat dari Aceh,” ujar Koordinator Lembaga Masyarakat Transparansi Aceh atau MaTA, Alfian, kepada KBA.ONE, Jumat, 10 November 2017.

Namun, Alfian, tak dapat memastikan jumlah anggota dewan yang berangkat. Ini keberangkatan ketiga anggota DPRA selama 2017. Sebelumnya, kata Alfian, para legislator juga dikabarkan berangkat ke berbagai negara khususnya Eropa, seperti Norwegia, Finlandia, Turki, termasuk Belanda. “Kalau Jerman baru kali ini. Yang kami tahu ada dua komisi yang berangkat. Salah satunya komisi IV, mereka berangkat bersama wagub,” ujarnya.

Fenomena pelesiran anggota DPRA, kata Alfian, kerap terjadi saban tahun. Protes-protes yang dilakukan publik, menurutnya juga tidak pernah direspons. “Solusinya, partai politik harus mengawasi kinerja dan kebijakan kader mereka di parlemen. Ini juga penting untuk menjaga kepercayaan partai politik terhadap publik, apalagi ini menjelang pemilu 2019,” ujar Alfian.

Kelemahan terbesar saat ini, kata Alfian, ada di partai politik yang tidak lagi mengawasi anggota mereka di parlemen. “Hubungannya saat ini hanya sebatas setoran atau hak-hak dana wajib untuk partai saja. Seharusnya partai juga melakukan kajian apa yang dilakukan anggotanya di parlemen, salah satunya mengenai kunker luar negeri,” ujarnya.

Para anggota dewan yang pelesiran ke luar negeri, kata Alfian, beberapa tahun ini juga melakukannya secara diam-diam. “Mereka pergi dan pulang diam-diam, bahkan partainya juga kadang tidak tahu. Laporan ke publik mengenai manfaat kunjungan mereka ke luar negeri juga tidak pernah ada,” ujarnya.

Kunjungan anggota dewan ke luar negeri, tambahnya, dipastikan menelan biaya sangat besar. Menurutnya, anggaran itu lebih baik digunakan untuk kepentingan publik lainnya.

Alfian memperkirakan, dalam kunjungan kerja dewan ke luar negeri selama 2017 saja telah menelan biaya Rp10-15 miliar. “Untuk 2016, dari data yang kami terima kunjungan kerja mereka ke Lhokseumawe, uang sakunya saja per harinya untuk satu orang mencapai Rp1,6 juta. Bayangkan saja kalau ke luar negeri, tentunya lebih besar. Belum lagi biaya-biaya lain,” ujarnya.

Selain itu, kata Alfian, kunjungan ke luar negeri berpotensi terjadinya markup. Berangkat lima hari tapi dilaporkan selama tujuh hari. "Dari 81 orang, memang tidak semua anggota DPRA yang berangkat. Itu kembali ke hati nurani masing-masing, atau ada kebijakan partai yang melarang kadernya berangkat. Namun ada juga dugaan yang tidak berangkat tetapi, mengambil anggarannya saja."

Kepada DPRA, khususnya Sekretaris Dewan yang merupakan Kuasa Pengguna Anggaran, Alfian meminta untuk dapat membuka informasi ke publik mengenai siapa-siapa saja anggota dewan yang berangkat ke luar negeri serta melaporkan hasil kunjungan luar negeri tersebut. “Ini penting untuk keterbukaan informasi publik, agar masyarakat juga dapat menilai kinerja wakil mereka di parlemen, dan apa manfaat dari kunjungan luar negeri itu untuk masyarakat,” ujarnya.

Alfian mengharapkan pelesiran ke luar negeri dengan menggunakan uang rakyat yang terkesan jalan-jalan tersebut tidak lagi dilakukan pada 2018. “Partai politik harus tegas soal ini dan mengontrol kebijakan dan kinerja kader mereka di parlemen,” ujarnya.

Sementara itu dua pimpinan DPRA, Teungku Muharuddin dan Irwan Djohan, serta Sekretaris Dewan A Hamid Zein ketika dikonfirmasi belum memberikan jawaban. Pesan singkat yang dilayangkan KBA.ONE ke telepon genggam mereka belum ditanggapi.

Namun, Ketua Fraksi Partai Aceh Iskandar Usman menjawabnya. Hanya saja, Iskandar tak mau juga menanggapi lebih lanjut. "Saya belum dapat kabar, tanyakan ke Sekwan saja," ujarnya. Hal sama juga dilakukan oleh Kepala Biro Humas Pemerintah Aceh Mulyadi Nurdin yang belum menanggapi perihal keberangkatan Wakil Gubernur Aceh bersama anggota DPRA.

Namun, Wakil Gubernur Aceh Nova Iriansyah memang mengunjungi Belanda pekan ini. Informasi yang diperoleh KBA.ONE, Nova mengunjungi 10 orang guru training yang sedang mengikuti pelatihan di Belanda. Nova memposting foto-foto dan video di akun Twitternya @niriansyah pada 8 dan 9 November 2017.

Nova mengunjungi 10 orang guru yang sedang mengikuti pelatihan di Belanda | Twitter@niriansyah

Di sebuah video terlihat Nova berada di sebuah pabrik mobil milik Innovam yang disebutnya sebagai lembaga pelatihan dan pengujian keahlian otomotif multibrand di Belanda. Nova juga mengunggah foto kunjungannya ke Kedutaan Besar Republik Indonesia di Den Haag, Belanda. Di foto terlihat Nova dan beberapa orang termasuk sosok yang mirip A Hamid Zein, Sekwan DPR Aceh dan beberapa orang lainnya.

Informasi lain yang diperoleh KBA.ONE, di Innovam kini juga ada beberapa siswa SMK di Aceh yang sedang mengikuti pelatihan. "Salah satu misi program Kerja Pemerintah Aceh ingin menciptakan tamatan SMK dapat Go International di 2018. Dan program ini di sambut baik oleh Representatif/wakil DUBES Indonesia untuk Netherlands Bpk. Ibnu Wahyutomo di KBRI den Haag, dan beliau akan mendukung Program Kerjasama ini," tulis Nova Iriansyah di akun Facebooknya.

Komentar

Loading...