Bhoi Aceh, Penganan Zaman Sultan Hingga Millenial

Bhoi Aceh, Penganan Zaman Sultan Hingga Millenial
Kue Bhoi, Foto: Kba/Biyan Nyak Jeumpa

Kue bhoi merupakan penganan kalangan ningrat termasuk keluarga Sultan Iskandar Muda, disajikan kepada tamu istimewa yang datang berkunjung, atau saat perhelatan adat

KBA.ONE, Banda Aceh – Pastinya tidak ada yang tidak mengenal kue Bhoi, jika memang kalian adalah warga Aceh. Tapi tahukah anda kenapa Bhoi masih terus bertahan di zaman millennial ini?

Jangan bayangkan bolu atau cake zaman kini, pastinya jauh sekali perbedaannya, mulai dari bentuk hingga tekstur, tapi, untuk rasa tak kalah lezatnya. Namanya Bhoi, sejenis kue bolu khas Aceh. Tapi belum ada yang bisa menjelaskan dari mana asal muasal nama Bhoi disematkan untuk kue yang selalu dicetak dengan bentuk unik ini.

Bhoi adalah sejenis kue bolu, berbahan tepung beras, telur bebek dan gula pasir. Seiring perkembangan zaman, bahan pembuat bhoi kini mulai disesuaikan dengan kesukaan masyarakat, yakni tepung beras digantikan dengan tepung terigu, dan telur bebek, digantikan dengan telur ayam.

“Sejauh ini rasanya tidak berbeda, hanya saja kalau bhoi berbahan tepung beras, teksturnya sedikit lebih kasar dan berderai dimulut ketika dikonsumsi. Tapi bhoi berbahan tepung beras akan tahan lama dan awet. Sedang kue berbahan tepung terigu, teksturnya lebih lembut dan lebih disukai,” jelas Jauhari, seorang perempuan adat di Gampong Pango Raya, Kecamatan Ulee Kareng Kota Banda Aceh, kepada KBA.ONE, Sabtu 10 Maret 2018.

Pergantian bahan baku pembuat kue bhoi, tidak lepas dari kemudahan mendapat beras karena sebahagian masyarakat Aceh tempo dulu merupakan petani padi. Hal itu juga terjadi pada bahan baku telur.

"Beras dengan mudah didapat dari pada bahan tepung trigu, begitu juga dengan telur bebek. Tapi sekarang telur bebek harganya lebih mahal dari telur ayam, jadi banyak yang memilih telur ayam,” jelasnya.

Tak ada yang bisa menjelaskan muasal nama Bhoi. Namun kultur India dan China diakui turut mempengaruhi masyarakat pada proses penggunaan cetakan dan pembuatan motif penganan yang satu ini.

“Misalnya cawan cetakan yang sebelumnya berbahan kayu, tapi saat pedagang India dan China masuk, lambat laun warga menggunakan cawan berbahan kuningan atau tembaga. Sedang motif seperti, ikan, bungan kulit pala dan daun terbentuk dari cawan impor. Ini tidak berubah hingga sekarang,” jelas Ketua Majelis Adat Aceh (MAA), Badruzzaman Ismail ditemui Minggu pekan lalu.

Dalam sejarah, sebut Badruzzaman, kue bhoi merupakan penganan kalangan ningrat termasuk keluarga Sultan Iskandar Muda. Penganan ini disajikan kepada tamu istimewa yang datang berkunjung, atau saat perhelatan adat besar seperti pesta perkawinan.

“Bahkan dalam hidangan khusus untuk para keluarga besar disajikan sebuah bhoi bentuk ikan dengan ukuran besar dalam sebuah piring. Ini untuk menunjukkan kelas dari keluarga si pegantin perempuan dan uniknya kue besar ini tidak boleh dimakan, hanya untuk menunjukkan bahwa ini adalah syarat adat yang harus dipenuhi keluarga pengantin perempuan,” ujar profesor hukum adat ini.

Jadi, kata Badruzzaman kue bhoi adalah sebuah indikasi adat yang berkelas yang keberadaannya tidak ditemui disemua tempat. “ Lihat saja saat musim lebaran, kalau orangtua bikin kue bhoi, maka bhoi akan disajikan ketika ada tamu penting saja, itu karena selain menunjukan entitas adat, juga karena membuatnya susah dan bahan bakunya mahal," sebut Badruzzaman.

Seiring perkembangan zaman lanjut Badruzzaman, kue dengan rasa manis ini sudah lebih mudah dijumpai di pasar, terutama disentra-sentra penjualan kue kering khas Aceh..
Selain dijual sebagai oleh-oleh, kue bhoi juga sering dibeli masyarakat untuk dikonsumsi sehari-hari.

“Dulu sebelum tahun 2004, kue-kue ini bisa didapat dirumah-rumah warga yang memproduksinya. Tapi jika dalam jumlah kecil bisa didapat di pasar aceh, pasar tradisional, di jual oleh perempuan-perempuan berusia lanjut, karena merekalah pembuat kue-kue ini,” kata Lely, seorang pedagang kue kering tradisional Aceh, yang mengaku berjualan karena banyaknya permintaan.

Lely mengatakan pasca musibah tsunami, banyak warga Aceh yang mengikuti pelatihan membuat kue. Keterampilan ini kemudian dijadikan sebagai usaha kecil oleh masyarakat untuk bangkit dari keterpurukan ekonomi paska tsunami.

"Banyak wisatawan seperti dari Malaysia berkunjung kesini mencari kue, terutama saat akhir pekan, dan hari libur. Kalau hari wisatawan yang datang kebanyakan dari medan atau Jakarta,” jelas pedagang di sentra penjualan kue di kawasan Lampisang, Kabupaten Aceh Besar.

Berkembangan pemasaran kue bhoi, ternyata melahirkan kecemasan apakah kue ini akan berubah menjadi kue-kue modern seperti yang banyak diproduksi saat ini.
Untuk itu pembuatan hak paten dinilai perlu bagi keberlangsungan kue bhoi Aceh.

“Saat berkunjung ke negeri jiran Malaysia, saya banyak mendapatkan kue yang sama dijual di pasar tradisional di pusat jajanan di Malaysia. Bisa jadi ini proses migrasi. Untuk itu pemerintah harus segera memberikan hak paten bagi keberadaan kue-kue aceh khususnya kue bhoi, agar tak musnah dimakan waktu,” jelas Ketua MAA Badruzzaman Islamil.

Kendati perjalanan kue bhoi bisa dikatakan sudah mendunia, Badruzzaman tetap berharap kue bhoi adalah tetap sebuah identitas masyarakat Aceh yang menunjukkan harkat dan martabatnya sebagai masyarakat yang beradab.

Kontributor: Biyan Nyak Jeumpa

Komentar

Loading...