Banyak Masyarakat Aceh Tak Tahu dan Tak Mau Tahu HIV/AIDS

Banyak Masyarakat Aceh Tak Tahu dan Tak Mau Tahu HIV/AIDS
Suasana seminar yang diadakan oleh Iwapi Banda Aceh bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Kota Banda Aceh. Foto: ist

“Ini bukan hanya soal halal dan haram. Ini adalah tentang penyakit yang mengintai siapa saja tanpa memandang agama atau keyakinan."

KBA.ONE, Banda Aceh - Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) Banda Aceh, Rosi Malia, berharap Pemerintah Kota Banda Aceh dapat lebih menggalakkan sosialisasi tentang bahaya HIV/AIDS serta pentingnya mendeteksi kanker serviks sejak dini.

Menurut Osi--sapaan Rosi, banyak masyarakat terjebak akibat tidak tahu dan tidak mau tahu tentang penyakit dengan tingkat kematian tinggi ini. “Ini bukan hanya soal halal dan haram. Ini adalah tentang penyakit yang mengintai siapa saja tanpa memandang agama atau keyakinan,” kata Osi di sela-sela seminar tentang HIV/AIDS dan serviks di Banda Aceh, Rabu, 27 September 2017.

Di beberapa kasus, kata Osi, banyak ibu rumah tangga yang tertular akibat perilaku seks tidak sehat suaminya. Seperti yang terjadi di Pidie. Akibatnya, suami dan istri itu pergi meninggalkan Aceh. Ada juga pejabat daerah yang rentan terinfeksi HIV karena kerap bergonta-ganti pasangan.

Kelompok lain yang masuk dalam kategori berisiko adalah kalangan mahasiswa, terutama mereka yang melakukan seks menyimpang, seperti homoseksual dan lesbian. Dan kebanyakan, mereka hidup tertutup sehingga sulit dideteksi dan enggan memeriksakan kesehatannya.

Kurangnya kesadaran masyarakat ini sangat berbahaya bagi kehidupan sosial di Aceh. Jika tidak segera dilakukan upaya untuk mengubah pandangan masyarakat terhadap penyakit ini, bukan tidak mungkin, kata Osi, akan ada ledakan jumlah penderita HIV/AIDS di Aceh. Apalagi, tren jumlah penderita, dari tahun ke tahun, terus meningkat.

Osi juga berharap kaum wanita, agar tidak malu dan ragu melakukan pap smear, terutama wanita yang bersuami atau pernah berhubungan seks. Dengan demikian, kaum wanita dapat terhindar dari kanker serviks yang menjadi "mesin pembunuh" setelah kanker payudara. “Sehingga mereka akan tetap sehat dan produktif,” kata Osi.

Kontributor Banda Aceh Nurnisa

Komentar

Loading...