Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Lima Ton Gula Pasir dari Sabang

Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Lima Ton Gula Pasir dari Sabang
Petugas membongkar tumpukan gula eks impor yang diselundupkan dari kawasan Sabang di Kantor Bea Cukai Banda Aceh, Minggu (22/3/2020) ANTARA/HO-Bea Cukai Banda Aceh

KBA.ONE, Banda Aceh - Petugas Bea Cukai Banda Aceh gagalkan penyelundupan lima ton gula pasir eks impor dari kawasan bebas Sabang ke Banda Aceh yang dikemas dalam 100 karung dengan berat masing-masing 50 kilogram (Kg).

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai Tipe Madya Pabean C Banda Aceh Heru Djatmika Sunindya, mengatakan, petugas menggagalkan upaya penyelundupan tersebut pada, Minggu, 22 Maret 2020 pukul 18.00 WIB.

"Gula yang dimuat dengan truk ini berhasil diseberangkan oleh pelaku dari Pulau Weh Sabang dengan menggunakan kapal ferry penyeberangan KMP BRR," kata Heru, Kamis, 26 Maret 2020 di Banda Aceh.

Pelaku dengan inisial NT, 46 tahun, warga Sabang menggunakan modus menyembunyikan 100 karung gula didalam truk
yang disamarkan dalam tumpukan kardus bekas. Untuk mengelabui petugas pelaku sengaja membeli kardus bekas di Sabang sebanyak 500 kg untuk menutupi tumpukan karung gula.

Setelah dilakukan penangkapan berdasarkan informasi dari masyarakat, lanjut Heru, pelaku yang beraksi sendiri itu tidak dapat menunjukkan dokumen kepabeanan yang sah kepada petugas. Setelah petugas memeriksa kemasan luar, khusus gula pasir dengan merk HACCP sebanyak 50 karung kedapatan sudah kadaluwarsa sejak Januari 2020.

"Ini sangat membahayakan kesehatan masyarakat jika sampai gula tersebut dikonsumsi," tambahnya.

Heru juga mengungkapkan perkiraan nilai barang yang berkisar Rp80 juta dan kerugian negara dari sektor perpajakan sebesar Rp14 juta.

Pelaku saat ini sedang menjalani proses penyelidikan oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Bea Cukai Banda Aceh, Bea Cukai Kanwil Aceh dan Bea Cukai Sabang. Untuk sementara waktu, pelaku dititipkan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh.

"Barang bukti berupa 100 karung gula pasir dan truk pengangkut telah diamankan oleh Bea Cukai Banda Aceh," tutur Heru.

Selain itu, pelaku dapat dijerat dengan Undang - Undang Nomor 17 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Undang - Undang Nomor 10 Tahun 1995 tentang Kepabeanan Pasal 102 Huruf f.

"Dengan pidana penjara paling singkat satu tahun dan paling lama sepuluh tahun dan denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp5 miliar," tutup Heru. | KOMAR, Kontributor Banda Aceh.



Komentar

Loading...