Berburu Takjil di Tengah Kemacetan

Berburu Takjil di Tengah Kemacetan
Masyarakat berburu takjil di daerah Lampineng, Banda Aceh. | Foto: KBA.ONE, Tasya

KBA.ONE, Banda Aceh - Selama Ramadan, pemandangan ruas jalan di beberapa titik di Banda Aceh berubah seketika menjadi padat merayap oleh pengendara, serta dipenuhi dengan stand penjual dan pemburu takjil saat sore hari. Seperti di kawasan Pango, Lamglumpang, Ulee Kareng, Prada, Lampineung, dan Kuta Alam. 

Mereka, yang menjual takjil mulai anak muda hingga orang dewasa, dan menjajakan dagangannya hanya sebatas minuman seperti air kelapa muda, hingga makanan untuk menu berbuka puasa.

Salah satunya seperti yang dilakukan anak muda di kawasan Pango, Banda Aceh ini. Nurhayati, 23 tahun, yang memilih untuk menjual kelapa muda selama bulan puasa. 

Kata dia, 2021 ini merupakan tahun ketiga ia berjualan kelapa muda. Menurutnya berjualan kelapa tidak sulit, jika tidak laku dapat dijual kembali esok hari. 

"Sedangkan kue atau minuman lainnya, jika tidak habis tidak dapat dijual kembali," kata Nurhayati, saat ditemui KBA.ONE, Rabu 14 April 2021.

Dalam hitungan jam, Nurhayati mampu menjual hingga 100 buah kelapa. Walaupun ia merasa tahun ini penjualannya mengalami penurunan.

Kondisi lalu lintas di Banda Aceh menjelang buka puasa. | Foto: KBA.ONE, Tasya

Selain itu, kelapa yang dijual Nurhayati ini sebelumnya dibeli di Peunayong, seharga Rp5 ribu per buah. Kemudian, ia menjual kembali dengan harga Rp8 ribu per buah. 

"Risikonya tanggung sendiri ada isi atau nggak ada isi," kata Nurhayati.

Saat KBA.ONE, berkeliling di lokasi penjual takjil yang berbeda, tepatnya di Ulee Kareng, Banda Aceh, juga terlihat anak muda lainnya, Amira, 18 tahun, salah seorang penjual gado-gado dan urap.

Di stand milik Amira ini, terlihat tidak seberapa ramai pembeli yang datang. Menurut pengakuannya, hal ini karena tempatnya merupakan cabang kedua dari yang di seberang jalan.

“Kurang rame sih, mungkin karena baru dua hari ya. Ini pun kami cabang keduanya,” sahutnya.

Namun tetap saja, ia yang berjualan lebih kurang selama empat jam itu mampu menjual dagangannya sekitar 30 bungkus, baik gado-gado maupun urap. "Cabang pertama pembelinya lebih banyak," katanya.

Selanjutnya, penjual es buah di Lampineung, Banda Aceh, Azhar. Anak muda berusia 20 tahun ini menjual berbagai aneka minuman, seperti es melon (Rp5 ribu), es mangga (Rp5 ribu), es teler (Rp9 ribu), es kalamansi (Rp5 ribu), dan sop buah (Rp8 ribu).

Selain itu,  Azhar yang berjualan bersama rekannya ini juga menjual madu berukuran kecil seharga Rp100 ribu, sedang Rp150 ribu, dan jumbo Rp250 ribu.*** | TASYA, Kontributor Banda Aceh

Komentar

Loading...