Balada Dua ‘Gunung Emas’

Balada Dua ‘Gunung Emas’
Pesawat Dakota RI-001 Seulawah | boombastis.com

Gunung Seulawah, memang, tak mirip Krakatau. Sedikitpun! Malah, nama Seulawah tampak “sial”. Barangkali tak cocok dalam ilmu rasi; perbintangan.

AWAL tahun 1990-an dalam sebuah dialog. Seorang teman dari kantor Pertambangan dan Energi mengabarkan kepada saya: “Seulawah itu gunung berapi aktif.” Saya terkejut. Tetapi, teman itu enteng menjawab: “Kenapa terkejut? Kan, belum pasti kapan meletusnya?”

Empat belas tahun berganti musim (pada awal 2004), secara khusus, saya terbang melintas menumpang Heli Super Puma milik TNI-AU ke Aceh Utara dan Aceh Tengah. Menakjubkan! Puncak Seulawah, cuma beberapa meter dari bilik jendela burung besi itu, dekat sekali, serasa bisa digapai, indah, dan bersahabat.

Saya sempat lupa pesan seram dari teman terdahulu. Semua pupus dari pucuk ingatan gara-gara keteguhan Seulawah menampakkan keindahannya. Kabut yang samar-samar membungkus puncak gunung tertinggi di Aceh itu, melengkapi keraguan Seulawah sebagai bibit berapi aktif. Konon, dari ufuk timur—kami terbang jam 06.00 wib—rona matahari pagi mengintip menyeruput udara pagi; sembunyi malu-malu.

Seulawah tak angker seperti pesan seorang teman. Tak ada wedus gembel. Tak ada bekas kaldera (kawah besar) di sana. Dari ketinggian 5000 feet (kira-kira), Seulawah adalah panorama yang menakjubkan. Pendaki dari mahasiswa pecinta alam (Mapala) sering pelesiran di puncak Seulawah; mengukuhkan pendaki gunung sejati. Tak mengingatkan kita pada rakata (Krakatau).

Ya, Krakatau gunung berapi aktif yang hidup di perut Selat Sunda, antara Pulau Jawa dan Sumatera. Pada 26 Agustus 1883, gunung ini meletus. Dahsyat, terburuk sebelum tsunami Aceh. Sekitar 36.000 jiwa tewas digulung tsunami karena “amarah” Krakatau. Letusannya terdengar hingga ke Alice Springs, Australia, dan pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer dari pulau Jawa. 

Ilustrasi Heli Super Puma TNI-AU. | Foto: ist

Semburan lahar dan awan panas (wedus gembel) mencapai ketinggian 80 km: abunya mengelilingi bumi selama beberapa tahun. Dilihat dari Amerika Utara dan Eropa, cahaya matahari berubah biru; bulan tampak oranye. Tiga perempat tubuh Krakatau hancur terlempar dan membentuk gugusan pulau di Selat itu: Pulau Rakata, Pulau Panjang, dan Pulau Krakatau Besar. Setelahnya, tiga gunung berapi baru nongol: Gunung Rakata, Danan, dan Perbuwatan. Sebuah Petaka spektakuler! Karya Tuhan yang tak tertandingi siapapun!

Gunung Seulawah, memang, tak mirip Krakatau. Sedikitpun! Malah, nama Seulawah tampak “sial”. Barangkali tak cocok dalam ilmu rasi; perbintangan. Coba lihat sejarah pesawat Seulawah RI-001, misalnya, atau pesawat komersial Seulawah NAD Air. Kedua pesawat yang menggunakan kata “Seulawah” itu justru mewariskan persoalan, memicu konflik. Padahal, Seulawah itu artinya “Gunung Emas”.

Sejarah Seulawah RI-001 dimulai dari Hotel Aceh di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 16 Juni 1948. Saat itu Presiden Sukarno berhasil membakar patriotisme rakyat Aceh dan mengumpulkan sumbangan dari rakyat Aceh setara 20 kg emas.

Dana itu kemudian digunakan untuk membeli pesawat Dakota dan menjadi pesawat angkut pertama yang dimiliki bangsa Indonesia. Lalu, pesawat Dakota sumbangan dari rakyat Aceh ini diberi nama Dakota RI-001 Seulawah. 

Gunung Seulawah Agam. | Foto: Mongabay.

Tgk. M. Daud Beureueh, tokoh Aceh yang menjadi Gubernur Militer pada waktu itu, meminta kepada Bung Karno untuk mengizinkan diberlakukannya syariat Islam di Aceh.Tapi, sekembali Soekarno ke Jakarta, janji itu tak juga dipenuhi bahkan Provinsi Aceh digabung dengan Sumatera Utara. Sikap “ingkar” inilah yang kemudian melahirkan pemberontakan DI/TII pada20 September 1953, di bawah pimpinan Teungku M. Daud Beureueh.

Bagaimana dengan Seulawah NAD Air? Setelah 54 tahun pembelian pesawat RI 001 Seulawah yang replikanya teronggok di Lapangan Blangpadang, Banda Aceh, sejarah itu ingin diulang. Pemerintah Aceh mendirikan maskapai penerbangan Seulawah NAD Air pada September 2002. Ini obsesi dari sebuah pengulangan sejarah.

Presiden Megawati Soekarnoputri meresmikan pesawat Seulawah NAD Air di Bandara Sultan Iskandarmuda, Banda Aceh, Rabu 25 September 2002. Saya hadir meliput acara itu, menyaksikan suara Mega yang semula lantang, mendadak melemah, gemetar, tersendat-sendat, dan meneteskan air mata.

Mega terkenang sejarah ketika Presiden Pertama RI Ir Soekarno, ayah kandung Megawati, diberi hadiah pesawat terbang oleh masyarakat Aceh. Perubahan mimik dan nada suara Presiden itu pun membuat para hadirin terpaku.

Di tengah guyuran hujan, di hadapan Gunung Seulawah yang tampak menjulang dari lokasi peresmian, Mega berjanji bahwa tidak akan ada lagi darah tumpah di bumi Aceh. Tapi sayang, janji Mega itu tak berumur panjang. Delapan bulan setelah ia menabur janji, setelah Seulawah NAD Air mengakhiri penerbangannya pada21 Maret 2003, Mega menetapkan dan memberlakukan status darurat militer di Aceh pada 19 Mei 2003. Tanah Aceh sontak menangis karena darah bertumpahan dan nyawa jatuh bergelimpangan.

Itulah elegi sejarah dua “Gunung Emas” di Serambi Mekah. Bapak anak itu merengek menangis di Aceh tetapi mereka pula yang sempat membikin Aceh menangis. Selamat tinggal Bung Karno, juga Mega. Balada dua pesawat Seulawah akan terus mengingatkan kami kepada Anda berdua. Semoga Gunung Seulawah yang kini masih tertidur nyenyak tak bernasib serupa seperti Krakatau; meletus dikarenakan sesak menelan janji-janji manis tuan dan puan presiden!

Komentar

Loading...