Basri Ubit akan Kembangkan Susu Kedelai Berbasis Dayah

Basri Ubit akan Kembangkan Susu Kedelai Berbasis Dayah
Acara diskusi mengenai rencana pengenbangan susu kedelai berbasis dayah. | Foto: KBA.ONE

KBA.ONE, Aceh Besar - Mengulang sukses usaha tempe, Basri Ubit merencanakan pengembangan susu kedelai berbasis dayah, guna memperkuat ketahanan ekonomi para santri di Aceh.

Tekat seorang Basri Ubit, pengusaha tempe yang bermerk Soya, terlihat serius dalam sebuah diskusi yang dimotori oleh motivator perempuan pembina Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM), Azizah Lubis, asal Jakarta, Rabu 8 Juli 2020 di gampong Reuleh, Aceh Besar.

Di atas balee (balai) berukuran sekitar tujuh meter kali sembilan meter, motivator perempuan wirausaha UMKM ini dihadapan sekitar 25 orang peserta diskusi yang semua mereka pelaku usaha kecil juga para santri di kawasan Aceh Besar.

Azizah Lubis sebagai pembina UMKM dan perizinan Asosiasi Pengusaha Muslimah Alisyah Khadijah ICMI, meminta pengusaha kecil di Aceh harus optimis membangun usaha walau dalam kondisi sulit.

Menurut Azizah Lubis, selama ini Aceh menjadi target pengguna akhir dari berbagai produk luar. "Kita harus produksi sendiri produk - produk UMKM, jangan biarkan Aceh dibanjiri produk asing yang belum jelas halal atau tidak," kata Azizah.

Kemudian Azizah juga mengatakan bahwa dirinya siap membantu kelancaran usaha UMKM di Aceh dengan cara membuka akses ke Kementiran UMKM, "baik untuk permodalan juga peningkatan kapasitas UMKM," katanya.

Selain itu Azizah yang juga pelaku usaha kecil yang berdomisili di Jakarta, membagi pengalaman bagaimana menghadapi daya saing produk dengan para peserta diskusi dan disambut dengan beragam pertanyaan serta harapan baru bagi dunia usaha UMKM di Aceh.

Disisi lain, pengusaha tempe merk Soya, Basri Ubit berharap adanya suport dari pemerintah dalam bidang permodalan dan penyiapan peralatan produksi yang berbasis teknologi tinggi, seperti peralatan produksi susu kedelai yang akan menjadi produk unggulan kedua dari usaha tempenya.

"Jika hanya kita kembangkan usaha mandiri tentunya akan ada pemasukan ke PAD Aceh, tapi jika kita pindahkan pabrik keluar Aceh ini menjadi preseden terburuk bagi dunia usaha di Aceh," ujar Basri.

Saat ini diakuinya, di masa pandemi covid 19, produksi tempe menurun dari 2,5 ton kedelai per hari menjadi hanya 1,5 ton, namun dirinya yakin usaha tempe Soya masih sanggup bertahan dengan 60 orang tenaga kerja.

"Namun jika ada suport dari pemerintah untuk menproduksi susu kedelai akan bertambah lapangan kerja, dan kami siap menampung serta memasarkan," harap Basri.

Sebab katanya, perusahaan tempe merk Soya akan menampung susu kedelai yang diproduksi oleh masyarakat di bawah binaan perusahaan tempe miliknya.***

Komentar

Loading...