Bunga Bank dan Riba

Bunga Bank dan Riba
Ilustrasi | Ist

Rasulullah SAW melaknat pemakan riba yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya.

KATA RIBA dalam bahasa Arab dapat berarti tambahan meskipun sedikit di atas jumlah uang yang dipinjamkan, hingga mencakup sekaligus riba dan bunga.

Riba dalam hal ini semakna dengan kata usury dalam bahasa Inggris, suku bunga yang lebih dari biasanya, atau suku bunga yang mencekik.

Secara garis besar, riba dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu riba yang berkaitan dengan utang piutang dan riba yang berhubungan dengan jual beli.

Dengan mengetahui macam-macam riba dan pengertiannya kita bisa mengetahui mengapa riba tidak diperbolehkan. “Kenapa riba sangat di haramkan oleh Allah SWT?”

Mengenai dosa riba, Rasulullah SAW menjelaskan dalam sebuah hadits berikut ini:

Dari Abi Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Jauhilah oleh kalian tujuh hal yang mencelakakan". Para sahabat bertanya, "Apa saja ya Rasulullah?". "Syirik kepada Allah, sihir, membunuh nyawa yang diharamkan Allah kecuali dengan hak, makan riba, makan harta anak yatim, lari dari peperangan dan menuduh zina." (HR. Muttafaq alaihi).

Disebutkan bahwa tidak ada dosa yang lebih sadis diperingatkan Allah SWT dalam Al-qur'an, kecuali dosa memakan harta riba. Bahkan Allah SWT mengumumkan perang kepada pelakunya. Hal ini tentu menunjukkan bahwa dosa riba sangat besar dan berat.

"Rasulullah SAW melaknat pemakan riba yang memberi, yang mencatat dan dua saksinya. Beliau bersabda: mereka semua sama." (HR. Muslim)

Harta riba kita dapatkan secara tidak sadar dari hasil menabung uang di bank yang disebut dengan bunga bank. Dalam kegiatan bank konvensional, terdapat dua macam bunga: Pertama, bunga simpanan, yaitu bunga yang diberikan oleh bank sebagai rangsangan atau balas jasa bagi nasabah yang menyimpan uangnya di bank, seperti jasa giro, bunga tabungan, atau bunga deposito.

Bagi pihak bank, bunga simpanan merupakan harga beli. Kedua, bunga pinjaman, yaitu bunga yang dibebankan kepada para peminjam atau harga yang harus dibayar oleh peminjam kepada bank, seperti bunga kredit. Bagi pihak bank, bunga pinjaman merupakan harga jual.

Sebagian ulama, seperti Yusuf Qaradhawi, Mutawalli Sya’rawi, Abu Zahrah, dan Muhammad al-Ghazali, menyatakan bahwa bunga bank hukumnya haram, karena termasuk riba. Pendapat ini juga merupakan pendapat forum ulama Islam, meliputi: Majma’ al-Fiqh al-Islamy, Majma’ Fiqh Rabithah al-‘Alam al-Islamy, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Jika harta yang kita dapatkan adalah hasil riba maka bisa kita bersihkan dengan cara :
Taubat melakukan riba; Mulai mencari rezeki halal; Menyadari dosa riba yang telah dilakukan.

Penulis: MUHAMMAD FERNANDO, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMSU Medan.

Komentar

Loading...