Bersilang Kaki

Bersilang Kaki
ilustrasi. KBA.ONE/Decky Rissakota

SEJAK lama hutan menjadi tempat bertumpu masyarakat Aceh. Dibandingkan banyak hal yang ada di ujung barat Sumatera ini, hutan mungkin sebuah representasi penting dalam kehidupan masyarakat Aceh, sejak berabad-abad lalu. Di hutan, mulai masa penjajahan Belanda hingga peperangan melawan Pemerintah Indonesia, rangkaian perjuangan itu dihubungkan hutan yang rapat dan tersembunyi; liar.

Namun dalam 12 tahun terakhir, seiring dengan perdamaian di Aceh, hutan-hutan Aceh mulai kehilangan “keangkeran”. Konflik antara satwa dan manusia semakin sering terdengar dan terjadi di hampir seluruh daerah. Di Singkil, buaya menyerang manusia. Di Aceh Selatan, harimau juga melakukan hal sama. Para predator di puncak rantai makanan ini akhirnya mati mengenaskan. Sama seperti yang terjadi di Nagan Raya, saat tengkorak orangutan ditemukan di dalam tumpukan arang hutan gambut yang terbakar, dampak peralihan dari hutan menjadi perkebunan. Gajah dibunuh di areal perkebunan karena dianggap sebagai hama. 

Di Aceh Besar, mafia kayu beraksi seperti tak mengenal sanksi. Membabat hutan yang menjadi habitat satwa liar yang langka dan merusak sumber mata air. Kolam Mata’i, yang menjadi andalan masyarakat di Aceh Besar dan Banda Aceh berekreasi, mengaliri sawah dan sumber air perusahaan air minum, kering. Ini adalah kondisi terburuk yang diperkirakan akan terus terjadi untuk bertahun-tahun ke depan, bahkan jika reboisasi dimulai sekarang di areal hutan yang dirusak.

Kerusakan lingkungan akibat tambang galian C--kini namanya diubah dengan dampak sama-sama merusak--yang tak terkontrol sama seperti hasilnya sendiri. Pendapatan Asli Daerah yang harusnya masuk ke kas daerah hanya beredar di kantong para pengusaha dan para pejabat yang membekinginya. Sama seperti tambang emas ilegal yang tak pernah benar-benar dientaskan oleh pemerintah daerah. Sungai berbatu dengan air jernih yang harusnya mengalirkan kehidupan, berubah menjadi kanker yang menggerogoti kesehatan masyarakat karena terpapar merkuri hingga ke lautan.

Pabrik semen? Ah, sama saja. Pemerintah seperti kehilangan nyali melarang eksplorasi dan eksploitasi yang mengancam hutan. Alih-alih menjadikan PAD dan pengangguran sebagai kambing hitam untuk terus mengurangi areal hutan yang semakin sekarat, mengancam gugusan karst yang menjadi sumber air bagi kehidupan banyak warga. Kalkukator pemerintah baling saat berhitung tentang hutan; lebih suka menghitung uang ketimbang nilai keekonomian hutan serta harkat dan martabat rakyatnya yang nelangsa akibat rentetan bencana alam karena ulah manusia.

Hutan yang dulu menjadi kebanggaan, perlahan-lahan, kini berbalik menantang. Banjir dan kekeringan terjadi sepanjang tahun, tanah longsor, konflik hewan dan manusia. Kini tinggal menunggu bencana lebih besar lagi tanpa tindakan serius yang benar-benar tulus. Kerusakan itu telah jelas-jelas terlihat. Namun tetap saja sulit untuk memperbaikinya. Karena merawat hutan tak pernah semudah membalikkan telapak tangan atau menyilangkan kaki. 

Komentar

Loading...