Budayawan Tampar Pernyataan Megawati: Dia tak Cukup Pengetahuan

Budayawan Tampar Pernyataan Megawati: Dia tak Cukup Pengetahuan
Megawati. | Foto: Antara/Fikri Yusuf

"...Dia harus menilai Kota Jakarta dengan pengetahuan sejarah yang cukup sejak dari pembangunan pelabuhan Sunda Kelapa tahun 1540," kata Ridwan Saidi.

KBA.ONE, Jakarta-Budayawan Betawi Ridwan Saidi angkat bicara terkait pernyataan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri yang menyebut kondisi Jakarta saat ini amburadul. Menurut Ridwan, ucapan Megawati itu keliru jika melihat dari segi pembangunan dan tata kota.

Menurutnya, bila mau menilai Jakarta mestinya mengetahui awal pembangunan Sunda Kelapa.

"Kalau dilihat dari segi pembangunan daerah, dia salah. Dia tidak cukup pengetahuan untuk menilai Jakarta. Dia harus menilai Kota Jakarta dengan pengetahuan sejarah yang cukup sejak dari pembangunan pelabuhan Sunda Kelapa tahun 1540," kata Ridwan seperti dilansir laman VIVA, Kamis 12 November 2020.

Ridwan menjelaskan, ucapan amburadul juga keliru karena dari 1950 sampai dengan saat ini, Jakarta terus berkembang. Tidak ada istilahnya Jakarta makin mundur atau makin amburadul. Dia pun berguyon bilang Jakarta amburadul, tapi sebenarnya karena hanya bisa mengumpat di rumahnya.

"Saya khawatir mereka ini cuma ngumpat di rumahnya aja. Terus tebak-tebakan. Sebab, statement itu tidak ada dasarnya sama sekali. Terkesan mereka isolasi dirinya lalu katakan Jakarta begini, begitu ya enggak bisa dong," tutur Ridwan.

Menurut dia, Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur DKI Anies Baswedan makin rapi dan jadi kota yang modern. Dia pun menyinggung Pemprov DKI yang saat ini membangun stadion bertaraf internasional di Jakarta Utara yang menambah nilai kota Jakarta.

Pun, pembangunan di kawasan lain di Ibu Kota yang terus dilakukan Anies seperti Menteng dan Manggarai.

"Itu daerah Manggarai yang dimulai dari Sutiyoso dilanjutkan Anies tetap bagus. Ada sudut-sudut yang enak dilihat Jakarta. Daerah Menteng juga bagus. Daerah HI masuk ke Menteng bagus," ujar Ridwan.

Untuk diketahui, Megawati sebelumnya mengatakan di media kondisi Jakarta amburadul. Menurutnya, kondisi Ibu Kota negara saat ini berbeda saat ia dan keluarga awal pindah ke Jakarta dari Yogyakarta di era 1950-an.

Dia bilang demikian karena Jakarta tidak berhasil meraih penghargaan city of intellect atau kota intelektual. Penghargaan kota intelektual merujuk riset yang dipimpin Ketua Senat dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Hafid Abbas.

Sementara itu, predikat penghargaan tersebut diraih Kota Semarang, Solo, dan Surabaya. Megawati pun membanggakan tiga kota tersebut yang dipimpin kader PDIP selaku wali kota.

"Terima kasih yang jadi peringkat kesatu, kedua, dan ketiga, Semarang, Solo, Surabaya. Itu adalah anak-anak dari partai saya," kata Megawati dalam acara Dialog Kebangsaan Pembudayaan Pancasila dan Peneguhan Kebangsaan Indonesia di Era Milenial secara virtual, Selasa 10 November 2020.

Megawati pun menceritakan istilah kota ilmu pengetahuan itu diingatnya dicetuskan oleh ayahnya yang tak lain sang proklamator Presiden pertama RI, Soekarno atau Bung Karno. Saat itu, Bung Karno pertama kali memberikan predikat 'Kota Mahasiswa' saat menandatangani prasasti gedung UNJ pada 1953.

Terkait itu, ia mengaku memang menitipkan pesan kepada kader PDIP yang menjadi kepala daerah agar menjadikan suatu kota sebagai pusat ilmu pengetahuan dan peradaban sebuah bangsa.

"Saya bilanh ke Hendi ketika saya rekomendasi, tugasmu cuma satu, bikin Kota Semarang jadi bagus," ujar Presiden kelima RI tersebut.

"Sama juga sama Rudy di Solo. Saya tugasi, tolong bikin rakyat di Solo nyaman. Saya dengar universitas di sana ini juga buka bagian boga. Bayangkan Kota Solo itu makanannya enak-enak. Saya pernah diajak kawan saya, mau salat Subuh, kembali salat Subuh lagi, untuk wisata kuliner, rasanya enak dan murah meriah," lanjut Megawati.

Adapun penghargaan kota intelektual berdasarkan riset oleh tim yang dipimpin Ketua Senat dan Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Hafid Abbas. Ia pun menyayangkan, UNJ yang berlokasi di Rawamangun, Jakarta, belum masuk kategori City of Intellect. Padahal, pencanangan status tersebut atau prasasti pertama kali ada justru berada di sana.

"Jadi, para akademisi, saya mohon sangat, secara akademis kita melihat kita ini tujuannya mau ke mana," ujar Megawati.

Dia pun membandingkan kondisi Jakarta saat ini yang amburadul. Berbeda saat ia awal pindah ke Jakarta dari Yogyakarta pada 1950.

"Karena saya juga saksi hidup di Jakarta ini, tetapi sekarang Jakarta ini jadi amburadul. Karena apa? Seharusnya jadi City of Intellect bisa dilakukan. Tata kota, masterplan-nya, siapa yang buat? Tentu akademisi, insinyur, dan sebagainya," tutur Megawati. ***

Komentar

Loading...