Bambu Runcing dan Simbol Digdaya Senjata Perjuangan

Bambu Runcing dan Simbol Digdaya Senjata Perjuangan
Bambu runcing menjadi salah satu unsur dalam monumen pejuang gugur sebagai bunga bangsa koleksi Museum 10 November 1945 di Komplek Tugu Pahlawan, Surabaya, Jawa Timur. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat)

KBA.ONE, Jakarta -- Dua batang bambu runcing terpasang melintang di salah satu sudut area pamer di Ruang Senjata Museum Satria Mandala, Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Bambu runcing itu merupakan bagian pameran dari senjata tradisional yang dipergunakan pejuang pada perang kemerdekaan Indonesiakurun waktu 1945-1949.

Perjuangan mengusir penjajah dari Indonesia menggunakan Bambu Runcing pun menjadi sebuah frasa yang kerap diperdengarkan kembali saat peringatan kemerdekaan Republik Indonesia saban 17 Agustus.

Sejumlah kota, termasuk Surabaya yang dikenal sebagai Kota Pahlawan pun menjadikan Bambu Runcing sebagai monumen tanda perjuangan di wilayah tersebut. Monumen Bambu Runcing yang tegak di Surabaya itu terdapat di jantung kota, yakni Jalan Panglima Sudirman.

Monumen atau tugu bambu runcing untuk mengenang perjuangan kemerdekaan pun dapat ditemukan di sejumlah kota di Indonesia seperti di Bekasi, Sleman, hingga Pontianak.

'Semangat rela berkorban jiwa dan raga juga ditunjukkan tanpa gentar dan ragu saat para pejuang yang hanya bersenjatakan bambu runcing harus berhadapan dengan tentara penjajah yang memiliki persenjataan modern,' tulis Jenderal TNI Mulyono dalam tajuk Imunitas Bangsa, Pengawal Sejarah Indonesia saat menjabat Kepala Staf Angkatan Darat pada 2 Oktober 2017 seperti dikutip dari situs resmi TNI AD.

Lebih lanjut, CNNIndonesia.com, mencoba mengonfirmasi perihal sejarah bambu runcing ini ke Pusat Sejarah TNI. Namun, setelah melalui surat permohonan wawancara, maupun lewat telepon dan bertemu langsung (door stop) tak mendapatkan jawaban hingga tulisan ini dibuat.

Dari berbagai literatur, diketahui bambu runcing sebagai senjata dikenal masyarakat sejak zaman pendudukan Jepang di Indonesia. Salah satunya dalam buku Sejarah Tentara : Munculnya Bibit-bibit Militer di Indonesia Masa Hindia Belanda sampai Awal Kemerdekaan Indonesia (2011) yang ditulis Petrik Matanasi.

Semakin terdesaknya dalam Perang Pasifik membuat Markas Besar Militer Kekaisaran Jepang mengeluarkan instruksi untuk memberdayakan pemuda di daerah kependudukan pada 1943.

Pelatihan bagi para pemuda itu pun dilakukan menyeluruh terhadap mereka yang sehat dan berusia antara 16-25 tahun. Kemudian dikenallah tentara gemblengan Jepang itu dengan nama Keibodan, PETA, Gyugun, Heiho. Ada pula kelompok paramiliter dari kalangan Islam yang dilatih pada masa kependudukan Jepang yakni Laskar Sabilillah dan Hizbullah.

Sejarawan asal Universitas Padjadjaran Widyo Nugrahanto pun menyampaikan demikian. Ia mengatakan bambu runcing diperkenalkan Jepang yang memberikan pelatihan militer kepada masyarakat Indonesia untuk mengatasi desakan dalam Perang Dunia II di daerah kependudukan mereka.

"Karena keterbatasan senapan saat itu, sedangkan yang dilatih banyak sekali, terus digunakanlah bambu runcing, itu jadi seperti massal diajarkan berperang menggunakan bambu runcing gitu," ujar Widyo kepada CNNIndonesia.com, Senin (12/8).

Bahkan, sambung Widyo, saat itu Jepang pun mengajarkan bagaimana cara memilih bambu yang bagus untuk digunakan sebagai senjata. 

 Tugu Digulis atau Tugu Bambu Runcing di Pontianak, Kalimantan Barat. (DetikTravel/Sastri)

Widyo menyatakan, dalam pelatihan itu, penggunaan bambu runcing mirip dengan cara penggunaan bayonet atau pisau yang kerap dipasang pada ujung laras senapan. Bayonet diketahui kerap digunakan saat pertarungan jarak dekat, di mana sulit untuk mengokang senjata.

"Gerakannya hampir sama, bambu runcing [dengan bayonet] itu," ujar Widyo.

Secara terpisah, hal senada diungkap peneliti sejarah kolonialisme dan Indonesia modern, Andi Achdian. Ia menuturkan kala itu Jepang membentuk sejumlah organisasi semimiliter untuk bertugas menjaga keamanan wilayahnya sehingga memang tak dibekali dengan senjata.

"Awalnya orang memang dilatih semimilter tanpa senjata, [jadi] dengan bambu runcing itu," ucap pria yang tercatat sebagai bagian dari dewan eksekutif Masyarakat Sejarawan Indonesia tersebut.

Penggunaan bambu runcing sebagai sebuah senjata perang, menurut Andi mulai banyak dilakukan saat perang kemerdekaan, termasuk oleh Laskar Hizbullah yang berasal dari santri-santri di pondok pesantren yang juga turut ikut dalam pertempuran di Surabaya.

Terkait hal tersebut, Menteri Agama pada masa Kepresidenan Sukarno, Saifuddin Zuhri pun mengonfirmasi penggunaan bambu runcing oleh Laskar Hizbullah. Kesaksian itu diberikan pria yang menjadi Komandan Hizbullah Jateng pada masa kemerdekaan itu dalam buku Guruku Orang-orang dari Pesantren.

Perihal bambu runcing itu muncul dalam dialog antara Saifuddin Zuhri dengan Mu'awwam, salah satu pemimpin Hizbullah juga yang ditemuinya di Stasiun Kroya, Cilacap, Jawa Tengah. Mu'awwam menjelaskan kepada Saifuddin bahwa pemuda Hizbullah kini telah memiliki senjata api setelah merebut gudang senjata Jepang.

'..."Menyerbu dengan bambu runcing di tangan?" aku [Saifuddin] menanya. "Ya, dengan bambu runcing!" jawabnya. "Bambu runcing di tangan orang pemberani lebih ampuh daripada mitraliur di tangan orang yang gemetar ketakutan. Jepang dalam keadaan ketakutan menghadapi pemuda-pemuda yang tengah berang dengan tekad mati syahid!",' demikian dikutip dari buku otobiografi Saifuddin tersebut. 

Bambu Runcing, Sebuah Simbol Perjuangan

Penggunaan bambu runcing oleh laskar tak dipungkiri, karena faktor keterbatasan senjata yang mereka miliki. Meski begitu, Andi Achdian menerangkan bambu runcing itu sebenarnya tidak benar-benar digunakan dalam perang melawan musuh atau penjajah.

Hanya segelintir peristiwa saja yang kemudian menunjukkan bambu runcing digunakan sebagai senjata dalam perang. Tak hanya itu, penggunaan bambu runcing biasanya juga hanya terbatas untuk merebut senapan atau senjata yang lebih canggih milik lawan.

Andi Achdian menilai, bambu runcing lebih kepada suatu simbol yang digunakan untuk membangkitkan semangat masyarakat Indonesia dalam perlawanan terhadap para penjajah.

Pada perang Kemerdekaan 1945, di tengah minimnya persenjataan, pejuang Indonesia ada yang menggunakan bambu runcing. (ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat).


"Jadi dibuat citra bahwa ini adalah satu perang rakyat, keterlibatan rakyat, lebih melayani simbol dibanding perang terbuka karena enggak mungkinlah bambu runcing melawan senjata modern," tutur pria yang juga tercatat sebagai Managing Editor Jurnal Sejarah tersebut.

Hal itu pun disepakati Sejarawan kontemporer, Rushdy Hoesein, saat ditemui di kawasan Perpustakaan Nasional, Jakarta Pusat.

"Simbol untuk mengangkat semangat perjuangan," katanya, Kamis (15/8).

Jenderal Besar TNI (Purn) Abdul Haris Nasution, saat diwawancara majalah Humor mengonfirmasi perihal penggunaan bambu runcing saat perang kemerdekaan.

'... Adalah setengah mitos, di minggu-minggu pertama merdeka, maka rakyat dengan bambu runcing seakan-akan pagar betis dan menjadi kekuatan untuk memaksa pejabat di kantor, lingkungan, pabrik, dan lain-lain agar taat kepada RI. Tapi, pada pertempuran real, bambu runcing itu lebih banyak jadi senjata semangat,' ujar Nasution menjawab wawancara majalah Humor pada 1992 silam dikutip dari buku Bisikan Nurani Seorang Jenderal (1997).***

Komentar

Loading...