BPBA Sudah Gelar Forum Ilmu Kebencanaan dengan Narasumber Asing Peneliti Tsunami Purba di Aceh

BPBA Sudah Gelar Forum Ilmu Kebencanaan dengan Narasumber Asing Peneliti Tsunami Purba di Aceh
Seminar Forum Ilmu Kebencanaan | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh - Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) juga mengadakan Seminar Forum Ilmu Kebencanaan kali ini dengan tema “PALEOTSUNAMI STUDIES” pada 9 September 2019 di Aula BPBA. Acara ini dibuka langsung oleh Kepala Pelaksana BPBA, Sunarwardi dan dihadiri oleh 90 peserta yang terdiri dari akademisi dan profesi lainnya yang bergerak di bidang kebencanaan.

Pemateri kegiatan ini adalah H.T. Ahmad Dadek, (Asisten II Sekda Aceh), Kerry SIEH (Principal Investigator Earth Founding Director,Earth Observatory of Singapore (EOS) dan Patrick DALY (Senior Research Fellow Earth Observatory of Singapore (EOS). Selain itu Dr. Nazli Ismail (Researcher at the TDMRC and Chair of Disaster Science Master Program of Syiah Kuala University) bertindak sebagai moderator.

Asisten II Sekda Aceh, H. T. Ahmad Dadek, menyambut baik seminar Forum Ilmu Kebencanaan ini. “we always protect your research in Aceh. we will support all team EOS.Don’t worry be Happy” gurau Dadek kepada team EOS yang disambut tawa peserta. Beliau berharap  tidak ada warga Aceh yang mengintimidasi para peneliti ini karena yang mereka lakukan juga untuk Aceh dan beliau juga berharap ke depan akan ada lagi seminar selanjutnya yang dapat memperkaya pengetahuan masyarakat Aceh terhadap bencana demi menuju Aceh yang tanggap dan tangguh menghadapi bencana di kemudian hari.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBA, Sunawardi, dalam sambutannya mengungkapkan bahwa Provinsi Aceh memiliki 11 bencana nasional yang harus dapat perhatian dan penanganan khusus dari Pemerintah Aceh. Beliau sangat mengapresiasi hasil penelitian yang dilakukan team EOS di Aceh di Guha Ek Leuthie sebagai salah satu lesson learn untuk masyarakat Aceh."Kejadian-kejadian tsunami di Aceh ternyata terjadi berulang dengan periode perulangannya yang sangat beragam," jelas Sunawardi.

Sunawardi melanjutkan, BPBA concern dalam tahun ini sedang lakukan pembebasan lahan warga di sekitar Guha Ek Luntie sebagai salah satu upaya menjadikan kawasan itu sebagai geopark tsunami.

Kajian ini dilakukan dengan ditemukannya Guha Ek Leuntie di pesisir Kecamatan Lhoong, Aceh Besar, tepatnya di Gampong Meunasah Lhok, sekitar 50 kilometer arah barat Banda Aceh. Didalam materi yang disampaikan, team dari EOS telah melakukan penelitian tentang jejak tsunami Aceh yang telah terjadi sejak tujuh ribuan tahun silam dan peristiwa itu berulang, temasuk yang terakhir adalah musibah tsunami tahun 2004 yang meluluhlantakkan sebagaian besar wilayah Aceh dan sekitarnya.

Hal itu terungkap setelah para pakar meneliti lapisan-lapisan tanah dan pasir atau endapan lumpur di dalamnya. Hasil pengujian laboratorium yang dilakukan secara profesional dan ilmiah membuktikan, bahwa lapisan itu berasal dari kotoran kelelawar yang hidup dari masa ke masa di dalam gua tersebut yang terkena gelombang tsunami sebanyak 14 kali tsunami dengan rentetan waktu yang bervariasi.

Salah satu peneliti, Kerry Sieh (Principal Investigator Earth Founding Director EOS) mengemukakan hasil penelitiannya tentang sendimen guha yang sangat membuat decak kagum peserta seminar tersebut beliau juga menjelaskan penyebaran sebaran titik aktif tsunami selama periode 1100-1390 M, Penemuan di Desa Lamreh juga sangat menarik perhatian peserta yakni ditemukannya beberapa peninggalan tsunami di dasar tanah seperti keramik cina dari Dinasti Yuan (1330-1360).

“We recovered over 60,000 sherds of ceramic material from China, Indonesia, South Asia, Japan, Thailand, Burma, Vietnam, and Syria”Jelas Kerry mencontohkan salah satu bukti tsunami yang team temukan.Kerry menambahkan bahwa Keramik sangat diagnostik sehubungan dengan sumber, usia, dan penggunaan. Dengan demikian kita dapat menentukan ukuran, sifat dan waktu pemukiman manusia di sepanjang pantai ini yang pernah terkena tsunami.

Kesimpulannya tsunami di sekitar tahun 1394 dan 1450 M telah menghancurkan 9 dari 10 komunitas di sepanjang pantai Aceh. Dalam beberapa dekade, komunitas Kesultanan Aceh mulai memukimkan kembali pantai dan Tsunami besar telah terjadi rata-rata setiap 450 tahun atau lebih akan tetapi interval antara bervariasi dari ~ 1000 tahun hingga hanya beberapa dekade.

Sedangkan pada materi kedua lebih kepada analisis kajian rehablitasi dan rekontruksi pasca tsunami di Aceh yang disampaikan oleh Patrick Daly (EOS). Ia menyimpulkan dari kajian nya bahwa Relokasi jauh dari paparan bahaya adalah cara yang jelas untuk mengurangi risiko dari bahaya.

Patrick melihat bahwa sebagian masyarakat Aceh kembali tinggal di tempat semula yaitu di pinggiran laut karena beberapa alasan. “It is difficult in the ‘real world’ to weight the trade off between long-term (and uncertain) risks and short-term costs/consequences/risks (Sulit di 'dunia nyata' untuk mempertimbangkan pertukaran antara risiko jangka panjang (dan tidak pasti) dan biaya / konsekuensi / risiko jangka pendek)” ungkap Patrick.

Salah satu faktor yang menyebabkan masyarakat Aceh lebih memilih rebuilding dari para lokasi adalah faktor keuangan, huku, administrasi mudah,faktor rasa keterikatan batin dengan tempat asal,ingin lebih cepat membangun dan kesulitan bagi para donatur/NGO untuk memberikan lahan baru. Seminar Forum Ilmu kebencanaan ini diakhiri dengan sesi tanya jawab dan sesi foto bersama Narasumber, Peserta dan Panitia acara.

Komentar

Loading...