Arsene Wenger dan 5 Alasan Bertahan di Arsenal

Arsene Wenger dan 5 Alasan Bertahan di Arsenal
Ilustrasi

Bertahun-tahun seperti kisah cinta yang dibawa mati, Wenger tetap bertahan mengendalikan Arsenal, di London Utara yang udara dan cuacanya tak sehangat Strasbourg.

JIKA dalam lima tahun terakhir mahkota Liga Inggris bergantian direbut oleh Chelsea, Manchester City, Leicester City, Arsene Wenger masih di tempat biasa. Ketika Mourinho sudah kehabisan akal di Spanyol akibat rivalitas Barca-Madrid yang terlalu didramatisasi itu, lalu kembali ke Inggris, Wenger setia bertahan di Emirates Stadium.

Bertahun-tahun seperti kisah cinta yang dibawa mati, Wenger tetap bertahan mengendalikan Arsenal, di London Utara yang udara dan cuacanya tak sehangat Strasbourg, kota kelahirannya di perbatasan Perancis-Jerman.

Siapa Arsene Wenger? Anda yang mendaku diri sebagai pecinta sepakbola pasti mengetahuinya. Tapi jika Anda pecinta melodrama India yang ceritanya penuh kucuran air mata itu, ada baiknya menyimak sedikit ulasan (yang tidak penting ini) tentang Wenger.

Wenger pelatih terlama yang pernah dimiliki Arsenal ketika tertatih-tatih meraih trofi Liga Inggris pada masa lalu. Jika pelatih lain umumnya hanya mampu bertahan setahun dua tahun, Wenger tetaplah abadi. Mungkin, seabadi bunga edelweise, atau es di puncak Cartenzs Papua.

Bayangkan, ia mengampu Arsenal sejak 1996. Bayangkan lagi, jika ada seorang bayi yang lahir di tahun itu lalu menjadi suporter Arsenal hingga sekarang, sudah seberapa besar "si anak malang" itu?

Lalu, kenapa Wenger mampu bertahan selama itu dan hanya mampu memenuhi lemari kaca Arsenal dengan sederetan "piala kaleng"? Setidaknya, ada lima alasan yang perlu Anda ketahui, kenapa Wenger tak kunjung disepak Arsenal. Alasan-alasan ini tentu saja dibuat dengan penuh konspirasi, absurd, alih-alih masuk akal.

1. Warung Kopi

Di London Utara atau dekat stadion, Wenger mungkin punya warung kopi yang ia bangun pada tahun pertamanya menjadi pelatih Arsenal. Namanya, mungkin Wengerbuck, Wengercoffeeshop atau ia punya nama lokal: Warkop Wenger. Karena alasan inilah, Wenger enggan meninggalkan London Utara. Di kota Arsenal itu, warkopnya telah mendapat banyak pelanggan. Wenger takut pelanggannya pindah, jika ia tak sering kelihatan di sana. Apalagi, beberapa tahun belakangan, ia mencoba berekspansi ke seantero Arsenal dengan mendirikan cabang-cabang warkop, mirip yang dilakukan "taipan warkop" semacam Cutnun dan Solong yang ada di Banda Aceh.

2. Saham

Media-media Inggris telah lama curiga Wenger memiliki saham dominan di Arsenal. Cuma karena ia malu memperlihatkannya kepada publik, Wenger enggan mengakui. Padahal, duit Wenger begitu banyak dipakai untuk membeli pemain baru. Ia mampu membeli Dybala, bila ia suka. Duitnya dari mana? Bisa jadi dari omzet warkop yang diputar tadi atau sebaliknya. Atau dari hasil menjual kaos stadion yang dipajang di warkop dan laris manis lalu uangnya balik ke klub lagi.

3. #TheWengerIn

Masih ingat kejadian musim lalu? Sebuah pesawat, katanya ditumpangi fans Arsenal melintas di atas kota membawa tulisan 'Wenger Out'. Maksudnya Wenger disuruh pergi dari Arsenal, jangan balik-balik lagi. Eh, tak lama ada pesawat serupa menyalip di udara membawa tulisan berbeda: 'Wenger In'. Ternyata, di balik sejumput fans yang begitu keki melihat Wenger, ada kerumunan suporter Arsenal yang cinta hidup dengan Wenger. Apakah fans (Wenger In) ini sudah ada sejak lama dan dibuat oleh Wenger untuk mengukuhkan posisinya sebagai pelatih abadi? Bisa jadi demikian. Artinya, ketika ada suporter yang tidak suka kepadanya, Wenger akan menyuruh fans setianya membela dirinya. Mereka diikat perjanjian rahasia semisal yang dilakukan ordo-ordo ksatria Templar yang kata Harun Yahya di dunia modern ini menjelma menjadi iluminati.

4. Politik

Agak ada hubungannya dengan nomor 3. Sejak awal Wenger menernakkan fans yang ujung-ujungnya menggalang dukungannya menjadi wali kota Arsenal. Ini tujuan Wenger ketika nanti sudah tiba waktunya pensiun sebagai manajer. Bisa jadi pula, alasan fans-fansnya itu mempertahankan Wenger bukan demi Arsenal. Bukan sama sekali! Wenger dipertahankan agar kepamorannya tetap bertahan dan setelah itu ia mulus masuk dunia politik. Soal politik Wenger ini, kita patut curiga, fans yang mempertahankannya sekarang bukanlah The Gunners asli. Bisa jadi mereka hanyalah timses yang menyaru.

5. Trofi Terakhir

Ini keajaiban bagi klub sekelas Arsenal: meraih tropi Liga Inggris sebagai oleh-oleh terakhir sebelum Wenger pergi. Bila sebagian orang melihat "Meriam London" kian hari makin kopong mesiunya, tidak bagi Arsenal. Bertahun-tahun Arsenal memumpuk kepercayaan diri tinggi bahwa suatu hari trofi liga akan mereka raih lagi. Untuk itu, kuncinya hanya satu: menang terus. Jangan kencang di awal tapi melempem di ujung musim. Persoalannya, di atas lapangan hijau, hal ini tak semudah yang dibayangkan. Apalagi bagi Arsenal. Nah, jika itu yang terjadi lagi, lupakan kelima alasan ini.

Komentar

Loading...