Buat Yang Muak Dirundung Banjir

Buat Yang Muak Dirundung Banjir
ilustrasi. Foto: ilc

Oleh Marhaban Lingga*

Hujan adalah rahmat. Namun di Aceh Singkil, hujan lebat menjadi bencana bagi rakyat. Hal ini disebabkan karena daerah itu tidak memiliki saluran pembuangan air yang memadai. Akhir-akhir ini, intensitasnya terus meningkat. Dalam tiga tahun terakhir, masyarakat dibuat menangis akibat banjir yang begitu hebat. Mereka merugi, baik secara materi maupun mental.

Berbagai macam indikasi faktor penyebab terjadinya banjir. Melihat limpasan hujan di bagian hulunya tidak dikendalikan, maka banjir tetap akan terjadi. Pengelolaan sumber daya air pada sungai Aceh Singkil harus dilakukan secara terpadu dengan memperhatikan siklus hidrologi: sejak air hujan jatuh ke permukaan, meresap ke dalam tanah, evaporasi, mengalir di permukaan dari hulu sampai ke hilir, hingga tiba di muara sungai dan bercampur dengan air laut.

Jika Anda pernah merasakan muak, sehingga perut Anda sakit dan ingin muntah, inilah yang dirasakan sebagian besar masyarakat Aceh Singkil terhadap fenomena banjir yang tak pernah tuntas diselesaikan. Pemerintah perlu memperbanyak kajian tentang cara mengatasi banjir Aceh Singkil ke depan.

Ada beberapa faktor yang harus diperhatikan jika Aceh Singkil tidak ingin kembalinya banjir, pertama perlu dibangun sistem saluran air, dari hulu hingga hilir, yang jelas. Jangan sampai saluran air yang ada berujung pada sebuah sungai mati atau tidak mengalir. Alih-alih mengalirkan air, ini hanya akan menjadi genangan yang ujung-ujungnya meluber. Perbaikan dan pembersihan saluran air juga harus selalu dilakukan secara berkelanjutan. Hulu dan hilir sungai harus dijaga. Apapun ceritanya, dua ujung ini akan sangat mempengaruhi keberadaan banjir.

Hal lain yang perlu diintrospeksi adalah cara masyarakat, entah itu pejabat, ulama, atau rakyat biasa, saat berhadapan dengan sampah. Sampah yang dibuang sembarangan akan menyumbat drainase dan mencemari sungai. Pengelolaan sampah yang tepat akan mampu mengurangi risiko terjadinya banjir. Kesadaran untuk membuang sampah dan memperlakukan sampah dengan baik adalah hal penting yang harus dikenali dan dijadikan sebagian dari kesadaran masyarakat Aceh Singkil.

Yang satu ini juga dapat menjadi solusi banjir, yakni sistem pencegah banjir. Pemerintah perlu membangun waduk di bagian hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi sungai, kanal air, pengerukan dan pelebaran alur sungai, serta pemangkasan penghalang aliran yang bertujuan untuk menampung debit air yang terlalu tinggi

Dan yang terpenting adalah menjaga tutupan hutan dan bentang alam. Hutan berfungsi sebagai penyerap air pada saat hujan dan mengalir dengan perlahan-lahan ke anak-anak sungai. Ia juga bertindak sebagai filter dalam menentukan kebersihan dan kejernihan air. Hutan mampu menyerap air hujan Kemudian air hujan ini dibebaskan kembali ke atmosfir. Reboisasi hutan sangat dibutuhkan untuk menanggulangi banjir secara terus menerus. Pohon sangat dibutuhkan di bagian pinggir sungai sebagai pelindung sungai, sebagai pencegah erosi tebing sungai, menurunkan kecepatan air banjir ke hilir sehingga puncak banjir turun.

Di Aceh Singkil, akibat hutan yang rusak, sungai-sungai menjadi dangkal dan berlumpur. Akibatnya, debit air tak mampu ditampung sungai. Jika sebelumnya sungai mampu mengalirkan sejumlah air yang banyak, kini jalannya air kerap terhalang. Pemerintah juga perlu membuka lahan-lahan hijau, terutama di kawasan permukiman dan perkotaan. Selain untuk meningkatkan kualitas atmosfer, hal ini juga menunjang kelestarian air tanah. Dibutuhkan kemauan politik, lewat program pemerintah dan pengawasan di dewan, serta kemauan bersama dari berbagai pihak di Aceh Singkil untuk mengatasi banjir.

Harus ada regulasi yang tegas dan jelas. Regulasi yang menjamin tak ada pembukaan lahan sembarangan yang mengurangi tutupan hutan. Seluruh pihak di Aceh Singkil tak bisa menyerah dengan keadaan. Jangan biarkan daerah ini terus menerus dirundung banjir. Manusia diciptakan Allah SWT berbeda dengan binatang. Manusia dianugerahi akal dan hati. Maka, pergunakanlah sesuai peruntukannya.

*) Penulis adalah mahasiswa teknik lingkungan di UIN Ar-Raniry, pegiat pengelola sampah. Berkampung di Aceh Singkil.

Komentar

Loading...