Bapak Saleh, Anak Meutuah

Bapak Saleh, Anak Meutuah
ilustrasi.

SYAHDAN, setelah sekian lama mendambakan seorang anak, Ibrahim alaihissalam diperintahkan Allah untuk menyembelih Ismail, buah pernikahannya dengan Siti Hajar. Tapi Ibrahim adalah manusia pilihan. Alih-alih protes kepada Allah, dia dengan santun menyampaikan risalah yang didapat lewat mimpi ini kepada Ismail.

Percakapan legendaris ini tertulis dalam Alquran. Indah dan penuh hikmah; yang tua menghargai yang muda dan yang muda menghormati yang tua. “Bagaimana pendapatmu?”. Ibrahim bertanya kepada Ismail. Dengan tenang, si anak menjawab, “Ayahku, laksanakan saja apa yang diperintahkan kepada ayah. Insya Allah, ayah akan mendapatkan anakmu ini tabah.”

Keduanya pasrah; berserah diri kepada Allah. Mereka benar-benar meyakini bahwa tiada kuasa dan kekuatan kecuali atas izin Allah. Bak plot drama, kisah ini ditutup dengan ending yang indah: Allah menggantikan Ismail dengan kambing sehat persis saat mata pisau siap membelah kerongkongan Ismail.

Berkurban adalah ibadah yang ada sejak Nabi Adam diturunkan ke bumi. Ibadah ini pertama kali dilaksanakan oleh putra-putra Nabi Adam, Habil dan Qabil. Mereka diperintahkan untuk menyerahkan hewan terbaik yang mereka gembalakan sebagai wujud bersyukur.

Perintah yang sama juga disampaikan kepada kaum Nabi Idris, Nabi Nuh, dan Nabi Musa. Nabi Muhammad saw dan kita, selaku pengikutnya, juga mengamalkan hal sama.

Berkurban memang berkorban. Tapi bukan daging dan darah hewan yang menjadikan kita dekat kepada Allah. Banyak orang yang berbangga dengan hewan kurban sehingga mereka merasa lebih baik dari orang yang belum mampu berkurban.

Yang dinilai Allah adalah ketakwaan. “Tidaklah darah dan daging hewan kurban itu sampai kepada Allah sebagai ketakwaanmu yang sampai kepada-Nya.”

Ketakwaan adalah patuh sepenuh hati. Rela melawan apa saja untuk menghindari perbuatan yang bertentangan dengan nilai-nilai kepatuhan kepada Allah. Tidak menipu, tidak korup, tidak berzina, tidak ria, tidak meneror, tidak merusak alam.

Semua itu tak dilakukan karena yakin hanya Allah yang memberikan izin, sekecil apapun tindakan yang kita buat. Belajar dan memahami bahwa dalam hidup, manusia harus merelakan diri agar tidak menuruti hawa nafsu dan ikhlas atas segala takdir yang ditentukan Allah terhadap dirinya, seperti Ibrahim yang saleh dan Ismail si anak meutuah.

Komentar

Loading...