BPS Aceh Catat Nilai Ekspor Impor Selama Juli 2021 Turun

BPS Aceh Catat Nilai Ekspor Impor Selama Juli 2021 Turun
Ilustrasi. | Foto: Ist

KBA.ONE, Banda Aceh – Kepala BPS Provinsi Aceh, Ihsanurijal, menyampaikan nilai ekspor pada Juli 2021 sebesar 32,52 juta USD turun 0,31 persen, dibandingkan dengan Juni 2021 sebanyak 32,62 juta USD. Sedangkan, impor Juli 2021 sebesar 1,76 juta USD turun 67,28 persen, dibandingkan Juni 2020 yang sebesar 9 juta USD.

Secara kumulatif, kata dia, perbandingan pada Januari-Juli 2021 dengan Januari-Juli 2020 nilai ekspor dan impor sama-sama mengalami peningkatan, yaitu 238,37 juta USD naik menjadi 34,78 persen pada tahun ini. Sedangkan di 2020 sebesar 176,86 juta USD (c-to-c). ”Nilai ekspor Juli 2021 dibandingkan Juli 2020 (y-on-y) naik sebesar 35,56 persen,” kata Ihsanurijal, kepada KBA.ONE, Rabu 22 September 2021.

Di samping itu, impor kumulatif Januari-Juli 2021 sebesar 31,38 juta USD naik menjadi 248,73 persen, dibandingkan Januari-Juli 2020 yang sebesar 9 juta USD (c-to-c). Nilai impor Juli 2021 dibandingkan Juli 2020 (y-on-y) turun 6,83 persen.

Menurut Ihsanurijal penyebab naiknya nilai tersebut karena adanya kenaikan ekspor batubara ke India, dan kenaikan impor mesin/pesawat mekanik (pembangkit listrik).

Selain itu, Ihsanurijal juga menyampaikan Nilai Tukar Petani (NTP) angka indeksnya pada Agustus 102,34 naik dibandingkan bulan sebelumnya. Hal ini dipengaruhi oleh naiknya NTP pada tiga subsector, yaitu subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, dan perikanan, diantaranya komoditas gabah, kopi, kelapa sawit, dan ikan tongkol. ”Rata-rata NTP Januari hingga Agustus 2021 adalah 99,98 (angka indeks),” sebutnya.

Dalam hal ini, produksi padi hingga Agustus 2021 diperkirakan mengalami penurunan sekitar 14 persen dibandingkan periode yang sama di tahun 2020. Namun mulai dari Mei, NTP cenderung mengalami kenaikan. Lanjutnya, sejak Juni 2021 angka NTP sudah di atas 100, yang berarti bahwa indeks harga yang diterima petani lebih besar dari pada indeks harga yang dibayar petani.

Di sisi lain, untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau pada Agustus mengalami inflasi sebesar 0,29 persen. Kelompok ini memberikan andil/sumbangan inflasi sebesar 0,09 persen. Selanjutnya, komoditas yang dominan memberikan andil/sumbangan inflasi yaitu ikan tongkol/ikan ambu-ambu sebesar 0,11 persen, minyak goreng 0,10 persen, ikan rambe 0,04 persen, ikan dencis 0,03 persen, udang basah dan bawang merah masing-masing 0,02 persen.

”Komoditas yang memberikan andil/sumbangan deflasi yaitu cabai merah sebesar 0,06 persen, daging ayam ras 0,05 persen, ikan tuna 0,04 persen, jeruk 0,04 persen, dan jeruk nipis/limau 0,02 persen,” tutupnya.* │ TASYA, Kontributor Banda Aceh

Anara

Komentar

Loading...