Asal Tahu Cara Enak Hidup

Asal Tahu Cara Enak Hidup
ilustrasi: black-sheep88, Deviantart.

MEMASUKI penanggalan baru dalam sistem kalender Hijriah ini hendaknya dilakukan dengan membuka mata dan pikiran. Ini adalah saat yang tepat untuk berpikir positif dan bertindak positif. Sudah terlalu lama masyarakat dijejali dengan informasi yang berat dan seperti tak masuk akal.

Ada kisah tentang seorang anak tega memukul ibu dengan rantai motor hanya karena tak diberikan uang untuk membeli sabu-sabu. Atau anak yang tega menghabisi nyawa ibu kandungnya.

Ada juga kabar tentang abang dan adik yang memperkosa anak di bawah umur. Benar-benar tindakan gila. Tapi kita harus benar-benar berpikir terbuka dan menerima hal ini sebagai konsekuensi dari seluruh proses yang kita alami sehari-hari, dampak dari berbagai hal, dari makanan hingga tontonan.

Lantas bagaimana kita bersikap atas rencana Pemerintah Aceh membeli enam unit pesawat terbang? Ini harus disikapi dengan pikiran terbuka. Dengan luasnya perairan Aceh, tentu akan lebih mudah mengawasi para pencuri ikan dan penyelundup sabu-sabu yang kerap berkeliaran di perairan Aceh.

Dengan pesawat ini, Pemerintah Aceh berharap mampu menutupi kekurangan patroli laut yang kerap keteteran saat berhadapan dengan para pencuri atau penyelundup karena kalah teknologi. Belum lagi mereka memiliki jaringan kuat di darat, yang siap mendistribusikan barang selundupan dengan mudah dan aman.

Tentu saja kita mungkin bertanya-tanya, "apakah semua ini cukup?" Karena pesawat ini harus juga dilengkapi dengan teknologi yang dapat mendeteksi isi geladak kapal dari kejauhan sepertinya lebih mahal dari harga pesawat. Bahkan para aktivis penyelamat lautan di Amerika Serikat belum mampu menggunakan teknologi ini untuk melawan para pemburu hiu dan paus dari Jepang.

Tapi sudahlah. Kita tak perlu terlalu berpolemik, terutama di laman facebook. Termasuk saat mengetahui rencana Pemerintah Aceh menggelar even Tsunami Cup yang tertera di halaman rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh-Perubahan 2017, dokumen sama yang memuat rencana membeli enam pesawat itu. Atau saat mengetahui durasi kerja para pegawai kontrak di Pemerintah Aceh hanya 50 jam sebulan.

Kita hanya perlu berpikir positif dan menyesuaikan rencana ini ke dalam pikiran. Seperti air dimasukkan ke dalam wadah. Mungkin dapat dibicarakan, tapi jangan sampai mengacaukan rencana ini. Ini semua tentu dipikirkan matang-matang oleh para pemimpin. Biarkan mereka melaksanakan kehendak mereka. Ini Aceh. Mudah-mudahan tak jadi akronim: Asal tahu Cara Enak Hidup.

Komentar

Loading...