Asal Usul Sejarah Kampung India di Tanah Deli

Asal Usul Sejarah Kampung India di Tanah Deli
Kampung Madras di Medan. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Pada zaman penjajahan, Belanda mendatangkan orang-orang dari India untuk dipekerjakan sebagai buruh di perkebunan.

MEMASUKI ruas Jalan KH Zainul Arifin Medan, di antara gedung pencakar langit terdapat sebuah kawasan yang memiliki ciri khas tersendiri. Di masing-masing ujung jalannya berdiri gagah gapura bertuliskan "Welcome to Little India," dengan corak warna merah bercampur oranye.

Sebuah kuil besar di persimpangan jalan, kelihatan lebih menonjol di antara bangunan lainnya. Banyak orang di sana berparas menyerupai Kajol dan Shah Rukh Khan, pemain film Kuch Kuch Hota Hai yang sempat populer di Indonesia di era 90-an. Ini semakin menambah daya tarik dan nilai estetika saat berkunjung ke wilayah itu.

Kampung Madras, begitulah sebutannya. Jika hanya sekadar melintas di Jalan KH Zainul Arifin, mungkin Kampung Madras tampak biasa-biasa saja. Namun jika ditelusuri lebih dalam, kampung ini rupanya berlumuran cerita menarik dan nilai-nilai sejarah di dalamnya.

Seperti yang dikatakan Pinandita M Manogren, Wakil Ketua Majelis Tinggi Agama Hindu di Sumatera Utara, kepada KBA.ONE, di kampung itu terdapat tiga zaman yang diikuti masuknya masyarakat India ke Indonesia. Dimulai dari zaman kerajaan, zaman penjajahan, dan zaman kemerdekaan. 

M Manogren. |  | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

"Pada zaman kerajaan saja sudah masuk kerajaan Hindu, lalu terjadi pergeseran dengan masuknya ajaran agama Islam. Jadi, kalau kita tarik sejarah, awalnya Indonesia itu memang beradaptasi dengan budaya kerajaan Hindu," ucap pria yang biasa dipanggil Mano itu.

Mano menjelaskan lebih lanjut, pada zaman penjajahan, Belanda mendatangkan orang-orang dari India untuk dipekerjakan di perkebunan. "Memang orang India ini kalau bekerja sangat disiplin. Mereka pintar menanam tembakau dan daun tembakau itu disusun sedemikian rupa. Maka pada zaman itu terkenal ada tembakau emas yang dikirim hingga ke Eropa," terang Mano.

Setelah itu, tambah Mano, didatangkan juga orang India yang dari utara. "Kalau kita tengok yang jual susu dan pake sorban itu waktu zaman Belanda mereka dipekerjakan jadi security. Karena badannya besar, berjambang, kan? Dan mereka pintar ternak sapi, makanya dari dulu sampai sekarang mereka masih ternak sapi dan jualan susu, mereka itu dari suku Punjabi," kata Mano di kantornya, Parisada Hindu Dharma Indonesia Propinsi Sumatera Utara. 

Masjid Gaudiyah di Kampung Madras.  | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Mengenai jejak sejarah keberadaan masyarakat India di Medan, Mano menjelaskan terdapat banyak sekali bangunan-bangunan bersejarah yang sudah dibangun sejak ratusan tahun silam. "Kuil kami ini, Shri Mariamman, dibangun tahun 1884. Kuil yang di Jalan Kejaksaan tahun 1818 itu, ada lagi di Binjai, rata-rata tahun 18-an."

Sejak 1884 kuil Shri Mariamman pertama kali direnovasi total pada 1988. Saat renovasi, didatangkan ahli ukir langsung dari India Selatan. Setelah tiga tahun, tepatnya pada 23 Oktober 1991, kuil tersebut diresmikan kegunaannya untuk umat Hindu oleh Gubernur Sumatera Utara waktu itu, H Raja Inal Siregar.

"Kalau macam kami suku Tamil, rumah ibadahnya kuil, kalau etnis Bali nyebutnya Pure. Saudara-saudara kita yang Punjabi, dari India Utara, nama rumah ibadahnya Gurdwara," kata M Chandra Bose, pendeta di kuil Shri Mariamman. 

Kuil Shri Mariamman di Kampung Madras. |  | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

"Dan satu lagi kita masuk pada orang kita India Muslim. India Muslim itupun sejak dulu sudah ada di sini. Bukti sejarahnya ada di sini Masjid Jamik, ada juga Masjid Ghaudiyah, itu semua dikelola oleh India Muslim," ucap Mano.

Menurut Mano, kedua masjid tersebut merupakan pemberian Sultan Ma'mun Al Rasyid dari Kesultanan Deli pada 1887. Hal ini dibenarkan M Hanif, salah satu pengurus Yayasan India Muslim Sumatera Utara. "Diberikan sultan Ma'mun pada 1887, tapi kemungkinan dibangunnya masjid ini pada 1890."

Hanif yang memiliki wajah khas India dengan hidung mancung itu sedang duduk di teras Masjid Jamik di Jalan Taruma bakda salat zuhur. Kemudian ia mengajak KBA.ONE masuk ke dalam masjid untuk berbincang. Sama seperti dikatakan Mano, Hanif menjelaskan tidak hanya suku Tamil saja yang datang ke Indonesia, namun ada juga suku Punjabi. "Yang jual-jual susu, yang jual tropi, toko-toko sport itulah kebanyakan orang Sindhi atau Punjabi itu," cerita Hanif. 

Sisi lain Kampung Madras. |  | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Menyambung cerita sejarah panjang yang diutarakan oleh Mano, Hanif menjelaskan berdirinya Kampung Madras awalnya diprakarsai salah satu tokoh keturunan India di Jakarta bernama Dr AS Kobalen, setelah datang ke Medan dan melihat Kampung Madras. Lalu didirikanlah Little India Gate, yaitu gapura besar yang menandakan pintu masuk ke Kampung Madras pada 2019.

Di tempat lain, pada 9 Januari 2020, salah seorang keturunan India lain, Ranggini, berpendapat serupa seperti dikatakan Mano, perihal awal kedatangan masyarakat India di Medan. "Kakek nenek saya asli dari India Selatan, tapi mereka bukan angkatan pertama. Kita tahu bahwa angkatan pertama didatangkan sebagai buruh dan pekerja kebun pada 1873," jelas Ranggini.

Dari Kampung Keling ke Madras

Awalnya Ranggini dan keluarga menetap di Tebing Tinggi, lalu pada 1982 mereka pindah ke Kampung Madras. "Dulu namanya Kampung Keling, tapi kata keling itu kan kurang enak didengar oleh masyarakat Tamil. Karena di suku Tamil gak ada istilah keling itu, kalau di Indonesia keling identik dengan hitam, ya. Jadi diubah lah menjadi Kampung Madras," ucap Ranggini sambil tersenyum.  

Ranggini tengah asyik berbagi cerita dengan Ghandi, wartawan KBA.ONE. | Foto: Ist.

Seperti kebanyakan suku Tamil lainnya, Ranggini juga berasal dari keluarga penganut agama Hindu. Namun sejak kelas 2 SMA Ranggini beserta adiknya memilih menjadi muallaf dan memeluk agama Islam hingga saat ini. "Saya kelas 2 SMA muallaf sama adik, sampai akhirnya sekarang Alhamdulillah orang tua semua udah mualaf juga," kenang Ranggini.

Bagaimana kerukunan masyarakat di Kampung Madras? Baik Manogren, Hanif, dan juga Ranggini berpendapat selaras. Mewakili Parisada Hindu, Mano menyatakan Kampung Madras bisa menjadi pilot project dalam hal kebhinekaan. "Di sini tidak pernah dipersoalkan soal agama, bahkan banyak yang agamanya berbeda tapi bisa nikah di sini, jadi soal kerukunan beragama, Kampung Madras ini cukup baik," ucap Mano. 

Pusat kuliner India di Kampung Madras. |  | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Sedangkan Hanif bilang masyarakat muslim di Kampung Madras tidak pernah bermasalah dengan umat agama lain, begitu sebaliknya. "Alhamdulillah gak pernah ada masalah, ya, bahkan kadang-kadang kalau mereka buat acara, kita ikut datang, kalau acaranya di luar kuil, atau di lapangan," kata Hanif.

Sementara menurut Ranggini, orang India adalah suku pendatang yang paling mudah berbaur dengan suku asli di Indonesia. Dia melihat orang-orang tua dulu yang orang India sering juga memakai kebaya. "Kayak nenek saya itu pake kebaya. Dulu leluhur kami mungkin banyak berbaur dengan suku Jawa, jadi semacam ada akulturasi yang terjadi. Dan saya rasa kerukunan umat beragama di Kampung Madras ini cukup baik, dan tidak pernah terdengar ada konflik antarumat beragama," tutup pensiunan lembaga penyiaran TVRI ini.

Di Kampung Madras kita tidak hanya belajar bagaimana sejarah panjang datangnya masyarakat India hingga sampai ke Tanah Deli. Tapi juga diajarkan bagaimana pentingnya menjaga kebersamaan, sikap toleransi, serta tetap memegang teguh budaya dari leluhur di masa dahulu. ***

Komentar

Loading...