Bakso Wak Kumis: Bertahan Sejak 90-an, Goyang Dibantai Corona

Bakso Wak Kumis: Bertahan Sejak 90-an, Goyang Dibantai Corona
Aneka makanan di warung Bakso Wak Kumis. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Cita rasa bakso Wak Kumis lumayan lezat dan mak nyus. Selain enak dan murah, pelayanannya juga bikin orang betah dan ogah pindah ke warung lain.

KBA.ONE, Medan – Rabu itu, 25 November 2020, waktu masih pagi. Jam menunjukkan pukul 09.30 WIB. Di salah satu gang sempit di kawasan Jalan Adam Malik Medan, tampak seorang pria tua sedang membersihkan mangkuk bakso dan mempersiapkan barang dagangannya.

Dia adalah Pak Paiman. Orang-orang di sekitar situ biasa memanggilnya Pak De. Ada juga yang memanggilnya Wak Kumis. Panggilan terakhir mungkin karena kumisnya lebat meski sudah memutih. Dari sebutan inilah kemudian warung Pak Paiman diberi nama Bakso Wak Kumis.

Pak Paiman membuka warung di pelataran rumahnya. Awalnya dulu, saat pertama kali KBA.ONE berkunjung pada 2015, warung Bakso Wak Kumis masih berukuran sekitar 5x5 meter. Tapi, sekarang sudah tampak lebih luas. Terlihat ada 7 set meja dan kursi panjang di warung ini. Kini, warung Bakso Wak Kumis sudah dapat menampung 40 hingga 50 pelanggan.

Bakso Wak Kumis mulai buka sekitar pukul 10.00 WIB. Tidak jarang pula dibuka lebih awal. Dan tutup menjelang magrib sekitar pukul 18.00 WIB. “Kalau jam 5 sore udah sepi, ya, kita tutup aja habis ataupun enggak baksonya,” ucap Pak Paiman.

Inilah sosok tiga nama satu raga; Pak Paiman, alias Pak De, alias Wak Kumis. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Pak Paimin bercerita dia sudah jualan di Medan sejak 90- an. "Mungkin kamu belum lahir waktu itu,” kata Pak Paiman sambil tersenyum. Pak Paiman mengaku berasal dari Kota Wonogiri, Jawa Tengah. Dan Medan adalah kota perantauannya ke empat. “Pertama kali merantau ke Pontianak, lalu ke Sulawesi Tengah, Pangkal Pinang, akhirnya di Medan,” ucap pria berkumis dan berjenggot putih itu.

Di tengah perbincangan hangat KBA.ONE bersama Pak Paiman, tampak pelanggannya mulai berdatangan. Mereka hendak menikmati bakso khas Wonogiri itu. “Pak De, bakso kosong satu ya!” sapa seorang pelanggan wanita kepada Pak Paiman.

Bakso Kosong adalah istilah yang digunakan di Medan untuk semangkuk bakso beserta kuahnya tanpa campuran mie.

Pelanggan Bakso Wak Kumis kebanyakan pegawai kantoran dan mahasiswa. Karena lokasi warung ini berada di dekat perkantoran dan kampus. Uniknya, banyak dari mereka menikmati bakso ini sebagai menu sarapan pagi.

Berbeda dari bakso pada umumnya, selain menyediakan mie putih, Bakso Wak Kumis juga menyediakan mie instan sebagai pelengkap hidangan. Potongan ayam goreng suirnya cukup banyak, ditambah ceker ayam yang lembut.

Jika beruntung, pelanggan akan ketiban rezeki tulang ayam super besar untuk disantap bersama bakso. Satu porsi Mie Bakso dijual seharga Rp12.000,-. Harga yang cukup murah untuk semangkuk bakso komplit. 

Penampakan tekstur bakso lezat di warung Wak Kumis. | Foto: KBA.ONE, Ghandi. 

Anjlok Dibantai Corona

Menu utama di warung Pak Kumis memang hanya menjual bakso. Tapi untuk makanan pendamping juga disediakan seperti sate hati ampela yang dihargai Rp3.000,- dan risol Rp2.000,- perpotong. Aneka minumannya juga cuma dibanderol mulai dari Rp2 ribu saja. Tersedia es kosong, teh manis dingin, dan aneka minuman lainnya.

Lokasi warung Bakso Wak Kumis ini di Jalan Sikambing Belakang no.12, atau masuk dari Jalan H Adam Malik Medan Petisah. Saat memasuki jalan sempit ini, terlihat beberapa gerobak lain juga berjualan bakso seperti Pak Paiman. Tapi, Warung Bakso Wak Kumis kelihatan paling besar di antara warung lainnya. Dan sudah tertera spanduk bertuliskan Bakso Wak Kumis.

Soal cita rasa, Bakso Wak Kumis memang enak dan mak nyus. Kaldu pada kuah baksonya sudah terasa nikmat tanpa harus ditambah bumbu atau pun sambal. Sedangkan bagi penggila pedas, cabai hijau halus dan saus merah yang disediakan di Warung Bakso Wak Kumis akan menambah cita rasa bakso ini semakin nikmat.

Meskipun hanya warung sederhana, lokasi warung Bakso Wak Kumis lumayan nyaman dan bersih. Pak Paiman juga terlihat ramah melayani setiap pembelinya. Mungkin itulah yang menjadi alasan kenapa warung bakso ini bisa ramai pengunjung. Selain enak dan murah, pelayanannya bikin pelanggah betah. 

Sisi depan warung Bakso Wak Kumis. | Foto: KBA.ONE, Ghandi.

Bagaimana dampak pandemi Corona? Ekspresi wajah Pak Paiman seketika berubah. Sambil menutup senyumnya secara perlahan, Pak Paiman bercerita bahwa omzet warung baksonya menurun drastis.

“Dulu rata-rata setiap hari kita bisa laku 100-150 porsi bakso. Sejak Corona, bukan hanya turun, tapi anjlok, setengah dari biasanya pun gak dapat,” ujar Pak Paiman pasrah.

Menurut Wak Kumis, sekarang ekonomi jadi serba sulit. Ditambah lagi banyak harga sembako naik, khususnya harga ayam yang menjadi bahan pokok pembuatan bakso. Kini, harga ayam mencapai Rp42 ribu per kilogramnya.

“Ini apalagi bentar lagi mau Natal, ya, itu pasti makin naik harga ayam, sampe nanti Imlek tahun depan, itu biasanya gak turun-turun harganya,” tambah Pak Paiman.

Meski sulit, Pak Kumis tetap bersyukur dengan keadaan ini. Menurut dia, bukan hanya dirinya saja yang terkena dampak corona, tapi semua pelaku usaha, baik usaha kecil maupun usaha besar.

“Tapi, ya, kalo dipikir, bukan kita aja yang kena, semua ikut kena dampaknya. Jadi, ya, bersyukur aja, masih bisa hidup aja udah alhamdulillah,” kata Pak Paiman menutup obrolannya dengan KBA.ONE, sambil melepas senyum yang sempat terhenti ketika membahas dampak Corona.

Seperti diketahui bersama, Covid-19 memang berdampak besar bagi semua pelaku usaha. Bahkan resto cepat saji sekelas KFC, Pizza Hut, McDonald dan sejenisnya pun ikut terkena dampaknya. Sampai mereka harus melakukan promo besar-besaran hingga akhirnya terpaksa menjadi pesaing bagi usaha-usaha kecil.*

Komentar

Loading...