Berjalan di antara Pergulatan Waktu  

Berjalan di antara Pergulatan Waktu  
Ilustrasi | assets.kompas.com

Karena hidup adalah kematian panjang dari pergulatan waktu dan manisnya janji dunia! 

AIR YANG MENGALIR tak mungkin bisa kembali ke hulu, begitu juga waktu. Masa akan terus berjalan, berproses, mendatangi ujung usia kehidupan manusia; pasti! Maka, merenungi proses pergantian waktu dan masa adalah sebuah kenisbian. Agar manusia matang dalam mengarungi hidup menuju proses pendewasaan diri.

Kita akan menjadi orang biasa ketika kita memandang proses pergantian waktu itu dengan biasa. Sebaliknya, kita akan menjadi luar biasa ketika kita memandang proses pergantian waktu itu sesuatu yang luar biasa.

Kedua kebiasaan itu memuncak tatkala kita merenung dalam diam bahwa waktu itu berlalu begitu cepat, meninggalkan hari yang berganti jam, jam berganti menit, menit berganti detik hingga klik; detak jantung kita berhenti.

Di dunia ini, jutaan orang selalu menangis setiap terjadi pergeseran waktu, khususnya bagi mereka yang taat kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Mengapa? Karena di setiap pergantian waktu ada kebaikan dan ibadah yang tak tertunaikan; ada kejahilan dan dosa-dosa purba yang berulang. Sehingga di setiap waktu yang telah pergi mereka dalam renungan mendalam, menusuk-nusuk hingga ke relung hati.

Mereka juga merenung, apakah amal ibadah yang mereka lakukan diterima atau tidak? Apakah waktu yang telah mereka tinggalkan itu menyisakan kebaikan atau justru keburukan? Itulah yang membuat para kaum “sufi” bersedih dan meratap bersama air mata.

Tapi, di masa yang sama, hamba-hamba yang taat itu juga bersyukur karena masih diberi waktu untuk memperbaiki segala kekurangan, kesalahan,  dan kualitas ibadah.

Sebagai hamba sahaya, makhluk yang hina dina di hadapan Allah SWT, tak pantas rasanya jika kita cenderung riang gembira, apalagi hura-hura ketika melewati proses pergantian waktu tersebut. Gembira dengan berbagai kenikmatan sesaat di dunia sehingga kita melupakan kelonggaran waktu yang di berikan sebagai persiapan menghadapi kehidupan abadi kelak; kematian.

Sebab, waktu yang sudah berlalu, walaupun hanya satu detik, itu sangat jauh kali. Sekali lagi, waktu tidak akan pernah kembali. Seperti pertayaan Imam Al-Ghazali kepada para muridnya, "wahai murid, apa yang paling jauh dari kehidupan?"

"Yang paling jauh dari kehidupan adalah titik sebuah kota, wilayah yang tidak dapat di jangkau dalam waktu dekat," jawab Murid Imam Al-Ghazali.

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa yang paling jauh daripada kalian adalah waktu yang telah berlalu! “Satu detik yang lalu itulah yang paling jauh dari kalian,” kata Imam Al-Ghazali.

Maka itu, kata Imam Al-Ghazali, “bersyukurlah kalian masih diberi waktu oleh Allah Swt, perbaiki segala kesalahan kalian di masa lalu, dan tingkatkan kualitas ibadah kalian hari ini agar menjadi cermin untuk waktu di masa yang akan datang.”

Tiga spirit proses pergantian waktu

1. Meningkatkan Kualitas Ibadah

Apapun yang kita lakukan hari ini usahakan adalah ibadah. Jadikan perbuatan mubah sebagai ibadah agar hidup tidak sia-sia. Kegiatan mubah berupa kegiatan sehari-hari yang kita lakukan harus memiliki nilai-nilai ibadah. Seandainya hari ini kita berumur 60 tahun, dan menghabiskan waktu tidur selama 8 jam per hari, itu sama dengan selama umur 60 tahun kita sudah menghabiskan waktu untuk tidur selama 20 tahun.

2. Spirit untuk mengejar prestasi

Tidak ada kata pensiun dalam Islam. Semakin tua semakin manusia harus taat beribadah, seperti Nabi Muhammad SAW, saat berumur 53 tahun, ia semakin gencar berdakwah sembari memikirkan tentang politik di masa itu.

Contoh lain, Abu Ayyub Al Ansari sahabat Rasulullah yang paling tua, ia pernah hidup bersama Rasulullah, merupakan salah satu tentara di masa itu yang ikut menundukkan konstantinopel walaupun ia tidak berhasil saat itu. "Jika suatu hari aku mati syahid, makamkan aku di mana aku mati," terangnya.

Tidak lama setelah itu dia pun mati syahid di pintu benteng sebelah timur konstantinopel. Di situlah dia dimakamkan. Abu Ayyub Al Ansari saat berusia 80 tahun. Baginya tidak ada kata berhenti untuk muslim dalam memperjuangkan agama Islam.

3. Spirit menyikapi persoalan

Jika ada permasalahan, sebagai hamba Allah SWT, sudah seharusnya kita menyikapi dengan penuh hikmah, tenang, dewasa, dan keikhlasan, agar setiap zona waktu yang kita jalani bertabur rasa syukur dan nikmat tak terhingga, tanpa hura-hura, tanpa dosa, dan tanpa rasa frustasi. Ayo, sayangi dan cintai waktumu. Karena hidup adalah kematian panjang dari pergulatan waktu dan manisnya janji dunia!

Penulis : KAMARUDDIN | Kontributor KBA.ONE di Banda Aceh.

Komentar

Loading...