Kuliner Ramadan

Berbuka dengan Gurihnya Sambai On Peugaga

Oleh ,
Berbuka dengan Gurihnya Sambai On Peugaga
Bahan Pembuatan Sambai On Peugaga | Foto: KBA/Indah Lestari

KBA.ONE - Penganan Aceh yang satu ini tergolong unik. Ia hanya kerap ditemukan ketika bulan puasa. Namanya lambai on peugaga. Ada juga yang menyebutnya lambai on 44 atau lambai on peutplohpeut.

Jika diindonesiakan, bisa disebut sambai daun 44. Kenapa ada angka 44? Karena makanan khas Aceh ini disusun dari komposisi 44 dedaunan dengan khasiat tersendiri.

Beberapa jenis daun yang digunakan seperti daun jambu muda, daun mengkudu, serai, daun sigeuntot, daun lawah (jarak), dan daun jeruk perut. Selain daun, bunga pepaya, rebung serta bawang merah juga dicampur ke dalam lambai. Rebung merupakan bakal batang buluh muda. Tak lupa, di atas lalapan tradisional itu juga ditaburi kelapa parut.

Tidak jelas "sepurba" apa usia masakan ini. Pastinya, berbeda dengan dulu, kini jarang ditemukan lambai yang diracik dari 44 jenis dedaunan. Sebagian daun tersebut kini sulit diperoleh.

Akibatnya, para pembuat hanya menggunakan beberapa jenis daun saja terutama daun peugaga atau pegagan. Karena itu, penganan ini kerap disebut Sambai On Peugaga.

Nita Mayasari, penjual lambai on peugaga di kawasan Blower, Banda Aceh, mengakuinya. Perempuan 47 tahun ini hanya menggunakan beberapa dedaunan saja untuk meracik sambal tersebut.

Cara membuat sambai on peugaga lumayan mudah. Pertama, kata Nita, iris daun pegagan lalu campurkan dengan kelapa parut yang sudah digongseng.

Sebelumnya, kelapa parut itu harus dicampur dengan asam sunti, cabe rawit, bawang merah, garam, dan daun jeruk yang sudah dirajang halus. Lalu, campuran tersebut diulek. "Agar terlihat indah, daun peugaga ini bisa ditambahkan irisan cabe merah dan serai," ujar Nita, Jumat 9 Juni 2017.

Selesai olahan tercampur rata, on peugaga pun siap disajikan dan dikemas dalam bungkusan untuk dijual. Biasanya, Nita hanya menitipkan masakannya ke lapak-lapak penjual penganan berbuka puasa.

Harga sambai on peugaga Rp5 ribu per bungkus. Saban hari selama puasa Nita mengeluarkan modal hingga Rp100 ribu. Dari setiap bungkus yang dijual, ia mengambil untung Rp4 ribu. "Alhamdulillah setiap hari laris manis," ujar Nita.

Bagi Nita, sambai on peugaga tak sekadar barang jualan. Masakan ini selalu mengingatkan pada almarhum ayahnya. "Dulu saat bapak masih hidup kalau nggak ada masakan ini untuk menu berbuka puasa, bapak saya nggak selera makan. Jadi ibu saya selalu memasak on peugaga ini," ujar Nita yang berjualan on peugaga sejak lima tahun lalu.

Ia menilai sambai on peugaga bagus untuk daya tahan tubuh. Aroma harum dan rasa gurih, pedas, hingga sedikit asam memang membuat sambal ini unik.

Beberapa referensi juga menyebutkan, sambai on peugaga dipercaya mengobati penyakit batuk dan darah tinggi. Bahkan, mengutip kisah orang-orang dulu, daun-daun yang dimakan itu dipercaya akan bersaksi tentang kebaikan para pemakannya pada hari akhirat kelak. Bagaimana, tertarik mencicipi masakan warisan indatu ini?

Komentar

Loading...