Berubah Zona, Pemkab Perketat Kembali Pintu Masuk Aceh Tengah

Berubah Zona, Pemkab Perketat Kembali Pintu Masuk Aceh Tengah
Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar. | Foto: KBA.ONE, Karmiadi

KBA.ONE, Takengon - Mencegah penyebaran virus corona (Covid-19), Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Tengah terus melakukan berbagai kebijakan strategis yang bersinergi dengan pemerintah pusat maupun provinsi.

Hal ini dibuktikan dengan menjadikan Kabupaten Aceh Tengah sebagai salah satu kabupaten yang berhasil dalam mencegah penyebaran Covid-19 dengan status zona hijau tanpa satupun kasus positif apalagi kematian.

Namun sayang, keberhasilan tersebut hanya sementara. Kini kabupaten yang berada di Dataran Tinggi Gayo ini telah berubah menjadi zona merah, penularannya semakin dekat dan mengancam siapa saja, khususnya masyarakat di wilayah tersebut.

Tepatnya pada Rabu 29 Juli 2020, diketahui tiga orang warga Aceh Tengah terkonfirmasi positif Covid-19, dimana dua diantaranya adalah tenaga medis yang diduga terinfeksi dari pasien (probable) atau pembesuk pasien terkonfirmasi positif yang berasal dari Kabupaten Bener Meriah.

Hanya berselang beberapa hari saja, angka terkonfirmasi positif dan suspek Coronavirus Disease (Covid-19) ini terus bertambah secara drastis dan mengkhawatirkan.

Tercatat, hingga saat ini sudah delapan orang terkonfirmasi positif Covid-19. Kini mereka telah dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh dan RSUD Datu Beru Takengon.

Bupati Aceh Tengah, Shabela Abubakar, mengatakan akan terus melakukan tracking secara agresif, serta pemeriksaan aktif terhadap orang-orang yang pernah melakukan kontak dengan delapan orang yang terkonfirmasi positif. Kini pihaknya juga sedang menunggu hasil swab terhadap 52 orang di daerah itu.

Kemudian, Shabela menegaskan memperketat kembali pemeriksaan terhadap orang-orang yang keluar masuk pada empat pintu pantau yang ada, serta menguatkan peran pencegahan oleh tim kesiagaan kampung dalam mengawasi orang keluar masuk di wilayah pedesaan (secara persuasif).

Imbauan dan tindakan penertiban bagi kerumunan massa yang tanpa izin, ditandai dengan penutupan tempat wisata milik pemerintah daerah dan pengaturan waktu berkumpul di kafe-kafe.

"Masyarakat wajib masker ketika berada di luar rumah dan akan diberikan sanksi bagi pelanggar, serta tidak mendapatkan pelayanan bila sedang berurusan pada instansi publik," kata Shabela.

Lebih lanjut, mengintensifkan komunikasi dengan ulama, tokoh agama, tokoh adat dan tokoh masyarakat untuk menyampaikan sosialisasi pencegahan maupun kebijakan pemerintah melalui mimbar dakwah maupun forum dan atau ukhuwah yang mereka miliki.

"kami terus melakukan penyuluhan dan sosialisasi secara terus menerus dalam memupuk semangat dan kesadaran masyarakat bahwa Covid-19 dapat dicegah dan dapat disembuhkan, dengan tetap waspada dan menjaga kesehatan," katanya.

Selain itu, meningkatkan fasilitas kesehatan baik peralatan maupun ruang rawat pada RICU dan ruang isolasi RSUD Datu Beru serta cadangan ruang rawat pada RS Regional Belang Bebangka sejumlah 17 ruangan dengan 30 bed.

Menyediakan ruang isolasi untuk suspek sembari menunggu hasil swab pada RS Regional Belang Bebangka (saat ini ada 16 orang yang sedang diisolasi).

Menyediakan tempat khusus bagi tim medis bahkan menawarkan kepada mereka untuk mencari tempat menginap dimana mereka inginkan, boleh di home stay bahkan hotel sekalipun, dan menyemangati mereka dengan tambahan insentif dari Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah.

Untuk ketersediaan tim medis, kata dia, ia telah memerintahkan Direktur RSUD Datu Beru Takengon untuk melakukan perekrutan bilamana diperlukan.

Aktivitas perkantoran dan pelayanan publik mengacu pada aturan yang ditetapkan oleh pemerintah atasan. Kepada para pegawainya dianjurkan berjemur selama beberapa menit pada pukul 09.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Mengenai hajatan yang menghadirkan berkumpulnya orang banyak, telah dibuat aturan dari instansi yang mengeluarkan izin yang pelaksanaannya diatur dengan mengikuti protokol kesehatan. Karena hajatan itu wajib, pestanya yang dibatasi.

Hasil pertanian (kopi), telah diimbau bagi pedagang pengumpul/besar/toke/eksportir untuk membeli hasil panen masyarakat dengan harga yang wajar dan jauh dari tindakan spekulasi harga. Bila perlu dilakukan tindakan penyimpanan dengan memanfaatkan sistem resi gudang agar terjaga stabilitas harga jual.

"untuk sektor pariwisata dan penginapan/ perhotelan yang dikelola oleh swasta, tetap dapat menjalankan usahanya. Namun berlaku pengaturan dalam pengelolaannya. Dimana pengunjung wajib didata asalnya serta dimana mereka berdomisili selama berkunjung ke Aceh Tengah," paparnya.

Dalam menjalankan new normal, kata Bupati, harus mengedepankan protokol kesehatan, terutama dalam acara-acara yang mengumpulkan orang banyak.

“Mengedepankan protokol kesehatan merupakan langkah pencegahan pertama yang mudah dan wajib dilakukan oleh seluruh masyarakat. Tapi yang paling penting, semua kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah, hendaklah dipatuhi dan diikuti dengan penuh kesadaran dan tanggungjawab semua pihak. Karena tanpa itu semua,l sia-sialah perjuangan kita menghadapi pandemi Covid-19," tutup Bupati Shabela.*** | Karmiadi, Kontributor Aceh Tengah

Komentar

Loading...