Arung Jeram di Sungai Alas

Arung Jeram di Sungai Alas
Arung jeram di Sungai Alas | Foto: Romi

KBA.ONE, Kutacane - Aceh Tenggara terletak di ketinggian 25 hingga 1.000 meter dari permukaan laut merupakan daerah yang dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Daerah ini dikenal dengan hutannya yang terjaga dan terdapat suaka alam Taman Nasional Leuser yang menjadi tempat konservasi bagi flora dan fauna dilindungi.

Gunung leuser tidak hanya dikenal dengan keindahan alamnya saja, tetapi juga dikenal sebagai tempat wisata ekstrem seperti arung jeram di Sungai Alas. Arung jeram di sungai ini dikenal hingga ke mancanegara. Bahkan sering dijadikan sebagai event-event arung jeram Internasional. Wisatawan asing yang paling banyak datang ke daerah ini seperti dari Amerika, Belanda, Jerman, dan Perancis.

Dengan panjang sungai sekitar 32 kilometer, arung jeram di Sungai Alas memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Mulai tingkat yang mudah hingga yang cukup sulit untuk ditaklukkan.

Selain merasakan sensasi rafting sambil melewati jeram-jeram yang menantang untuk ditaklukkan, wisatawan akan dimanjakan dengan keindahan alam yang masih terjaga kelestariannya. Tak jarang, wisatawan juga akan menjumpai satwa liar seperti monyet dan berbagai jenis burung.

Romi, warga Desa Ketambe mengatakan kepada KBA.ONE, 12 Desember 2017, biaya rafting yang dikeluarkan wisatawan asing sebesar Rp500 ribu dan lokal Rp300 ribu. Biaya ini sudah termasuk perlengkapan rafting, tenda untuk kemping dan lain-lain.

Johan, warga Ketambe yang menjadi pengelola arung jeram di daerah tersebut mengatakan alasan ia berkecimpung di dunia tersebut karena ingin menjaga kelestarian alam. Awalnya, ia melihat penebangan liar semakin berlanjut oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab untuk dijadikan bisnis pribadi. Kayu dibawa dengan cara dihanyutkan melalui Sungai Alas. Pada 2006, dia memutuskan untuk keluar dari salah sebuah lembaga swadaya masyarakat di daerah tersebut dan akhirnya mengelola salah satu objek wisata arung jeram di daerah Ketambe.

Sangat disayangkan, sampai saat ini objek wisata di Aceh Tenggara sebagian besar tidak dikelola oleh masyarakat setempat, tetapi dikelola oleh orang-orang dari luar Aceh bahkan warga negara asing. Dengan peraturan yang telah ditetapkan oleh berbagai pihak membuat warga setempat tidak banyak mendapat pemasukan dari tempat wisata di daerahnya sendiri.

Ulfa

Komentar

Loading...